Jumat, 11 Desember 2009

PEMIKIRAN FRIEDRICH NIETZSCHE

Makalah ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas individu yang diberikan bapak DR. Akhyar Yusuf dalam mata kuliah Filsafat Ilmu Budaya.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Magister Management Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia.




PEMIKIRAN FRIEDRICH NIETZSCHE

Alasan pemilihan filsafat Nietzsche dalam makalah ini adalah ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak tentang riwayat hidup Nietszche dan pemikirannya. Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Selain itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis moderen Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.

Latar Belakang Filosofi Nietzsche
Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. Selain itu, Filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Dan juga Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis, yaitu Apolline dan Dionysian. Sehingga Nitzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Oleh karena itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.

Riwayat Hidup
Nietzsche merupakan tokoh yang menggali makna hidup manusia. Ia akhirnya menemukan bahwa eksistensi manusia berakhir pada absurditas. Ia melihat bahwa nilai-nilai yang dihayati manusia itu berasal dari kaum lemah yang akhirnya melemahkan dan memper¬budak manusia sejati. Karena itu, nilai-nilai yang sekarang dihayati manusia harus dirombak dan harus digantikan dengan nilai-nilai yang berasal dari kehendak manusia yang berkuasa. Nilai-nilai moral, religius itu omong kosong karena yang ada hanyalah nilai-nilai material, badani, duniawi. Marilah kita menyimak bagaimana filsuf ini mengemukakan pandangan-pandangan dan usahanya yang sangat revolusioner itu.
Friedrich Nietzshe lahir di Rohen Jerman pada tanggal 15 Oktober tahun 1844, lahir di Rocken, Prusia, Jerman Timur, di lingkungan keluarga Kristen yang taat. Ayahnya seorang pendeta Lutheran terkemuka dengan garis kependetaan yang terwaris dari turun temurun dari keluarga ayahnya. Kakeknya adalah pedeta Gereja Lutheran yang menduduki jabatan cukup tinggi, sementara ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat.
Nietzcshe menjadi anak yatim pada saat usianya 5 tahun, ibu, nenek, kakak-kakaknya serta tantenya yang memelihara dan mendidiknya. Sehingga dia tumbuh seperti pendeta cilik yang menghormati keteraturan, kerapihan dan kejujuran. Ia membenci teman-teman yang nakal, suka mencuri serta merusak milik orang lain. Di Univiersitas ia terkenal sebagai seorang peminat seni klasik dan mahasiswa filologi. Usia 18 tahun, ia mulai kehilangan kepercayaannya pada agama Kristen dan mulai mencari Tuhan dan kepercayaan baru. Sejalan dengan itu gaya hidupnyapun berubah total, ia mulai hidup bebas, tidak beraturan, pesta pora, mabuk-mabukan dan memuaskan hasrat seksualnya.
Beberapa waktu kemudian, ia kembali menjadi seorang agamis, yang mengatakan bahwa orang yang minum bir dan menghisap tembakau tidak memiliki pangan yang jernih dan pemikiran yang mendalam. Tahun 1865, ia membeli buku Schopenhauer, Die Welt als Wille und Vorstellung (1818) atau The World as Will and Idea (Dunia sebagai kehendak dan Ide). Buku ini memberikan semangat dan menghasilkan pemikiran spektakuler. Usia 23 tahun, ia bergabung dengan tentara untuk ikut perang tapi karena kesehatannya tidak mendukung ia kembali ke dunia ilmiah dan akademik.
Tahun 1869, usia 25 tahun, ia menjadi guru besar Filologi di Universitas Basel Swiss, ia sangat mengagumi musikus Richard Wagner. Disini dia bersahabat dengan Richard Wagner dan istrinya Cosima seorang komponis masyhur. Kemudian Nietzcshe membencinya karena Wagner dianggap tetap menjunjung tinggi agama. Tahun 1879, Nietzshe terpaksa pensiun karena sakit-sakitan lalu pindah ke Swiss. Sesudah itu, ia menggelandang di Swiss, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1889 ia sakit jiwa di Torino, Italia lalu dipelihara oleh ibu dan kakaknya. Nietzsche meninggal pada tanggal 25 Agustus 1900. Saat-saat terakhir hidup Nietzsche adalah saat yang paling tragis. Ia ditimpa sakit jiwa. Dan selama dua tahun terakhir masa hidupnya, ia sudah tidak dapat mengetahui apa-apa, dan tidak dapat lagi berfikir. Bahkan ia sudah tidak tahu lagi kalau ibunya meninggal.

Karya-karya Nietzsche
Karya-karya Nietszche dari tahun 1879-1910 adalah:
1. 1872 : Die Geburt der Tragodie aus dem Geistes der Musik
2. 1873-1876 : Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan non-kontemporer)
3. 1878-1880 : Menschliches, Allzumenschliches/ Human all, to Human (Manusiawi, terlalu manusiawi)
4. 1881 : Morgenröthe/ The Dawn of Day (Merahnya pagi)
5. 1882 : Die fröhliche Wissenschaft/ The Joyfull Wisdom (Ilmu yang gembira)
6. 1883-1885 : Also sprach Zarathustra (Maka berbicaralah Zarathustra)
Buku ini menyampaikan gagasan utamanya "Manusia Unggul dan Pengulangan Abadi"
7. 1886 : Jenseits von Gut und Böse (Melampaui kebajikan dan kejahatan)
8. 1887 : Zur Genealogie der Moral/ The Genecology of Moral (Mengenai silsilah moral)
9. 1888 : Der Fall Wagner (Hal perihal Wagner)
10. The Anti Crist, 1888
11. 1889 : Götzen-Dämmerung (Menutupi berhala)
12. 1889 : Der Antichrist (Sang Antikristus)
13. 1889 : Ecce Homo (Lihat sang Manusia)
14. 1889 : Dionysos-Dithyramben
15. 1889 : Nietzsche contra Wagner
16. 1910 : The Will to Power diterbitkan Anumerta, 1910

Buku-buku ini di tulis pada masa ia berkelana untuk mengobati berbagai penyakit yang dideritanya dan masa frustasi. Tahun 1888, ia didiagnosa gila oleh dokter karena tingkahlakunya makin aneh dan tahun 1900, ia meninggal dan tulisan-tulisannya berhasil di sunting oleh kakaknya Elizaberth.

Pemikiran Nietzcshe dalam Karyanya1. Die Geburt der Tragödie/ The Birth of Tragedy (Kelahiran tragedi)
Pemikiran Nietzsche tentang seni tertuang dalam bukunya Die Geburt der Tragodie aus dem Geistes der Musik (1872), yang dalam versi bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Birth of Tragedy out of the spirit of Music (Kelahiran Tragedi dari Semangat Musik). Di buku tersebut, Nietzsche menggambarkan tentang kesempurnaan kehidupan subjek dalam seni, dengan menampilkan dua roh yang saling memberikan kehidupan yang dinamis. Baginya, Apollonian dan Dionysian merupakan perpaduan yang dapat menghidupkan subjek dalam seni dalam rangka proses kesadaran manusia modern.
Dalam realitas Nietzsche, sejak era Sokrates hingga Hegel telah terjadi penghilangan satu roh, yaitu Dionysian. Dengan hilangnya Dionysian ini, maka matilah kehidupan subjek dalam seni, dan yang ada hanya sifat-sifat tunduk, indah, malu, tak percaya diri, dan dekadensi. Realitas matinya subjek dalam seni ini, telah mendorong manusia modern ke arah jiwa yang lemah, seperti penurut dan tunduk pada grand narrative. Dominasi Apollonian telah menjadikan manusia modern cenderung ke arah primasi rasio yang beridentifikasi. Proses identifikasi ini, menurut Nietzsche telah membelenggu manusia modern hingga ke tatanan decenden, proses penurunan drastis kesadaran manusia. Decenden inilah yang menjerumuskan pada ketidakbebasan manusia modern untuk berkreasi dalam seni. Seni disini telah terkungkung dalam lingkaran Apollonian yang membatasi ruang gerak kebebasan berekspresi. Apollonian tidak menyisakan ruang bagi adanya transvaluasi nilai. Apollonian telah mengantarkan kepada ide yang fiksatif yang diidentifikasi secara fixed yang dipejalkan dan dimapatkan sebagai yang final, yang transenden. Realitas ide fixed ini menurut Nietzsche sebagai puncak kematian subjek. Dalam ide fixed ini subjek dituntut tunduk pada yang Transenden, yang Ilahi. Di dalam suasana ide fixed ini kebebasan subjek hilang sama sekali, dan yang ada hanyalah kesadaran yang cogito. Pemikiran Nietzsche tentang kematian subjek dalam seni menyadarkan bahwa perkembangan seni tidak mengenal kata akhir. Dengan demikian selalu terbuka kritik membangun guna kemajuan seni. Nietzsche banyak mengilhami pelukis moderen Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann.

2. Die fröhliche Wissenschaft/ The Joyfull Wisdom (Ilmu yang gembira)
Metafora Nietzsche dalam satu bagian yang indah dari Die Frohliche Wissenschaft itu adalah pahlawan dan matahari. Mungkin orang macam itu termasuk yang oleh Zarathustra disebut sebagai “manusia tertuntas” yang datang ketika “bintang tak dilahirkan lagi”. Manusia macam ini bertanya sambil mengerdip, apa itu cinta, apa itu ciptaan, apa itu rindu, dan apa itu bintang. Ia jenis manusia yang membuat segalanya kecil; ia merasa menemukan bahagia dan kesejahteraan dalam hidup yang nyaman, di mana “setiap orang menginginkan hal yang sama, setiap orang sama, dan yang berpikir lain akan pergi sukarela ke rumah sakit jiwa”. Orang macam ini menolak untuk merangkum dan menempuh. Ia hanya “diri” yang definitif, titik tunggal, dari mana segala berangkat dan ke mana segala menuju: tidak mengalir, tidak membuka, tidak merasa berlebih, tidak memberi, tidak inklusif, untuk segala yang lain. Yang “tak sama”, yang “lain” yang “bukan-diri” hanya tersedia untuk dijadikan bagian dari “diri”: dalam arti tertentu, ditiadakan, ditaklukkan. Berbeda dengan si “orang kecil”, maka seseorang yang “memandang sejarah manusia dalam keseluruhan sebagai sejarahnya sendiri” tidak bertolak dan berhenti pada dirinya. Seperti sang surya, ia memberi sepenuhnya: ia memperkaya yang lain. “Dalam keadaan ini”, tulis Nietzsche dalam Gotzen-Damerung, “orang memperkaya segalanya dari kepenuhan dirinya sendiri: apapun yang ia lihat, apapun yang ia kehendaki, terlihat kembang, kencang, kuat, dengan tenaga yang melimpah-limpah.”
Itu semua bisa terjadi—menurut Nietzsche—jika kita bertaut kembali dengan kekuatan yang kita sebut yakni suatu tenaga, suatu daya, yang menumbuhkan kita dan menggerakkan sejarah: apa yang oleh Nietzsche sering hanya disebut sebagai “sang kehendak”—kependekan dari der Wille zur Macht, kehendak-untuk-kuasa. Saya barangkali bisa menganalogikan kehendak itu dengan libido Freudian, namun barangkali tidak sepenuhnya tepat. Betapapun, ketika Nietzsche mengatakan bahwa hidup adalah der Wille zur Macht, yang terkesan dari pasangan kata itu adalah tenaga yang mungkin tak bisa diartikan sebagai sesuatu yang psikis maupun yang fisik, tetapi yang menjelaskan kenapa dalam kehidupan ada gairah, nafsu, keberanian, syukur, rasa bahagia, belas kasih, pengetahuan, bahkan sikap zuhud dan pelbagai fenomen di dalam dan di luar alam manusia. Hidup hanyalah satu kasus yang istimewa dari kehendak-untuk-kuasa, kata Nietzsche: dengan itu kita memba¬yangkan, di balik benda dan bentuk, di dalam diri kita, ada suatu dorongan yang “menitahkan”, ada hasrat yang memotivasi, mendesak, merengkuh, menumbuhkan daya untuk menambah kekuatan atau kuasa—yang menyebabkan makhluk (dalam arti luas, dalam arti being, segala yang ada) mengubah, memperkukuh dan memperluas menjangkau ke luar, menggebu ke atas dan ke segala arah.
Para penafsir Nietzsche berdebat adakah “doktrin” tentang kehendak-untuk-kuasa itu suatu doktrin kosmologis atau bukan, suatu teori a priori atau suatu pengertian empiris yang datang dari proses penyimpulan dari pengalaman, atau jangan-jangan ia semacam penjelasan psikologis semata yang kemudian oleh Nietzsche dikenakan ke pelbagai hal. Yang ingin saya masalahkan tentu saja bukan itu di sini, melainkan adakah dengan semangat yang tersirat di sana Nietzsche menawarkan sesuatu yang lebih bisa meyakinkan tentang manusia dan emansipasinya.

3. Götzen-Dämmerung (Menutupi berhala)
Nietzsche dalam Jenseits von Gut rind Bose, tentang kehendak adalah “sesuatu yang kompleks yang kita hanya punya satu kata untuk menamakannya”. Sedangkan kesadaran menurut Nietzsche, kesadaran ada karena (atau sebagai sesuatu yang) dirumuskan “di bawah desakan perlunya komunikasi”. Kebutuhan akan komunikasi memerlukan “sesuatu yang mantap, yang dibuat sederhana, bisa diukur persis”. Dengan demikian dunia yang disadari adalah “dunia yang dibuat sama untuk siapa saja”, “hanya sebuah permukaan-permukaan”, dan “lebih kikir”. Lebih kikir, karena tiap saat sebenarnya kita berpikir terus menerus tanpa kita sadari, namun hanya bagian yang paling permukaan dari pemikiran itu saja yang masuk ke kesadaran. Bahan-bahan yang disediakan pancaindera, “direduksikan hingga jadi garis besar yang kasar, dibuat sama”. Dibawa dan dikemas oleh kesadaran dan untuk kesadaran, sifat kabur dan kacau dari kesan-kesan yang diterima lewat penginderaan pun ditertibkan, dikendalikan, diamankan. Maka jadilah konsep, dan semua mengikuti logika, menuruti sistem—dan tidak lagi hidup dalam khaos dan dalam spontanitas pradiskursif (“pra-telaah”), tak lagi hidup dalam galau dan gairah primal.
Lalu, manakah yang hendak kita akui sebagai yang benar: hidup dengan kesadaran, sebagai kekuatan yang menjaga ketertiban dan keamanan dunia? Ataukah hidup dengan khaos? Nietzsche, dengan sedikit berlebihan, memang pernah mengatakan bahwa “kita memiliki seni agar kita tidak punah oleh kebenaran”, dan kita ingat pelbagai cemoohnya kepada para filosof, yang dianggapnya seperti vampir: menghisap darah kehidupan. Apa gerangan yang mendorong dan yang merangsang semangat “orang-orang yang paling arif”, kalau bukan “kehendak-untuk-kebenaran”, yang sebenarnya, seperti dikatakan oleh Zarathustra, adalah satu ekspresi dari kehendak-untuk-kuasa juga, tapi dengan arah yang berlainan? Kehendak itu, ujar Zarathustra, adalah kehendak untuk membuat segala yang ada dapat dipikirkan, dapat dikonsepkan, sehingga segala hal yang ada “menyerah dan merunduk, menyediakan diri kepadamu”, menjadi rata-licin bagaikan cermin di mana pikiran sang filosof dipantulkan. Untuk memperoleh cermin itu, yang kacau, hidup, dan berubah-ubah, yang berbeda tak habis-hahisnya, (Nietzsche berbicara khususnya tentang khaosnya data-data penginderaan), harusnya disederhanakan dan ditata. Dengan cara itu khaos dan hidup sebenarnya ditampik. Kehendak-untuk-kebenaran sebab itu mungkin lebih dekat kepada ideal “asketik”. Manusia umumnya tak tahan dengan eksistensi yang galau dan dengan sesuatu yang tak bisa dijangkau, dan ingin menyulapnya.

4. Jenseits von Gut und Böse (Melampaui kebajikan dan kejahatan)
Nietzsche menyimpulkan dalam Jenseits von Gut and Bose. “…dalam semua hasrat untuk tahu, selalu ada setitik kekejaman”. Hasrat untuk tahu akhimya mengandalkan diri pada konsep, dan setiap konsep tumbuh dari penyamaan apa yang sebenarnya tidak sama, dari penghapusan yang individual untuk dicetak jadi yang general, di mana pelbagai macam daun dengan pelbagai macam harum dan pelbagai macam bentuk dan wama, (yang masing-masing berganti tiap hari dan tiap musim), akan bisa jadi satu, kekal, tetap, ketika diletakkan dalam konsep “daun”. Dengan konsep, sesuatu pun dipatok, dibatasi, ditampilkan sebagai sesuatu yang rapi dan konstan, hingga, melalui kesepakatan sosial, bisa diterima untuk bertukar pikiran.
Ada sesuatu yang sama-sama represif di sana terhadap yang tidak-sama, yang aneka, yang kualitatif dan yang indrawi. Bisakah kita merdeka hanya dengan memilih dunia dalam pengalaman estetik, seraya kita ogahi pemikiran diskursif, kita remehkan tuntutan praktis yang mendorong kita membangun konsep? Pada Nietzsche ada kecenderungan memuja para kesatria jaman lama, dan kerinduan kembali kepada masa yang aristokratik.

5. Zur Genealogie der Moral/ The Genecology of Moral (Mengenai silsilah moral)
Dalam Zur Genealogie der Moral (terbit 1887), Nietzsche menyebut akan datangnya “manusia masa depan”, yang akan “menebus dari ideal yang berkuasa sampai sekarang” (ideal, dalam arti asas, konsepsi atau tujuan tentang apa yang sempurna dan layak untuk diundi), yakni ideal yang pada dasarnya memandang hidup, kenikmatan, khaos, keragaman dan avonturnya, sebagai sesuatu yang harus dijauhi, bahkan ditampik, karena layak dicurigai sebagai sesuatu yang menyesatkan. Bagi ideal ini, semua yang ada di dalam hidup itu semuanya yang fana, tak bisa dijadikan pegangan. Maka ideal “asketik” atau “zahid” ini pun mengutamakan sikap menahan diri dari gairah hidup, seperti yang didapatkan terutama dalam tema Budhisme, dalam ajaran para padri dan rohaniawan. Bagi ideal ini, hidup tak punya harga dalam dirinya sendiri. Tapi tidak berarti manusia harus jatuh ke dalam “nihilisme yang bunuh diri”. Sebab, sabda para padri, nun di balik sana dari dunia yang sekarang, jika kita bisa menahan diri dengan sempurna kelak akan ada nirwana atau surga. Hidup punya arti, lantaran ada sebuah “kelak” yang seperti itu.
Tapi bagi Nietzsche, ideal “asketik” hanya mengandung dendam, mungkin benci. Sebab itu “manusia masa depan”-nya akan menebus dari ressentiment itu: ia akan datang ibarat “dentingan genta yang menandai siang dan keputusan besar yang akan membebaskan kehendak kembali, memulihkan tujuannya ke bumi dan mengembalikan harapan dirinya kepada manusia”. Nietzsche menyebut “manusia masa depan” itu sekaligus “antikristus” dan “antinihilis”, “pemenang atas Tuhan dan atas ketiadaan”. Nietzsche menghadirkan Zarathustra sebagai sebuah ideal tandingan.

6. Pemikiran Nietzsche tentang tuhan mati (God is Dead)
Pemikirannya tentang Tuhan mati, tertera dalam karyanya yang berjudul Zarathustra (bukan tokoh agama terkenal di Iran, hanya nama hayalan saja untuk orang bijaksana). Ia menggambarkan Zarathustra yang telah lama bertapa di atas gunung kemudian turun dan, ketika melalui seorang yang sedang bertapa di suatu tempat, berkata : “Aneh orang ini belum tahu kalau Tuhan telah mati…”. Kemudian di kota, Zarathustra masuk ke dalam pasar dan menuduh orang banyak telah membunuh Tuhan. Lengkapnya dapat diperhatikan sebagai berikut :
Si gila. Tidakkah kalian dengar tentang si gila yang menyalakan sebuah lentera pada jam-jam pagi yang terang benderang; ia lari masuk pasar dan berteriak: Saya mencari Tuhan! Saya mencari Tuhan! Si gila terbahak-bahak kegirangan di tengah-tengah orang banyak yang berdiri. Mereka sudah tidak percaya kepada Tuhan. Seorang di antara mereka berkata: Apakah ia telah tersesat seperti seorang bocah? Atau bersembunyikah ia? Takutkah ia kepada kita? Mengembarakah ia? Atau telah pindah? Demikianlah ocehan mereka sambil tertawa. Si gila kemudian meloncat ke tengah mereka dan menembus mereka bersama lenteranya. Dia berteriak: Kemanakah Tuhan larinya? Aku akan jelaskan kepadamu semua. Kita telah membunuhnya kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuh… Bukankah lentera harus dinyalakan ketika pagi? Belumkah kita dengar para penggali pusara yang sedang menguburkan Tuhan? … Tuhan telah mati. Tuhan tetap mati… (God is dead. God remains dead).
Ungkapan Nietzsche itu menurut Karel A. Steenbrink, ada yang menyatakan bahwa Nietzsche hanya mengemukakan bahwa dalam kebudayaan pada zamannya Tuhan telah mati dalam hati manusia. Saat itu yang dipentingkan hanyalah materi belaka, apalagi cara berpikirnya didominasi oleh ilmu pasti alam telah menjauhkan manusia dari kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan. Kecuali itu, ada yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan kritik Nietzsche kepada agama Kristen, yang umumnya melarang kekayaan, seks dan seni. Di semua bidang ini, agama memberikan petunjuk yang umumnya bersifat larangan semata. Agama tidak membina manusia menjadi pribadi yang aktif dan bertanggungjawab. Dasar kepercayaan adalah kelemahan, sehingga manusia harus menyerahkan diri kepada Tuhannya dan harus taat kepada petunjuk yang datang dari luar dirinya. Maka agama Kristen merupakan hambatan bagi perkembangan pribadi manusia untuk menjadi manusia super dan Uebermensch.
Dari interpretasi karya Nietzsche itu, pada tahun 1960-an, teologi di Eropa dan Amerika Utara timbul puluhan karangan yang berpangkal dari anggapan bahwa Tuhan telah mati dan bahwa masih bisa dilanjutkan suatu agama tanpa Tuhan. Dan ada yang hendak mengarang teologi yang tidak terfokus kepada Tuhan, tetapi terfokus kepada Yesus. Bagi mereka “Tuhan telah mati” merupakan petunjuk penyaliban Yesus dan penderitaan sesama manusia di dunia ini. Dan juga ada yang hendak mengkritik ide teis tentang Tuhan dan hanya ingin menyempurnakannya, tetapi dengan menggunakan kata-kata yang keras dan kontroversial.
Ungkapan Nietzsche tersebut merupakan ekspresi krisis manusia sekuler dalam hubungannya dengan konsepsi tentang Tuhan. Skeptisisme Nietzsche ini sebenarnya merupakan rumusan tajam tentang implikasi pandangan hidup ateistik-nihilistik dari humanisme sekuler yang melanda umat manusia. Di sini terlihat kelemahan teologi Kristen yang melalui usahanya untuk menerapkan ide baru dan mendekati kebudayaan modern, kadang-kadang menghasilkan banyak ide yang saling bertentangan. Memang di Barat ditemukan: “In God We Trust”, kepada Tuhan kami percaya – di atas mata uang mereka (Amerika). Tetapi, tidak ada hubungan organiknya dengan kehidupan praktik mereka. Hal ini akan tampak pada kebijaksanaan yang diambil oleh pemegang kekuasaan dan politik luar negeri mereka, ternyata mereka tidak mengambil etik dari ungkapan tersebut. Mereka meneriakkan Principles of Human Right, prinsip-prinsip hak asasi manusia, tetapi kepada negara lain, mereka tidak segan-segan menyokong setiap rezim yang paling tirani sekalipun, asal rezim ini memihak mereka, menguntungkan mereka. Jadi bukan lagi pertimbangan double standard yang dipakai, tetapi multiple standard, standard etik sudah tidak ada lagi. Seperti pembelaan mereka terhadap Israil, perseteruannya terhadap Irak, Libia, sikap mereka terhadap Bosnia dan sebagainya. Demikian itu, karena mereka berpegang pada dua prinsip, yaitu:
a. Sesuatu harus dikerjakan jika secara teknis memang mungkin untuk dikerjakan, something has to be done when it is technically possible to do it. Membuat bom nuklir mungkin secara teknologis, maka mereka lakukan. Soal akibatnya di luar pertimbangan.
b. Semakin banyak engkau menghasilkan sesuatu dan semakin banyak engkau konsumsi, adalah semakin baik, the more you produce, the more you consume, the better. Jadi hidup adalah hidup yang konsumtif, dan ini merupakan penyakit yang telah menyebar ke mana-mana, terutama di kalangan pemegang kekuasaan politik dan ekonomi tanpa mempertimbangkan kepada yang hidup di bawah garis kemiskinan.6
Tragedi Nietzsche itu merupakan fenomena intelektual di Barat, dimana agama gagal dalam memberikan jawaban yang memuaskan terhadap tuntutan intelektual manusia yang mencari sesuatu di balik yang ada ini. Betul Nietzsche, bahwa secara simbolik Tuhan telah mati di Barat. Sebab orang sudah tidak menghiraukan tindakan moral apapun. Yang ada adalah etik yang situasional dan individual. Tidak ada etik yang bersumber dari wahyu, yang berlaku secara universal yang menyebabkan orang Barat telah kehilangan kiblat yang sebenarnya.7 Jadi, Nietzsche sebenarnya masih merindukan sesuatu yang bermakna, meskipun ia telah menjadi agnostik, jika tidak ateis. Keadaan di Barat tersebut, dapat terjadi di mana saja, termasuk di dunia Islam jika masyarakatnya telah meninggalkan ajaran wahyu. Untuk itu dalam zaman modern yang ditandai dengan rasionalisme, humanisme dan perubahan yang cepat, serta post modern yang ditandai dengan tidak adanya hal yang definitif, maka umat Islam harus bisa menjaga diri dengan sikap istiqamah, dalam arti teguh hati dan konsisten atas ajaran wahyu, seperti diungkapkan firman Allah SWT : “Dan bahwasanya: Jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)”.8 Air adalah lambang kehidupan dan kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten di jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang bahagia.

7. Nihilisme
Nihilisme adalah sebuah kepastian peradaban. Inilah yang ingin disampaikan Nietzsche kepada dunia, dunia yang ketika itu ia tinggali, Eropa, dan yang akan menjadi arus utama peradaban dunia mendatang. Nietzsche menggunakan nihilisme sebagai nama bagi sebuah pergerakan kesejarahan yang dialah kali pertama menyadari hal tersebut dan yang telah mengendalikan abad sebelumnya sementara mendefinisikan abad yang akan datang. Dialah yang mengatakan untuk pertama kali sebagai seorang nihilis sejati Eropa. Bukan karena pilihan, tapi oleh keadaan, dan karena dia terlalu besar untuk menolak warisan masanya. Bersama Nietzsche, Nihilisme nampaknya menjai sesuatu yang profetik. adalah–lebih awal dari nabi–seorang pendiagnosa. Pendiagnosa memiliki kesamaan dengan nabi–keduanya berfikir dan beroperasi dalam jangkauan masa depan. Nietzsche seorang filsuf Jerman yang mampu melihat laju pergerakan sejarah manusia menuju kiamat, dan ia selalu berbicara tentang kiamat itu, tidak dalam kerangka untuk memujinya, namun untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijkkan, dan dalam aspek kalkulatif, kiamat ini akhirnya akan mengasumsikan, tapi dalam kerangka untuk menghndarinya dan mentransformasinya dalam sebuah renaisssance.
Nihilisme merupakan sebuah renungan, renungan yang pada intinya adalah sebuah renungan tentang munculnya krisis kebudayaan pada masa itu, di Prusia-Jerman, dan juga Eropa secara keseluruhan. Nietzsche mendiagnosa dalam dirinya dan orang lain ketidakmampuan untuk meyakini dan juga ketiadaan kemunculan/kehadiran fondasi primitif dari semua keyakinan–sebut saja keyakinan dalam hidup. Nietzsche melukiskan bahwa gerak kebudayaan Eropa pada waktu itu bagaikan aliran sungai yang menggeliat kuat saat mendekati bibir samudra. Metafor ini ditujukan kepada orang-orang Eropa yang “tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenung.” Inilah satu dari ratusan tanda datangnya Nihilisme. Nietzche merengkuh dengan pandangan profetik tentang telah dekatnya keruntuhan dukungan tradisional dari berbagai nilai yang mana manusia modern telah mengikatkan diri padanya. Gairah optimisme lebih jauh dihidupkan oleh kemajuan gemilang dari sains dan teknologi. Dengan berani Nietzsche meramalkan bahwa kuasa politik dan perang-perang kejam akan terjadi dimasa depan. Apa yang ia rasakan adalah semakin mendekatnya periode nihilisme, benih-benih telah ditabur.
Fakta terbesar baginya bukanlah kekuatan militer ataupun terbukanya tabir-tabir kemajuan ilmu pengetahuan tapi lebih pada sebuah fakta bahwa kepercayaan dalam “Tuhan Kristen” telah secara drastis menurun hingga pada titik dimana ia bisa mengatakan dalam istilah singkat-tepat: “God is dead/Tuhan sudah mati.” Yakni untuk mengatakan, “Tuhan Kristen” telah kehilangan kuasa dan determinasiNya terhadap manusia. “Tuhan Kristen” dalam hal ini juga menjadi wakil untuk yang “transenden” dalam maknanya yang umum maupun dalam maknanya yang beragam–yang “ideal” dan “norma,” “prinsip” dan “aturan,” “Tujuan” dan “nilai,” yang diletakkan diatas manusia dengan maksud untuk memberi manusia sebuah keseluruhan tujuan, sebuah tatanan, dan–yang terekspresikan secara singkat dengan–makna/meaning.” Nihilisme merupakan proses kesejarahan dimana dominansi dari yang “Transenden” menjadi kosong dan tidak ada, sehingga seluruh makhluk kehilangan nilai/harga dan makna. Nihilisme adalah sebuah sejarah manusia itu sendiri, melalui kematian “Tuhan Kristen” itu sendiri dimana secara perlahan menuju kepastian.
Bertentangan dengan berbagai pendapat dari para kritikus Kristen, Nietzsche tidaklah menyajikan sebuah proyek untuk membunuh Tuhan. Dia menemukanNya mati dalam jiwa orang-orang masa kini. Dialah orang yang kali pertama memahami besarnya kepentingan dari peristiwa tersebut dan memutuskan bahwa pemberontakan ini diantara orang-orang tidak dapat menuju renaisssance kecuali jika ia dikendalikan dan diarahkan. Seluruh sikap lain yang mengarah pada hal tersebut, apakah ia disesali atau hanya untuk kepuasan sendiri, harus mengarah pada kiamat itu. Dengan demikian Nietzsche tidak menformulasi sebuah filsafat tentang pemberontakan, tapi mengonstruksi sebuah filsafat yang memberontak.
Nietzsche sendiri memahami filsafatnya sebagai sebuah pengenalan kepada sebuah era baru. Dia memimpikan masa yang akan datang–yakni, masa yang sedang berjalan sekarang, abad keduapuluh–sebaga start dari sebuah era yang pergolakannya tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang telah dikenal sebelumnya. Meskipun pemandangan dari teater dunia ini masih tetap sama, namun permainan dalam performanya akan menjadi berbeda. Faktanya adalah bahwa tujuan-tujuan awal sekarang menjadi hilang dan nilai sebelumnya terdevaluasi dialami tidak hanya sebagai sekedar penghancuran dan disesalkan sebagai percuma dan salah, tapi ia dimaknai sebagai sebuah liberasi, dipuja sebagai sebuah pencapaian yang tak munkin kembali lagi, dan dipersepsi sebgai pemenuhan. Nihilisme adalah sebuah meningkatnya kebenaran dominan bahwa semua tujuan utama dari manusia telah menjadi berlebihan, sia-sia. Tapi transformasi ini dari relasi sementara kepada nilai yang mengendalikan, nihilisme telah juga menyempurnakan dirinya untuk tugas yang bebas dan murni dari sebuah penilaian baru. Nietzsche menggambarkan “metafisika”nya dengan nama ini dan menyusunnya sebagai serangan terhadap semua metafisika yang ada sebelumnya. Nama nihilisme kemudian kehilangan makna yang berupa sekedar kerangka penghancuran yang mana itu berarti perusakan dan pemusnahan nilai-nilai yang ada sebelumnya, hanya sekedar penegasian dari yang ada dan kesia-siaan sejarah manusia. “Nihilisme” mengindikasikan kebebasan dari nilai-nilai sebagai kebebasan untuk menilai ulang nilai-nilai. Nietzsche menggunakan ekspresi “revaluation of all values hitherto” berdampingan dengan kata kunci nihilisme sebagai rubrik utama yang dengannya ia meletakkan posisi metafisika fundamentalnya tempat definitnya bersamaan dengan sejarah dari metafisika-metafisika Barat.
Dari “penilaian ulang nilai-nilai (revaluation of values),” kita memperkirakan bahwa nilai-nilai tergantikan dipostulatkan ditempat yang sebelumnya. Tapi bagi Nietzsche “revaluasi” berartai bahwa “tempat” untuk sebelumnya itu sendiri hilang, tidak sekedar nilai itu sendiri jatuh. Hal ini secara tidak langsung, bahwa hakikat dan arah dari penilaian, dan definisi dari esesnsi nilai tertransformasikan. Revaluasi berpikir Ada untuk pertama kali sebagai nilai. Dengannya, metafisika mulai menjadi pemikiran nilai. Bersamaan dengan transformasi ini, nilai utama tidak sekedar mengalah/mati untuk devaluasi, tapi diatas itu semua, kebutuhan atas nilai dalam bentuk awal dan tempat sebelumnya–yakni untuk mengatakan, tempat mereka dalam yang transenden–dicerabut. Pencerabutan masa lalu membutuhkan penggantian secara pasti dengan penguatan penumbuhan ketidakpedulian dari nilai kuno dan dengan penghapusan sejarah melalui sebuah perevisian ciri-ciri dasarnya. “Revaluasi nilai utama” terutama adalah memorfosis dari semua penilaian dari dulu hingga sekarang dan “pelahiran” dari sebuah kebutuhan terhdap nilai-nilai. Jika esensi metafisika berdasar pada pendasaran kebenaran dari manusia sebagai keseluruhan, maka The revaluation of all values, sebagai pendasaran dari prinsip untuk sebuah penilaian baru, adalah metafisika itu sendiri. Apa yang Nietzsche rasa dan postulasikan sebagai karakter dasar dari manusia sebagai keseluruhan adalah apa yang ia sebut dengan “will to power (kehendak akan kuasa).” Konsepnya tidak sekedar membatasi apa seorang manusia dalam mengadanya adalah: Frase Nietzsche, will to power, yang dalam berbagai hal menjadi familiar, berisi interpretasinya dari esensi kuasa. Setiap kuasa adalah kuasa hanya selama ia lebih kuasa; yakni untuk mengatakan, sebuah peningkatan dalam kuasa. Kuasa dapat mempertahankan dirinya dalam dirinya, yakni, dalam esensinya, hanya jika ia mengambil alih dan menguasai tingkatan kuasa yang telah dicapainya–overpowering/melampaui kuasa adalah eksprei yang digunakan. Segera setelah kuasa berada pada sebuah tingkat kuasa tertentu, ia kemudian menjadi powerless/tak berkuasa. Will to power tidak sekedar bermakna hasrat “romantis” dan petualangan oleh mereka yang tidak punya kuasa; lebih pada, will to power bermakna pertumbuhan kuasa oleh kuasa demi pelampauian kuasa.
Will to power adalah sebuah nama tunggal untuk karakter dasar dari manusia dan esensi kuasa. Nietzsceh seringkali mensubstitusi “daya/force” untuk will to power dalam sebuah cara yang seringkali disalahpahami. konsepsinya tentang karakter dasar dari manusia sebagai will to power bukanlah penemuan atau tingkah dari seroang pelaku fantaswan yang telah tersesat dari mengejar chimeras (ide-ide yang tak masuk akal). Itu adalah pengalaman fundamental dari seorang pemikir/thinker; yakni, satu dari para indvidual yang tidak mempunyai pilihan kecuali untuk mencari kata-kata untuk apakah seorang manusia pada hakikatnya dalam sejarah dari pengadanya (Being). Setiap manusia, sejauh sebagaimana adanya, dan adalah sebagai hal itu, adalah will to power. Karena semua manusia sebagai will to power–yakni, sebagai pelampauian kuasa diri yang tak putus-putusnya–harusnya menjadi seorang “becoming” yang terus menerus, dan karena becoming yang demikian tidak dapat bergerak menuju sebuah akhir diluar dirinya yang lebih jauh dan seterusnya, tapi adalah secara tak henti-hentinya masuk dalam peningkatan siklis atas kuasa dimana ia kembali, kemudian menjadi manusia secara keseluruhan juga, ketika penyesuaian-kuasa kemenjadian, dirinya harus selalu mengulang lagi dan menghadirkan yang sama. Dengan demikian. Karakter dasar dari manusia sebagai will to power adalah juga didefinisikan sebagai an eternal recurrence of the same. Yang akhir ini menentukan rutbrik utama yang lain dalam metafisika Nietzsceh dan, lebih lagi, secara tidak langsung berdampak sesuatu yang esensial: hanya melalui esensi tersusun yang adekuat tentang will to power dapatlah ia menjadi jelas mengapa Ada dari manusia sebagai sebuah keseluruhan harus menjadi keterulangan abadi yang sama (the eternal recurrence of the same). Demikian juga sebaliknya: hanya melalui esesnsi the eternal recurrence of the same dapatlah esensi paling pusat dari will to power dan berbagai kebutuhannya diperoleh.

8. Also sprach Zarathustra (Maka berbicaralah Zarathustra)
Ada 2 konsep penting yang dikemukakan Nietzcshe melalui bukunya Thus Spake Zarathustra, 1884 yaitu Kembalinya Segala Sesuatu (eternal recurrence of the same) atau pengulangan abadi serta uberbermensch (overman, superman). Nietzcshe menyatakan bahwa segala sesuatu pergi segala sesuatu datang kembali berputarlah roda hakekat itu secara abadi. Konsep ini juga mengemukakan tentang alam yang tidak berawal dan berakhir. Masa depan kita ditentukan sendiri oleh pikiran-pikiran tindakan kita sekarang. Alasannya adalah karena ini dapat mendorong manusia untuk mencari kebahagiaan dalam hidup karena kebahagiaan itu kelak berulang lagi sehingga manusia tidak perlu takut mati.

9. Götzen-Dämmerung (Menutupi berhala)
Nitezsche dalam Gotzen-Dammerung di tahun 1889, tentang gairah hidup dan kemerdekaan pudar. Gemanya masih hingga kini, rasa kecewa terhadap alternatif yang ditawarkan oleh Marxisme.

10. Ubermensch
Ubermensch adalah manusia super yang menentukan sendiri makna dan tujuan hidupnya, sebagai pengganti manusia yang ditentukan oleh Tuhan yang sudah mati. Ada istilah lain yang sama maksudnya dengan konsep ubermensch Nietzsche yaitu der letzte mensch atau the last man atau manusia terakhir. Manusia unggul adalah upaya untuk mencapai terus menerus keunggulan manusia. Tracy B. Strong menjelaskan bahwa sikap Zarathustra dibentuk dari sintesa Yesus dengan Socrates. Socrates kritis terhadap kebiasaan-kebiasaan lokal yang ada pada kebudayaan yunani dengan metode dialektis yang menyatakan tidak pada segala sesuatu. Yesus tumbuh besar dilingkungan kekafiran.
Super manusia adalah manusia yang tahu mengikuti dan langsung sambung pada irama tari hidup. Dialah yang menerima seluruhnya, dialah yang menghargai seluruhnya, dialah yang mengagungkan seluruhnya, dialah yang tidak pernah menolak apa-apa yang dianu¬gerahkan oleh hidup yaitu baik maupun buruk, indah maupun buruk, suka maupun duka. Super manusia merupakan formula sesanti dari penegasan "ya" penuh yang lahir dari kepenuhan diri yang samasekali tidak pernah mau peduli dengan duka sendiri, kesalahan sendiri, problem, dan masalah eksistensi. Untuk dapat mencapai manusia super, manusia mesti melewati metamorfosis ganda, yaitu:
a. metamorfosis pertama, akan mengubah eksistensi unta berbeban dan mudah taat (yaitu manusia baik, rendah hati, tunduk, religius, moralis) menjadi singa yang agresif (yaitu roh kebebasan, otonom, tuan pada diri sendiri, penentu mutlak tindak-tanduk dan perbuatannya sendiri).
b. metamorfosis kedua, akan mengubah manusia dari singa yang ganas tadi menjadi kanak-kanak murni yang selalu mengagumi dan mencintai realitas dalam semua ungkapannya dan sisinya. Ia akan berseru gembira dan menyatu dengan hidup.
Hidup yang dipunyai manusia super dalam ujudnya yang paling penuh pada saat yang sama mempunyai pula hukum-hukumnya yang tegas yang oleh Nietzsche diungkap dengan istilah eterno ritorno (pulang ke keabadian). Artinya semua yang ada secara abadi kembali dan kita juga kembali. Kita sudah menyatu dengan semua dan semua ke kita. Hadirlah tahun menjadi yang sama dengan sebuah roda putar. Semua harus membalik lagi agar selalu dapat habis. Pada dentang waktu tersebut semua tahun sama baik yang besar maupun yang kecil. Semua akan kembali lagi, berputar lagi secara abadi dalam lingkar putar eksistensi. Semua akan mati dan akan bangkit lagi. Semua yang pecah berkeping-keping akan diutuhkan kembali. Secara kekal semuanya akan membangun rumah yang sama dari eksistensi. Semuanya saling dipisahkan dan diruntuhkan lagi. Yang selalu setia pada diri sendiri adalah domba eksistensi. Pada setiap penantian, waktu dan eksistensi kembali mulai berputar lagi . Lautan kehidupan tidak dapat melahirkan selain menjadi rahim dari serentetan eksistensi. Itu pun selalu membaharui diri kembali secara kekal dalam roda tertutup dan putar yang pasti.
Dalam hukum kembali ke keabadian kekal tentu saja termasuk manusia di dalamnya, baik manusia kecil maupun besar, baik pengecut, baik, pemberani, maupun manusia super. "Manusia secara kekal kembali! Manusia yang lebih najis, rendah akan kembali juga" , manusia super juga akan kembali secara kekal karena keduanya ambil bagian dalam tari irama kehendak kuasa dari kehidupan. Figur simbol dari yang "ya" terhadap hidup yang terus berputar kembali secara abadi mempunyai model¬nya, yaitu Dionisius. Di sini kuletakkan Dionisius dari orang-orang Yunani, yaitu penegasan "ya" tegar yang religius terhadap dunia dari dalam hidup tanpa satu titik "tidak" pun. Dionisius adalah simbol waktu dari hidup yang penuh dan dari penerimaannya yang riang terhadap hidup. Dionisius melambangkan becoming (menjadi) hal-hal yang dalam kebutuhan serta kemendesakannya menyatakan seluruhnya menjadi satu baik duka nestapa maupun suka cita, ketakutan maupun keberanian, cinta maupun dengki. Di samping itu Dionisius melam¬bangkan pula kondisi manusia super yang menerima semua ekspresi saling bertentangan dari eksistensi dengan penuh syukur (BM 80). Dalam kerangka karyanya "Perubahan/penggantian nilai-nilai," Nietzsche secara sistematis menyusun perlawanan dan perang tanding antara figur Dionisius dengan tokoh Kristus. Nietzsche mau mengungkapkan motif yang menunjukkan ungkapan yang paling menyeluruh dari nihilisme, sikap "tidak" terhadap hidup, roh menyerah, takluk serta penyangkalan diri.
Bisa dikatakan bahwa Dionisius adalah Tuhannya Nietzsche. Dalam salah satu karyanya yang terakhir Nietzsche menulis, "Setelah mendapat pukulan terberat palu dari Tuhan Yesus, juga setelah matinya Tuhan dari orang-orang Kristiani, dewa-dewa baru masihlah mungkin muncul (Nietzsche sendiri tiap kali mengingatkan naluri religius, yaitu naluri hidup bagi dewa-dewa baru tersebut). Di sini Nietzsche melancarkan perang pembasmian melawan nilai-nilai absolut serta melawan ideologi-ideologi pokok yang mendasari nilai-nilai tersebut, yaitu filsafat, moral, agama, (Kristiani). Tuduhan pokok Nietzsche terhadap filsafat, moral, agama Kristen yang mendukung nilai-nilai absolut adalah karena ketiga-tiganya membentuk dan membina dusta kolosal yang membelenggu umat manusia dan menghalanginya untuk meneguk cawan kehidupan secara bebas. Ia mengatakan dustalah kalau ada nilai-nilai mutlak lain di luar hidup ini, dustalah nilai-nilai transenden di seberang hidup sekarang kini ini, dustalah bila dikatakan bahwa ada jiwa/roh abadi dalam diri manusia, dalam tubuhnya, dustalah bila dikatakan ada dunia akherat yang spiritual di seberang dunia material yang ada di depan mata ini, dan terutama dustalah bila ditegaskan bahwa manusia tidak mampu menjadi yang tertinggi lantaran di atas manusia hanya ada Tuhan.
Menurut Nietzsche, moral merupakan gumpalan kondisi-kondisi pemelihara manusia-manusia malang, lemah sebagian atau gagal seluruhnya. Dari buku ini jelaslah bahwa Nietzsche sebenarnya mau memaklumkan perang terhadap moral karena moral merupakan wujud paling laknat dari kehendak dusta yang mengajari untuk menilai rendah dan meremehkan naluri-naluri dasariah pokok dari hidup. Moral hanya mengajar nilai-nilai dekaden, keruntuhan sebagai nilai-nilai tertinggi. Moral mengajak untuk mendorong orang berlaku dan melaksana¬kan tindak-tanduk muluk yang tidak ada karena tidak adalah tindakan altruis itu, tidak ada pulalah tindakan suci. Moral mengajar keutamaan-keutamaan yang tidak ada (jiwa, roh, kehendak bebas). Moral juga mengajari hakekat-hakekat yang tidak ada, misalnya Tuhan, malaekat. Moral mendidik manusia pada ordo yang tidak ada. Adakah ordo moral di dunia dengan hadiah/pahala dan hukuman? Dengan semua ajaran dan petunjuk dusta ini, moral merendahkan, malahan meniadakan:
a. nilai sungguh-sungguh dari tindakan manusia yaitu egoistis.
b. nilai tubuh.
c. tipe-tipe manusia yang sungguh-sungguh berharga, bernilai, naluri-naluri manusia yang berharga.
d. seluruh motif dan dasar hidup yang bertolak dari mau tahu.
Cara berpikir di atas yang menjunjung tinggi salah satu macam manusia, berjalan dan bekerja dari pengandaian absurd sebagai berikut: memandang baik dan jahat sebagai realitas yang berlawan¬an satu sama lain (dan bukan sebagai konsep pelengkap dari nilai yang sebenarnya merupakan realitas), menasehati untuk memihak ke yang baik dengan alasan merasa bahwa yang baik itu akan menolak dan menentang yang jahat sampai ke akar dasarnya dan dengan begitu cara berpikir ini telah menolak hidup dalam realitas yang mempunyai baik "ya" maupun "tidak" dalam seluruh nalurinya. Barangkali tidak ada ideologi yang begitu berbahaya selama ini selain kehendak untuk berbaik tersebut karena di sini diluhurkan tipe manusia. Alim fanatik yang membawa hidup pada keilahian; dan hanya ditunjuk kelakuan si alim sebagai kelakuan baik, yang ilahi (Nietzsche, Framenti Postumi, hal. 260).
Dalam seri karangan pendek lain, Nietzsche lebih agresif dan ganas dalam mengecam moral. Ia mengatakan bahwa moral merupakan kandang, sangkar, penjara yang memperkirakan dengan jeruji-jeruji besi akan berguna bagi kebebasan yang tertutup ke dalam, tempat kubang binatang-binatang yang menerima perjuangan dengan kebuasan roh yang bernama "iman". Dalam kata pengantar karyanya Genealogia della Morale, Nietzsche menulis bahwa kita memerlukan sebuah kritik terhadap nilai-nilai moral yang mesti mulai dengan mempertanyakan ni¬lai/harga diri nilai-nilai ini.
Nietzsche mempertanyakan bahwa sampai hari ini mereka mempro¬pagandakan perkembangan kebahagiaan manusia padahal itu tidak lain hanyalah ungkapan pemiskinan, degenerasi kehidupan; atau sebaliknya mesti diwahyukan, diwartakan kepenuhan hidup sendiri, kekuatannya, kehendak hidup itu, keberaniannya, kepastian dan jaminannya, masa depan hidup itu sendiri (no 3). Terhadap perta¬nyaan-pertanyaan sendiri, Nietzsche menjawab lebih dengan "suara perutnya daripada otaknya". Nietzsche beranggapan bahwa sumber kesalahan berat dari nilai-nilai mutlak adalah Plato yang merasa menemukan adanya Roh yang baik dalam dirinya. Nietzsche menganggap bahwa metafisika mempunyai tiga kepalsu¬an, yaitu:
a. Palsu terhadap diri sendiri
b. Palsu terhadap hal-hal yang ada.
c. Palsu terhadap manusia.
Palsu terhadap diri sendiri. Metafisika bersifat palsu terhadap diri sendiri karena tidak tahu-menahu tentang motivasi sejati dari teori/ajaran yang sungguh-sungguh.
Palsu terhadap hal-hal yang ada. Metafisika bersifat palsu terhadap hal-hal yang ada karena menghantar masuk adanya hukum kedua dari realitas, yaitu adanya idea, Tuhan, substan¬si terpisah, Roh mutlak, dan seterusnya. Dengan itu metafi¬sika meniadakan nilai-nilai, menghampakan nilai efektif mereka. Prinsip perlawanan yang mendukung kerangka pendapat dunia yang sejati tempat pencarian, penapakan jalan ke sana tak bisalah bertentangan dalam dirinya sendiri, tak bisalah merubah, tak mungkin menjadi, tak mungkin pula mempunyai prinsip dan tujuannya sendiri. Salahlah bila percaya pada ungkapan-ungkapan alasan ukuran realitas untuk menguasai realitas demi memberi tanda kurung bagi realitas. Maka semuanya merupakan bencana:
a. Bagaimana mungkin mampu membebaskan diri dari dunia palsu, dunia tidak sejati? Padahal hanya ada satu dunia ini
b. Bagaimana mungkin menjadi diri sendiri secara penuh apabila tidak menghormati dunia nyata ini?
c. Seluruh orientasi nilai-nilai berjalan ke arah "menje¬lek-jelekkan dan memfitnah hidup"
Karena itu, kelirulah metafisika manusia yang mau membuang "being sejati" serta mau menindas (mengekang) afeksi, insting, naluri, kekuatan kuasa, dan mereduksi semuanya ke kepala, akal budi, dan pikiran! Semua yang berkait pada yang bukan rasio, yang bebas, yang naluriah, yang dibenci oleh para metafisikawan aliran keliru tersebut. Konsekuensinya, mereka menolak elemen fundamen¬tal dalam essere (ada pada dirinya sendiri), dan menerima sebagai yang utama apa yang disebut rasionalitas dan finalisme absolut.
Di sini kita melihat Nietzsche memang mau membasmi agama yang melawan hidup dan menggantinya dengan agama dari kehidupan (agama dari Dionisius) dan berusaha menyingkirkan moral dekaden untuk menggantinya dengan moral yang dinamis (moralitas manusia super). Cara yang ditempuhnya adalah dengan melebur sampai ke akar-akarnya filsafat being/essere yang sama dengan metafisika yang membuahkan/menjadi semua filsafat yang menjauhkan diri dari bumi, ia mau menggantinya dengan filsafat yang setia pada kehendak yang kuasa. Filsafat tidak bisa lagi berkeinginan abstrak, tujuan-tujuan spekulatif tetapi mesti menjadi praktis dan konkret.
Filsuf-filsuf sejati adalah mereka yang memimpin/berkuasa memerintah dan mampu menegaskan ini "harus hidup kembali!" harus hidup begitu! Mereka mesti menentukan pertama-tama "ke mana" dan "demi tujuan mana" manusia hidup dan begitu menawarkan lengkap pokok-pokok dasar filsafat menuju masa depan di dalam dan melalui tangan kreatif si manusia sendiri yang menjadi alat, gaman, piranti untuk mencapai tujuan. "Mengerti" mereka mesti menjadi sama dengan mencipta! Pencip¬taan mereka mesti menjadi penentuan hukum dari kehendak kebenaran yang adalah kehendak kuasa.
Fungsi sejati filsafat menurut Nietzsche mesti sama dengan peran seni, yaitu sebagai hasil karya mendalam penciptaan/trans¬formasi material menjadi seni tetapi bukan demi indah sendiri tetapi demi menjadikan cermin, pantulan kekuatan dahsyat manusia, cermin bias kekuatan/daya hidup. Filsafat mesti mempunyai kekuat¬an dari dalam yang magis yang:
a. mampu mengubah setiap hal,
b. mampu menilai lagi semua nilai,
c. mampu membaharui lagi semua nilai,
d. mampu membebaskan manusia dari semua belenggu metafisika, moral, Kristianisme, begitu rupa sehingga mampu berucap "lan¬tang" yang tegar pada semua yang ada pula bila hal-hal tersebut di jaman lalunya merupakan hal terlarang, tidak dihargai dan dipandang jahat (berdosa).
Dalam salah satu karangan, Nietzsche menulis Seni Filsafat dengan tugas rangkap tiga, yaitu (fungsi filsafat):
a. filsafat mesti menjadi penebusan bagi manusia dalam soal pemahaman (BM 90-91) dan problema eksistensi manusia.
b. filsafat mesti menjadi penebusan tindakan konkret manusia agar mampu menjadi daya hidup untuk menausia yang mau menjadi pahlawan dengan kekuatan kehendaknya.
c. filsafat mesti menjadi penebusan bagi orang-orang malang sebagai jalan masuk untuk mengangkat mereka yang menerima sengsara sebagai yang dikehendaki, dilahirkan menuju kesadaran bahwa sengsara itu kenikmatan.
Model ideal filsuf seniman menurut Nietzsche adalah tokoh Dionisius. Dialah filsuf sejati, unik dan satu-satunya yang mengetahui mengambil bagian secara kreatif dalam tarian abadi kehidupan cerah masa mendatang. Dia juga mengetahui menempatkan dan menampilkan diri sebagai pencipta, sang pemberi pada segala apa yang ada. Demikianlah Nietzsche tidaklah kebetulan bila dalam bagian akhir tulisannya memilih memberi judul Dionysos Philoso¬phos untuk bagian itu.
Dengan judul tersebut, ia mau merangkum seluruh makna kegiat¬an sastranya sebagai berikut, "Tulisan-tulisanku, buku-bukuku, dari garis ke garis, dari baris ke baris merupakan pantulan-pantulan nyata dari kehendak hidup. Tulisan-tulisan itu merupakan hasil karya sang pencipta kehidupan, menjadi duta dari hidup itu sendiri".

11. Skeptisisme EpistemologisNietzcshe berpendapat bahwa kebenaran adalah hasil konstruksi atau ciptaan manusia sendiri, yang berjiwa bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesis. Pengetahuan dan kebearan sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan bukan entitas yang trasenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak mungkin efektif karena hasil konstruksi manusia dan selalau upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia.

12. Kritik Nietzcshe Terhadap Rasionalitas dan Kebenaran
Nietzsche tidak menghargai rasionalitas, bahkan mendekonstruksi rasionalitas dan menghargai klaim-klaim dogmatisnya sendiri untuk meruntuhkan dasar-dasar miliknya dan lebih banyak lebih baik wissenschaft atau kebudayaan. Untuk mudahnya kita akan memulainya dengan melihat pars construensnya yang merupakan konsep yang hidup tentang realitas. Dalam visinya, realitas itu muncul sebagai ledakan dahsyat dari kekuatan hidup. Nietzsche menyebutnya sebagai "sebuah kekuatan hebat tanpa awal dan tanpa akhir, sang keindahan yang membebaskan diri dari kekuatan cinta dan kebencian, suka cita dan duka, keberanian dan ketakutan, kebebasan dan ketundukan yang menyeruak keluar, yang membebaskan diri secara dahsyat tanpa aturan, tanpa kontrol apa pun.
Realitas merupakan hidup itu sendiri dalam semua ungkapannya yang paling mencekam, menarik. Hidup itu sendiri merupakan kehendak untuk berkuasa yang tak terukur, tak terbilang, tak mampu dikalkulasi. Nilai tertinggi bagi Nietzsche sama dengan kehendak untuk berkuasa, lebih persis lagi sama dengan kualitas maksimal kuasa yang berhasil direngkuh dan dimiliki oleh si manusia. Filsafatnya sama dengan jawaban tak bersyarat untuk menjawab "ya" terhadap hidup yang menggeser semua "tidak", semua larangan, dosa, dakwaan. Perbedaan "ya" dan "tidak", positip dan negatif, baik dan buruk merupakan kejahatan yang tidak bisa diampuni terhadap kehidupan. Berkata "ya" pada hidup merupakan suatu kekuatan. Mengatakan "tidak" pada hidup merupakan penurunan derajad. Hidup adalah nihilisme. Siapa pun yang berkata "ya" kepada hidup akan bebas termasuk juga bila itu termasuk yang imoral. Yang menjawab "tidak" pada hidup itu termasuk budak, juga bila itu termasuk sesuatu yang moral/baik.
Untuk semua orang kuat dan alamiah, mereka membuat semuanya bersama-sama dalam satu tindakan hidup baik cinta maupun benci, balas budi atau balas dendam, kebaikan dan kemarahan, penolakan dan pengiyaan. Bila baik, manusia perlu tahu juga yang jelek. Bila jelek, itu disebabkan karena manusia tidak lagi tahu apa yang baik. Sebagaimana yang dirumuskan Zarathrusta, hukum tertinggi hidup adalah perlu untuk "tenggang rasa" pada tiap "penolakan" atau penerimaan dalam hidup. Kristianisme adalah racun terhadap nilai ini, imoral, melawan hidup, melawan natura. Dalam konsepsi realitas Nietzsche, nilai "baik" sebagai ketaatan terhadap hukum moral dipandang sebagai "parasit," artinya hidup dengan memper¬alat kehidupan sendiri, seperti benalu yang menghisap darah hidup, seperti epikuris yang menikmati "kebahagiaan kecil" dengan menolak kebahagiaan besar yang immoral
Hidup yang selalu menjadi tema sentral Nietzsche mempunyai batas-batas yang jelas, yaitu hidup di dunia ini, fisik, dalam tubuh karena tidak ada dunia lain di luar dunia material, tidak ada pula hidup badani kita di sini. Manusia lahir untuk berada di bumi ini (esistere sulla terra). Roh/jiwa yang semestinya menjadi subjek eksisitensi di dunia sekarang itu tidak ada. Manusia hanyalah yang bertubuh ini: "saya adalah si tubuh ini seluruhnya tanpa yang lain." Dunia Nietzsche meluas, merangkum imanensi dunia ini. Memi¬sahkan dunia idea yang asli, yang sejati dengan dunia semu (di bumi ini) merupakan dusta yang amat memalukan yang dibuat Plato dan Kristianisme. Dunia hanya ada satu, yaitu yang ada di depan mata kita. Dalam dunia ini tidak ada lagi tempat bagi Tuhan. Zarathrusta mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah ada karena tidak mampu ada.
Tuhan sama dengan proyeksi kebutuhan-kebutuhan kaum lemah. Tuhan ditemukan oleh jiwa yang lemah, jiwa yang sakit, yang diracuni oleh perasaan-perasaan luhur melawan orang-orang yang benar-benar sehat, kuat, dan kuasa. Tuhan adalah hasil kreasi manusia sebagaimana dewa-dewa yang lain pula. Derita dan ketidakmampuanlah yang menciptakan semua yang suci di seberang dunia nyata ini. Manusia kelelahan karena menari sendiri dengan meloncat-loncatkan kakinya ke maut untuk menggapai puncak, kelelahan karena tidak memahami yang disebabkan karena tidak mampu mengingini. Tubuhlah yang menentukan langkah-langkah dan bukan jari telunjuk yang menunjuk ke atas. Dunia manusia dan dunia non manusia, dunia yang dikejar sebagai adikodrati itu tidak lain adalah surga dari ketiadaan yang merupakan rahim dari Ada, Being.
Hanyalah si sakit, si lemah yang meremehkan tubuh dan kehidupan, serta menggantinya dengan surga dan tetesan darah penebusan namun toh akhirnya tetap memutuskan hubungan mereka dari tubuh mereka sendiri serta dari bumi (dalam ketiadaan). Hidup ini ada dalam perjalanan gemilangnya melalui satu jurusan perkembangan dari tahap manusia. Super manusia adalah makna dari bumi ini. Kehendak berseru: manusia super adalah arti dari bumi (Nietzsche, idem hal 6) dan inilah undangan dari Nabi Zarathrusta untuk umat manusia ( BM, 78). Zarathrusta mau mengajar umat manusia mengenai makna dari keberanian mereka yang tidak lain adalah manusia super. Hidup, kehendak berkua¬sa, mengekspresikan diri paling puncak pada manusia super. Di sana nilai seluruhnya mewujudkan diri, menemukan realisasinya yaitu menjadikan kehendak kuasa mengada dan diadakan dalam ketegangan-ketegangan yang agresif dan meledak-meledak dalam jatung hati manusia.

Kesimpulan
Filsafat Nietzsche banyak membahas mengenai kehidupan. Dalam filsafat Nietzsche disebutkan bahwa hidup adalah sebuah penderitaan. Dalam filsafat ini diuraikan mengenai hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh manusia dalam menghadapi kehidupan yang merupakan penderitaan itu. Dalam filsafat ini dijelaskan mengenai moral. Moral yang ada tentang kebaikan umum berbeda dengan moral yang ada pada Kristianitas. Selain itu, Nietzsche juga banyak membahas mengenai Kekuatan. Menurut Nietzsche kekuatan adalah hal yang dibutuhkan setiap masyarakat untuk tetap bertahan. Orang yang kuat adalah orang tidak menyerah pada paham martabat.
Dalam filsafat Nietzsche juga disebutkan bahwa moralitas ada dua, yaitu moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan pada awalnya adalah moralitas yang baik. Yang menganut moralitas tuan adalah kaum yang kuat sedangkan yang menganut moralitas budak adalah kaum yang lemah. Pada awalnya kaum kuat berada di atas. Namun, semakin lama mereka semakin menerima pula moralitas budak. Sehingga kaum yang kuat semakin berkurang jumlahnya. Akibatnya kaum yang lemah menjadi semakin banyak dan pada akhirnya mereka yang lemah dan tertindas ini membalikkan keadaan. Sehingga moralitas tuan yang tadinya dianggap moralitas yang baik berganti menjadi moralitas yang buruk, begitu pula sebaliknya.
Meskipun tidak semua pemikiran Nietzsche dapat diterima, namun ia tetap diakui sebagai pemikir besar, karena ia mengajukan berbagai permasalahan yang orisinil yang belum dipertanyakan sebelumnya. Banyak pemikir yang terpengaruh oleh Nietzsche mungkin Jacques Derrida termasuk yang paling jelas dan dalam pengaruhnya. Pengaruh ini terlihat pada metode dekonstruksi penolakannya pada kebenaran objektif dan universal, anti fundasionalisme, skeptisisme, anti metafisika, dll. Dan Nietzsche juga telah banyak sekali mengilhami Filsuf-filsuf barat untuk melakukan kritik terhadap kebudayaan Barat dan asumsi-asumsinya. Karl Jaspers, Martin Heidegger, Michel Fouchault, Jacques Derrida, bahkan Muhammad Iqbal adalah barisan Filosof yang mengikuti jejak intelektual Nietzsche. Nietzsche merupakan cerminan para intelektual barat dalam memandang agama. Dan agak aneh memang, bahwa pengabaian terhadap keberadaan Tuhan ini lahir dari seorang Kristiani yang taat dan menggenggam teguh keyakinan ajaran agamanya. Dari semula yang hanya mempertanyakan kemurnian ajaran agamanya, perlahan beranjak menggugat Tuhannya, dan akhirnya membunuh-Nya, ialah Nietzsche, sang Nabi besar Atheisme dari Eropa.

Daftar Referensi
Almustapha. (2008). Tuhan Sudah Mati! Filsafat Friedrich Nietzsche. Oktober 4, 2009. http://forum.detik.com/showthread.php?t=44469
Jagad, Wiwaraneng. (2008). Eksistensialime Nietzsche (Ubermensh). Desember 7, 2009. http://dzmiko.multiply.com/journal/item/40.
Muhammad, Goenawan. (1996). Zarathustra ditengah pasar. Desember 9, 2009. http://goenawanmohamad.com/esei/zarathustra-di-tengah-pasar.html
R.J. Hollingdale. (1976). Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra. New York: Penguin Books.
Sastrowardoyo, Aji. (2009). Nietzsche. Oktober, 4, 2009.
http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/nietzsche.htm
Sastrowardoyo, Aji. (2009). Friedrich Nietzsche (2-habis) Berakhir di Adimanusia Desember 7, 2009. http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=366db7a591a75efd125cb44641124f2e&jenis=d82c8d1619ad8176d665453cfb2e55f0
Stevan’s Teritory Weblog. (2008). Filsafat Nietzsche. Oktober 4, 2009. http://stevan777.wordpress.com/2008/02/04/filsafat-nietzsche/
Sunarto. (2009). Mengkaji Pemikiran Nietzsche 1944-1900: Sunarto Raih Doktor. Desember 7, 2009. Filsafat UGM. http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=954
Wuryanta, AG. Eka Wenats. (2007). Friedrich Nietzsche: Memutarbalikkan nilai-nilai. Oktober 4, 2009.
http://filsafat-eka wenats.blogspot.com/2007_04_22_archive.html
Yusuf, Akhyar. (2009). Makalah Hasil Penelitian, Pemikiran Nietzcshe: Pengaruhnya terhadap Pemikiran Posmodernis. Depok: 2009

Minggu, 06 Desember 2009

A Digital Demokrasi: Manfaat Elektronik bagi Masyarakat Amerika

Makalah ini ditulis dalam rangka menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan bapak Fuad Gani, SS., MA., dalam mata kuliah Masyarakat Informasi.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Magister Management Ilmu Perpustakaan UI.

Kelompok 6 : Ana Afida, Pauzan, Lolytasari, Siti Narani


A DIGITAL DEMOKRASI
Amerika Berubah Menjadi Republik Elektronik,
Sistem Demokrasi Yang Sangat Jauh Meningkatkan
Rakyat Sehari-Hari Berpengaruh Terhadap
Keputusan Negara.

-LAWRENCE K. Grossman-

Warga negara Amerika sekali lagi menghadapi keputusan yang mendasar tentang bagaimana melaksanakan tanggung jawab mereka dalam pemilihan umum. Cara pemungutan suara melalui internet yang telah menjadi bahan perdebatan terhangat dan berkepanjangan. Seperti contohnya pada peristiwa pemilihan umum di AS pada tahun 2000 yang telah menjadi pusat perhatian jutaan warga Amerika. Teknologi inovasi dalam keamanan, identifikasi pengguna, kenyamanan dan sebagainya yang menjadi perdebatan yang berlarut-larut. Topik ini pernah dibahas dalam surat kabar dan majalah nasional pada Juli 2001. Pertumbuhan terhadap akses dan kebutuhan akan berbagai jenis informasi secara luas yang lebih dari separo abad terhadap kondisi publik Amerika yang lebih dari sekedar diskusi yang intensif dari hubungan akan teknologi dan informasi di satu sisi dan pengaruh ganda dari praktek politik. Akhirnya pejabat publik ditingkat daerah, negara bagian dan tingkat nasional harus membuka jalan bagi resolusi perdebatan yang ada karena praktek demokrasi sudah berubah.

Lawrence K. Grossman (penulis) mantan President Public Broad Casting Service and of NBC News, bukan seorang pejabat publik tetapi kata-katanya yang sangat mendalam dalam memasok informasi elektronik untuk publik Amerika. Ia melambangkan peserta besar lainnya dalam formulasi untuk setiap perubahan yang terjadi di lembaga demokratis Amerika, seperti pers yang memasok informasi.

Kemampuan Amerika untuk memiliki akses kesegala macam informasi dan memiliki hak dan kesempatan untuk menggunakannya untuk keuntungan pribadi dan kesenangan merupakan akibat langsung dari pemerintahan di sana yang memungkinkan untuk menjadi info-junkies atau pemerintah dapat membatasi dan mempengaruhi aliran informasi dan konsekuensinya serta bagaimana menggunakannya. Memiliki sistem politik yang membatasi arus informasi dan penggunaannya seperti pada rezim otoriter dan informasi yang kurang dan ekonomi sangat berbeda serta praktek sosial. Pemimpin politik Eropa dan Asia Timur mengakui kenyataan ini. Sekarang mereka bergulat dengan isu-isu seperti bagaimana menghadapi dengan internet dan dengan informasi yang memungkinkan untuk mengalir melalui kertas dan media elektronik lainnya.

Mereka berinisiatif untuk membuat perekonomian mereka bersaing pada basis global sambil memuaskan tuntutan-tuntutan yang berkembang pada kelas menengah yang melek huruf, terdidik dan cukup makmur.

Pada hari-hari setelah pemilihan umum di AS pada bulan November 2000, tidak jelas siapa yang memenangkan suara untuk presiden di negara bagian Florida. Siapa yang menang di negara bagian akan memenangkan pemilihan umum, pemilihan cukup mengumpulkan suara terbanyak untuk dinyatakan sebagai pemenang nasional. Yang terjadi di Florida sistem kartu tidak selalu mencatat dengan jelas maksud-maksud para pemilih, sehingga terbuka kemungkinan interpretasi hasil yang tidak akurat. Konsekuensinya jelas keseluruh dunia yang telah mengikuti cerita selama dua bulan. Isu-isu kesalahan koreksi dan masalah yang dihadapi di Florida menunjukkan bagaimana orang Amerika menanggapi penggunaan teknologi.

Pada dasarnya ada tiga isu. Pertama, Florida dan banyak negara-negara bagian yang lain memungkinkan para pejabat pemilihan lokal untuk menafsirkan hasil pemungutan suara, dengan menggunakan kriteria lokal daripada standar nasional. Kedua, Amerika ingin tahu hasil pemilu dengan cepat yang bisa dilihat pada malam pemilihan atau segera setelah penghitungan kertas suara. Ketiga, pemikiran menggunakan teknologi lama seperti kartu merupakan kemunduran bagi suatu negara yang dalam operasi bisnis dan badan-badan pemerintahan telah membuang metode input data seperti dekade sebelumnya.

Pejabat publik di AS bereaksi dalam dua cara. Pertama, mereka membela penggunaan teknologi tua menjadi penyebab biaya tinggi sehingga menggunakan pendekatan yang lebih baru pada penghitungan suara menggunakan layar atau bahkan internet. Kedua, puluhan gubernur mengawasi dan menetapkan standar untuk penghitungan suara di negara bagian.

Yang harus dipahami adalah sejauh mana penggunaan teknologi dalam pemungutan suara sebelum terjadinya kegagalan dalam pemilihan karena ke depan kegunaan dan semakin luasnya penyebaran sehingga dituntut bagaimana para pejabat publik menggunakan teknologi informasi. Sekarang perhatian tertuju pada topik pemungutan suara elektronik dari peristiwa pemilihan nasional tahun 2000. Pola-pola yang lebih luas didorong oleh pertimbangan fungsi, kemudahan dalam penggunaan, biaya dan keandalan sehingga sejajar dengan bidang kehidupan yang lain dalam menggunakan teknologi informasi seperti bidang pekerjaan, rekreasi dan praktek keagamaan.

Sekitar 32 % dari semua tempat pemungutan suara di seluruh negara masih menggunakan kartu suara, 27 % menggunakan optical scanners, 18 % menggunakan mesin, 9 % menggunakan kecanggihan layar elektronik. Metode lain (misalnya kertas suara) menymbang persentase yang tersisa. Sementara penggunaan internet masih menjadi bahan diskusi tapi belum diimplementasi. Yang jadi hambatan bagi masyarakat adalah masalah teknis dan biaya yang mahal.

Ketika perhatian bangsa tertuju pada topik demokrasi biasanya pada saat pemilihan umum, ketika kampanye politik menarik minat warga Amerika untuk isu-isu kepedulian nasional, melalui liputan media dan akhirnya melalui pemungutan suara merupakan tindakan warganegara dalam berdemokrasi. Pada saat itu peran fundamental demokrasi berperan dalam kehidupan warga Amerika.

Singkatnya pengaruh pemerintah akan terlihat ketika menjawab informasi secara nasional. Dimulai pada tahun 1920-an dan berlanjut sampai sekarang, bentuk-bentuk informasi elektronik dan pengaruh dari informasi mulai mengubah peran kegiatan berpolitik.

Bagaimana Demokrasi akan berevolusi?

Demokrasi Amerika modern adalah dalam bentuk suatu republik demokratik atau demokrasi perwakilan. Suatu demkorasi perwakilan muncul di Amerika Serikat sebab penduduk baru sudah muak dengan pajak tanpa perwakilan dan mereka menginginkan sistem yang lebih fair dimana orang bisa bersuara untuk mengatur negara. Mereka menginginkan demokrasi perwakilan dimana perwakilan yang dipilih yang akan mengatur pemerintahan. Para perwkailan tersebut dipilih dengan pemikiran bahwa mereka akan secara tepat mewakili konstituen mereka, tetapi dalam kejadian di mana thal ini tidak terjadi, pemerintah Amerika Serikat dibagi menjadi 3 cabang untuk mengawasi penyelewengan. Ketiganya adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tidak ada satupun yang memiliki kekuasaan absolut. Ketiga cabang pemerintahan tersebut dimaksudkan sebagai cara untuk menghindari tirani mayoritas.

Tentang Demokrasi

Demokrasi, berasal dari kata Yunani Demos yang berarti Rakyat dan Kratia yang berarti pemerintahan, suatu bentuk pemerintahaan yang mengikut sertakan seluruh anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut soal-soal kenegaraan dan kepentingan bersama, dengan adanya pengakuan terhadap hak rakyat ini, pemerintahan demokrasi disebut pemerintahan dari rakyat untuk rakyat.

Bentuk pemerintahan demokrasi pertama dikembangkan di Yunani Kuno pada abad ke-6 SM. Pemerintahan demokrasi Yunani tumbang di pada masa peralihan pertama Macedonia dan Romawi. Demokrasi modern berkembang sejak abad ke-17 dimulai dengan pecahnya Revolusi Industri yang mengakibatkan Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika.

Pada abad ke-18 dan 19, di Inggris, Amerika dan Eropa telah berkembang sistem demokrasi perwakilan liberal, dewan perwakilan dijadikan wakil rakyat untuk mengemukaan pendapatnya, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak, pemilihan dilakukan secara teratur, hak pilih dimiliki oleh setiap warga yang telah dewasa, rakyat diberi kebebasan berbicara dan mendirikan organisasi tandingan karena golongan minoritas dianggap bagian penting dari demokrasi itu sendiri.

Konsep demokrasi selalu banyak mendapat dukungan dimana-mana, ini karena demokrasi mewakili/menggambarkan suatu kondisi keadilan yang ideal selayaknya pemerintahan yang adil pula. Idealisme yang ditawarkan adalah kebebasan/kemerdekaan dan persamaan adalah baik dan bahwa peranan/proses demokrasi selalu mempengaruhi perkembangan kualitas hidup manusia.

Dalam konsep demokrasi, partisipasi rakyat bisa menjadi efektif jika didukung oleh kebebasan politik. Sebagaimana yang ditulis James Madison dalam The Federalist, “Liberty is to faction as air to fire”. Kebebasan yang mempromosikan perbedaan adalah penting tidak hanya sebagai idealisme moral yang tinggi namun juga sebagai metoda untuk menyadari arti demokrasi itu sendiri.[1]

Tentang Demokrasi Perwakilan

Amerika Serikat (AS) rakyat mendapatkan kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam menyampaikan pendapat dan kritik terhadap pemerintah. Pada saat pemerintah AS memutuskan untuk menyerbu Irak jika Irak tidak menyerahkan senjata pemusnah massal yang oleh AS dianggap dimiliki Irak, jutaan rakyat AS berdemonstrasi menentang sikap pemerintahnya. Tetapi pemerintah tetap melanjutkan keinginannya dan Irak pun diserang habis-habisan oleh AS dan diduduki hingga sekarang. Jadi di AS ada kebebasan besar bagi siapa saja untuk mengemukakan pendapat, termasuk melalui demonstrasi besar-besaran yang memprotes politik pemerintah. Tetapi pendapat mereka tidak didengar sama sekali oleh Presiden dan DPR AS. Dari segi ini bisa dikatakan bahwa Pemerintah dan DPR AS telah menjalankan pemerintahan secara tertutup.[2]

Pada dasarnya kegiatan pemerintahan adalah kegiatan menjalankan kekuasaan negara. Dalam negara demokratis, ini berarti suatu pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat. Demokrasi sendiri pengertian dasarnya adalah kekuasaan rakyat atau pemerintahan rakyat. Pengertian dasar inilah yang justru telah diselewengkan di banyak negara yang mengaku demokratis. Seperti dikemukakan oleh Andrew Heywood dalam bukunya Political Ideologies (Macmillan, 1993, hal. 277), Demokrasi dewasa ini adalah demokrasi perwakilan; tanggungjawab untuk memerintah bukan dijalankan oleh semua warganegara yang sudah dewasa, tetapi dipercayakan kepada satu kelompok elit politisi profesional. Partisipasi rakyat dalam pemerintahan dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan memilih wakil-wakilnya dalam badan perwakilan dan memilih pejabat-pejabat eksekutif. Akibatnya ide dasar demokrasi tentang pemerintahan rakyat ditinggalkan, yang dikemukakan adalah peraturan yang mengatur proses pemilihan umum. Demokrasi hanya berarti pemilihan umum bebas dan rahasia untuk menjamin hak pilih warganegara serta kompetisi partai-partai politik untuk menjamin pilihan. Partisipasi warganegara terbatas pada memberikan suara pada hari pemilihan umum. Demokrasi semacam inilah yang disebut demokrasi perwakilan. Pemerintahan yang dijalankan oleh para politisi yang dipilih rakyat melalui pemilihan umum yang bebas dan rahasia, tetapi yang bisa mengabaikan begitu saja keinginan rakyat.

Sejarah Radio di Amerika Serikat

Beberapa tahun setelah Dane, James Maxwell, Heinrich Hertz, Guglimo Marconi menemukan prinsip prinsip sederhana mengenai gelombang elektromagnetik, ahli-ahli di berbagai negara terus mengembangkannya. Tahun 1906, di Amerika Serikat, Dr. Lee de Forest memperkenalkan lampu vakumnya (vacuum tube), yang memungkinkan suara dapat disiarkan (Edwin Emery, et al, Introduction to Mass Communication, halaman 225).

Sedangkan menurut William Albig, David Sarnoff-lah yang mula-mula memperkenalkan radio siaran (broadcasting) pada tahun 1915. Melalui stasiun radio milik Dr. Lee de Forest pula, buletin mengenai Kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat, antara Woddrow Wilson dan Hughes telah disiarkan ke masyarakat, meskipun belum memperoleh sambutan. Atas usahanya ini, Dr. Lee de Forest dijuluki "the father of radio" karena kepeloporannya di bidang radio. Perkembangan dunia radio menjadi terhambat karena pecah Perang Dunia I.

Akibatnya, hampir semua peralatan radio diperlukan untuk kepentingan perang. Bahkan sampai tahun 1919, terdapat larangan bagi siapapun juga untuk mengusahakan radio siaran. Dr. Lee de Forest jugalah yang mula-mula menyiarkan berita radio. Eksperimen serupa dilakukan oleh Dr. Frank Conrad, seorang ahli yang bekerja pada Westing House Company di Pittsburg, Amerika Serikat, tetapi dalam bidang musik.

Perusahaan-perusahaan lain pun mengikuti jejaknya, terutama General Electric dan American Telephone and Telegraph, yang selanjutnya mendirikan Persatuan Radio Corporation of America, dipimpin David Scarnoff. Masyarakat Amerika Serikat telah dapat menikmati radio siaran secara teratur dengan berbagai programnya sejak tahun 1920.

Pemilihan Umum untuk memilih presiden antara Warren G. Harding dan Cox (Harding Cox Presidential Election) disiarkan oleh Stasiun Radio KDKA, yang kemudian dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara meluas dan teratur kepada masyarakat. Sejak saat itu, radio mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tahun 1922, hanya ada 30 stasiun radio, bulan Maret 1923 menjadi 566 buah. Pada tahun 1926, National Broadcasting Company berdiri sebagai radio siaran yang besar dan luas.[3]

Disusul Columbia Broadcasting System (CBS), Mutual Broadcasting System (MBS), yang merupakan jaringan radio siaran (network), gabungan dari badan-badan radio siaran yang kecil. Usaha ini diikuti pula dalam peningkatan teknologinya, yakni dengan diperkenalkannya sistem Frequency Modulation (FM), sebagai penyempurnaan sistem sebelumnya, yakni AM (Amplitude Modulation) oleh Profesor E.H. Amstrong dari Columbia University pada tahun 1933. Penemuan ini sangat menguntungkan, karena :

1. Dapat menghilangkan interferensi atau gangguan yang disebabkan cuaca, bintik-bintik matahari, atau alat-alat listrik

2. Dapat menghilangkan interferensi yang disebabkan dua stasiun yang bekerja pada gelombang yang sama

3. Dapat memperoleh suara sebaik-baiknya bagi telinga manusia yang sensitif

Sebagai negara yang menang perang dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat tidak mengalami gangguan yang berarti di bidang pengembangan radio siaran. Bahkan kini mempunyai badan-badan yang berada di luar negaranya sendiri.

Propaganda Radio di Amerika Serikat

Sehabis Perang Dunia I, Jerman mengadakan kegiatan propaganda melalui radio di Eropa, demikian juga Jepang di kawasan Asia. Hal ini mendorong Amerika untuk mengadakan kegiatan serupa, dengan mendirikan "Office of War Information" (OWI) pada tahun 1942, yang merupakan usaha pertama dalam propaganda internasional. Di bawah OWI pulalah, Voice of America (VOA) lahir dan diudarakan melalui sebelas stasiun gelombang pendek.

Diikuti pendirian kantor-kantor penerangan sebanyak mungkin di semua negara yang dikenal dengan nama United States Information Service (USIS). Di samping itu, didirikan pula United States Information Agency (USIA), melakukan kegiatan dengan mengkoordinasikan penerangan melalui berbagai media. Dalam melakukan kegiatan ini, Amerika tidak memakai istilah propaganda, melainkan "informasi", tetapi hakikatnya adalah propaganda juga.

Seperti dikemukakan oleh L. John Martin dalam bukunya "International Propaganda": The United States is also involved in the international propaganda. Suara Amerika terus melakukan kegiatannya, meskipun perang telah usai, dan bahkan semakin memperluas kegiatannya. Tahun 1969 misalnya, VOA mempergunakan 38 buah lebih pemancarnya di Amerika dan 54 pemancar di luar Amerika, dengan output seluruhnya 15 juta watt, dengan jam siarnya setiap minggu 850 jam, dan disiarkan dalam 37 bahasa.

Sampai tahun 1990, pemancar yang digunakan VOA tercatat 26 buah Domestic Broadcasting Transmitters beroperasi di Delano, California; Greenville, North Carolina; dan Bethany, Ohio. Serta 79 pemancar di luar Amerika (Overseas Broadcasting Transmitters), yang berlokasi di Antigua, Belize, Botswana, England, Germany, Greece, Liberia dan Morocco, Philippines, Quesada, Sri Lanka, dan Thailand.

Siaran langsung setiap minggunya adalah 1200 jam, bandingkan dengan Uni Soviet 1787 jam sebelum menjadi CIS, Cina 1444 jam, VOFC 1149 jam, Jerman 843 jam, serta Inggris Raya 757 jam. Ditambah dengan VOA Radio Marti, yang khusus ditujukan ke Kuba dalam bahasa Spanyol, dengan siaran langsung 168 jam setiap minggunya, dengan studionya di Washington, D.C. sebanyak dua buah, dan sebuah domestic transmitter yang berlokasi di Marathon, Florida. Sekarang, VOA menyiarkan lebih dari 1200 jam seminggu melalui 109 pemancar berkekuatan 26 juta watt, dan menjangkau kira-kira 130 juta pendengar di lima benua. Selain itu, VOA mengirim berbagai mata acara dalam 39 bahasa sebanyak 1400 jam setiap minggu melalui satelit, langsung ke stasiun-stasiun radio di seluruh dunia, untuk disiarkan pada waktu bersamaan atau kemudian.

VOA juga mengirimkan bahan-bahan siaran melalui telepon, dan dalam kaset ke stasiun-stasiun radio di berbagai negara, termasuk Indonesia untuk disiarkan kembali. Selain itu, VOA sebelum usai perang dingin, juga melakukan propagandanya melalui Radio Free Europe - Radio Liberty, dan Radio in the America sectors, dengan siaran khususnya yang ditujukan pada para pendengarnya di kawasan negara-negara yang menganut sistem komunis.

Radio Free Europe / Radio Liberty, Inc., yang bekedudukan di Munich, Jerman Barat (sekarang Jerman) dan melalui pemancarnya di Spanyol dan Portugal menujukan propagandanya ke negara Afganistan, Bulgaria, Cekoslowakia, Hungaria, Polandia, Rumania, dan USSR menggunakan bahasa Rusia dan bahasa-bahasa kelompok etnis yang ada di kawasan tersebut, antara lain bahasa Ukraina, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Georgia, Tatar Bashkir, Kazak, dan sebagainya. Setelah Radio Liberty tak lagi mengudara, kini mengalihkan perhatiannya ke kawasan Asia, mengudarakan misinya dengan nama Radio Free Asia (baca Dirgantara 7 (3) Mei-Juni 1997, halaman 31).

Lebih Jauh dengan Suara Amerika

Kepentingan jangka panjang Amerika Serikat dipenuhi dengan jalan berkomunikasi secara langsung melalui radio dengan penduduk dunia. Untuk melaksanakan tugasnya dengan efektif, Suara Amerika selaku Dinas Siaran Radio, Badan Penerangan Amerika Serikat harus dapat memikat dan dihormati oleh para pendengarnya. Untuk keperluan ini, azas Suara Amerika pada tanggal 12 Juli 1976 ditandatangani menjadi Undang-undang oleh Presiden Gerald Ford.

Azas-azas tersebut adalah :

1. Suara Amerika merupakan sumber berita yang dapat diandalkan dan terpercaya, berita-beritanya akurat, obyektif, dan lengkap

2. Suara Amerika mewakili Amerika Serikat, bukan satu golongan masyarakat, dan lembaga-lembaga penting Amerika secara berimbang dan lengkap

3. Suara Amerika akan mengemukakan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat secara efektif dan lengkap, serta menyajikan suatu diskusi dan pandangan secara berbobot mengenai kebijakan tersebut

Selaku radio pemerintah, Suara Amerika dipercaya memperkenalkan sejarah kehidupan bangsa Amerika ke seluruh dunia. Suara Amerika untuk pertama kali berada di udara selama berkecamuk Perang Dunia II, tepatnya 24 Februari 1942, dan berfungsi sebagai sarana penerangan bagi dunia. Siaran pertama yang diudarakan adalah dalam bahasa Jerman. Pada waktu itu, Suara Amerika berjanji kepada para pendengarnya di seluruh dunia, dengan mengatakan, "Berita yang akan kami siarkan mungkin lebih baik, dan mungkin pula kurang menyenangkan, tetapi Suara Amerika akan selalu memberitakan kebenaran." Tetapi setelah itu, radio tersebut melalui berbagai bahasa mendatangi para pendengarnya di seluruh dunia untuk memperkenalkan bangsa Amerika pada dunia, tentang cara hidup dan kerja, tata pemerintahan, peranan Amerika Serikat di dunia dalam memelihara perdamaian, dan memajukan tingkat hidup bangsa-bangsa di planet ini.

Penyebaran Informasi

Pembahasan tentang bagaimana demokrasi akan berevolusi, mencoba mendeskripsikan peran teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam masyarakat parlementer Amerika Serikat dan mencari keseimbangan yang tepat diantara penggunaan ICT dengan beragamnya ekonomi, politik dan lingkungan sosial merupakan hal penting dalam rangka memperoleh manfaat optimal ICT untuk masyarakat. Di mana mulai tahun 1950-1960an, para kandidat sudah mulai memanfaatkan ICT berupa talkshow di radio, TV dan sarana manual seperti koran, pamflet, selebaran, buku, artikel dan poster. Selain itu memakai web untuk menyampaikan ke publik dan email digunakan sebagai alat informasi dan komunikasi. Ini menandakan bahwa ICT telah memberikan dampak pada cara masyarakat Amerika berinteraksi dan membangun komunikasi lewat jalan baru dalam memperoleh, menyimpan dan menyebarluaskan informasi kembali ke masyarakat.

Tahun-tahun selanjutnya, kekuatan informasi dan kemampuan infrastruktur informasi telah membawa pengaruh besar terhadap masyarakat Amerika. Masyarakat Amerika tengah menuju masyarakat informasi dimana menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana kualitas hidup dan juga prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi, tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Dalam masyarakat seperti ini, standar hidup pendidikan dan pemasaran barang-barang sangat dipengaruhi oleh akumulasi peningkatan informasi dan pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya intensitas produksi informasi dan pelayanan, komunikasi yang luas melalui media dan banyak diantaranya dilakukan secara elektronis. (Martin, 1995)

Masyarakat ini menekankan pentingnya ICT serta akses di bawah pengaruh ekonomi, politik dan lingkungan sosial. ICT telah mengubah cara hidup masyarakat dunia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa sadar telah membawa dunia memasuki era globalisasi lebih cepat dari yang dibayangkan semula. Amerika Serikat menjunjung kebebasan berserikat dan berkumpul bagi semua warga dalam proses demokrasi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu terobosan yang dapat memudahkan perolehan informasi.

Dalam dunia informasi, perpustakaan merupakan tambang sumber segala informasi. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus seiring dengan pesatnya kemajuan ICT dan kebutuhan informasi penggunanya. Perpustakaan yang maju juga merupakan salah satu syarat memasuki masyarakat informasi. Semua informasi tersimpan di perpustakaan, masyarakat dapat menggunakan perpustakaan untuk berkonsultasi mengenai apapun.

Perpustakaan memiliki tugas utama dan fungsi. Tugas utama perpustakaan yakni memberikan pelayanan terbaik dalam penyediaan dan pelayanan informasi. Untuk melaksanakan tugasnya itu ada 4 fungsi perpustakaan yakni yang pertama adalah mengumpulkan, menyusun, melestarikan dan menyediakan bahan pustaka dan sumber informasi lain yang relevan untuk menunjang tugas. Fungsi kedua adalah menganalisis, mendaftar dan menginformasikan pustaka yang ada kepada semua pengguna. Fungsi ketiga adlaah mengikuti perkembangan sistem kepustakaan sesuai perkembangan IPTEK. Dan yang keempat adalah ikut mendorong meningkatnya kebiasaan dan kemampuan membaca serta menulis di kalangan para penggunanya.[4]

Pelayanan jasa informasi di perpustakaan, informasi dapat didistribusikan dengan mudah, cepat dan tepat. Waktu dan letak geografi tidak lagi menjadi masalah dalam distribusi infomasi. Informasi dapat disampaikan kepada mereka yang membutuhkan dengan kemajuan teknologi yang ada.

The Special Role of the Internet

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban – selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi – untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) – dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan – tanpa ada batasan kurun waktu. William L. Rivers dan kawan-kawannya (Rivers 2003:ix) mengatakan bahwa pada dasarnya, kondisi di dunia nyata mempengaruhi media massa, dan ternyata keberadaan media massa juga dapat mempengaruhi kondisi nyata dunia. Dengan kata lain, dunia mempunyai peranan dan kekuatan untuk mempengaruhi media massa; dan sebaliknya, media massa juga mempunyai peranan dan kekuatan yang begitu besar terhadap dan bagi dunia ini, terlebih dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dengan segala aspek yang melingkupinya. Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan, masing-masing saling memerlukan. Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Negara adikuasa, Amerika Serikat, juga tidak bisa melepaskan dirinya dari kaitannya dengan media massa karena hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan atau saling memerlukan. Di satu sisi media massa membutuhkan, memerlukan berita dan informasi tentang Amerika Serikat berikut yang berkait secara langsung maupun tidak langsung agar fungsi dan peranan media massa bisa berjalan sesuai dengan yang seharusnya; di sisi lainnya, negara Amerika Serikat memerlukan atau membutuhkan media massa agar dapat mempublikasikan atau memberitakannya baik untuk keperluan sekedar publikasi informasi dan berita maupun untuk tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan khusus dalam bidang politik, ekonomi, sosial, atau lainnya. Menurut catatan William L. Rivers dan kawan-kawan (Rivers 2003:158), pemerintah Amerika Serikat menganggap bahwa pemberitaan melalui media massa itu sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari besarnya anggaran atau besarnya beaya yang disediakan pemerintah federal Amerika Serikat untuk publikasi atau pemberitaan kegiatan-kegiatan hubungan masyarakat dan informasi publik sebesar $400 juta per tahun. Bahkan eksekutif mengeluarkan dana yang lebih besar untuk beaya pemberitaan, publikasi, peliputan khusus, dan lain sebagainya. Hal ini memberikan indikasi betapa besar peranan dan kekuatan media massa bagi pemerintah Amerika Serikat.

Demikian halnya dengan dunia politik di Amerika Serikat, eksistensi politik Amerika Serikat dan yang berkait juga tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan media massa baik yang ada di Amerika maupun yang ada di luar Amerika. Publikasi lewat media massa baik cetak maupun elektronik tentang hal-hal yang berkait dengan kepentingan-kepentingan politik dalam maupun luar negeri Amerika Serikat baik secara langsung maupun tidak langsung sangat dibutuhkan dan diperlukan oleh para praktisi maupun akademisi bidang politik Amerika Serikat. Demikian juga halnya dengan media massa, untuk kepentingan komunikasi pada umumnya, dan kepentingan media massa pada khususnya ataupun untuk kepentingan lainnya, pihak media massa sangat memerlukan informasi dan segala hal tentang politik Amerika Serikat yang bisa dijadikan ‘komoditas’ bagi media massa. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan antara media massa dan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Para praktisi, partisan, pemerhati politik Amerika baik yang berada di Amerika Serikat maupun yang berada di luar Amerika Serikat akan sangat menggantungkan, membutuhkan media massa baik sebagai sarana komunikasi dengan memberikan informasi maupun sebagai sarana persuasi untuk kepentingan kampanye dengan cara menyampaikan visi dan misinya untuk memikat rakyat agar memilih calon presiden sebagaimana yang diharapkan oleh tim kampanye. Demikian juga pihak media massa akan sangat menggantungkan dan membutuhkan berita, informasi yang berkait secara langsung maupun tidak langsung dengan kampanye kepresidenan tersebut sebagai sumber berita utama atau bahan utama bagi pemberitaan atau jenis publikasi lainnya. Dari contoh tersebut, dapatlah disampaikan suatu pemikiran akan adanya keterkaitan antara media massa dan berbagai pihak dalam pelaksanaan kampanye kepresidenan Amerika Serikat.

Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan suatu analisis berkaitan dengan kekuatan media massa dalam kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Media massa baik cetak maupun elektronik – yang dalam konteks ini meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, dan websites – bukan hanya mempunyai peranan melainkan juga mempunyai kekuatan dalam pelaksanaan kampanye tersebut. Analisis ini juga didukung oleh sistem media massa yang berlaku di Amerika Serikat dan juga pengakuan konsitusional adanya kebebasan menyampaikan pendapat. Analisis ini didasarkan pada observasi pustaka, baik cetak melalui buku, jurnal, majalah maupun elektronik melalui situs-situs di internet (websites). Tulisan-tulisan yang berkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan topik tersebut di atas akan menjadi sumber utama penulisan ini.

Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan di AS

Dalam perspektif sistem media massa dan kebebasan menyatakan pendapat yang berlaku di Amerika Serikat, adalah sangat mungkin bahwa media massa di Amerika Serikat bukan hanya mempunyai peranan melainkan juga mempunyai kekuatan dalam kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Sistem media massa Amerika Serikat yang sangat terbuka – dalam arti tanpa pengawasan secara konstitusional dari pemerintah – dan adanya jaminan kebebasan menyatakan pendapat dari konstitusi memberikan keleluasaan bagi warga Amerika Serikat untuk melakukan publikasi melalui media massa. Hal ini tentu saja juga memberikan kesempatan yang sangat luas bagi para politisi dalam rangka pelaksanaan kampanye kepresidenan. Sistem media yang demikian itu memberikan peluang bagi masing-masing tim pelaksana kampanye kepresidenan untuk menggunakan media massa sebagai sarana informasi dan persuasi seefektif dan seefisien mungkin. Hal ini juga didukung oleh konstitusi yang memberikan kebebasan berpendapat bagi setiap warga negara. Dua hal tersebut sangat mendukung kinerja masing-masing tim pelaksana kampanye kepresidenan dalam usaha untuk merebut perhatian para pemilih agar memilih calon presiden yang mereka ajukan.

Media massa merupakan sarana persuasi yang efektif dan efisien bagi mereka karena bisa menjangkau banyak pemilih yang menjadi target mereka dengan waktu yang cepat dan beaya yang relatif murah. Adalah tidak mungkin, khususnya dari sisi waktu, bagi tim sukses kampanye kepresidenan Amerika Serikat untuk mendatangi target pemilih mereka secara langsung atau ‘door to door’. Penggunaan media massa adalah cara yang sangat memungkinkan untuk ‘bertemu langsung’ dengan target pemilih melalui representasi media massa baik cetak maupun elektronik bagi para tim pelaksana kampanye kepresidenan. Mereka bisa menggunakan berbagai cara yang bisa dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik, bahkan mereka juga bisa berkomunikasi secara langsung melalui program ‘live show’ televisi maupun siaran radio; juga mereka bisa mengumpulkan pendapat, saran, komentar ataupun kritik, mengadakan ‘polling’ atau jajak pendapat melalui media massa cetak maupun elektronik. Berbagai macam cara bisa mereka ciptakandan mereka untuk berkomunikasi dalam usaha memikat calon pemilih.

Kebanyakan warga Amerika yang mempunyai hak pilih mendapatkan informasi tentang pemilihan bukan dari kontak langsung dengan para calonnya atau dengan para praktisi politik (politisi) ataupun tim pelaksana kampanye, melainkan melalui media massa cetak maupun siaran atau juga elektronik, misalnya, surat kabar, majalah, websites, radio, dan khususnya televisi. Enam puluh persen dari mereka mengatakan bahwa televisi merupakan sumber utama informasi bagi mereka berkaitan dengan pemilihan presiden (Clack 2000:36). Bagi para politisi, media massa tersebut dipakai dan diberdayakan demi suksesnya pelaksanaan kampanye kepresidenan dan demi keberhasilan kandidat presiden mendapatkan suara pemilih sebanyak mungkin sehingga kandidat tersebut bisa menjadi presiden.

Steven H. Chaffee dan Michael J. Petrick (1975:135) menyatakan bahwa ‘the mass political persuader’ mencoba menggunakan media untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi kandidat presidennya. Meyakinkan warga negara untuk memilih kandidatnya merupakan tujuan yang cukup jelas. Selanjutnya dikatakan bahwa “persuading persons to donate money, to help collect donations from others, or to help in canvassing are also important objectives of the political persuasion game”. Dari pendapat tersebut, menjadi jelaslah bahwa media massa sungguh mempunyai peranan dan kekuatan bagi keberhasilan pelaksanaan kampanye kepresidenan, bukan hanya dari sisi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin suara pemilih melainkan juga untuk mengumpulkan dana bagi pelaksanaan kampanye. Lebih lanjut mereka mengatakan (Chaffee 1975:141) sebagai berikut,

Because the mass media are so pervasive in America, they provide channels for reaching nearly all prospective voters repeatedly and in a relatively short period of time. The fact alone explains why campaign strategists turned to the growing mass media system as a partial substitute for the more exhausting and less efficient schedule of personal appearances by candidates. Although personal appearances have not disappeared from the campaign scene, one of the primary functions is to provoke media news coverage which can then be relayed throughout the state or country. The great spread of mass communication, then, is an obvious but important benefit to those who orchestrate campaigns.

Dari sudut pandang warga negara atau para pemilih di Amerika Serikat, mereka menggunakan media massa untuk mendapatkan informasi dan hal-hal yang berkait baik dengan pelaksanaan kampanye kepresidenan maupun dengan pelaksanaan pemilihan presiden itu sendiri. Disampaikan pula bahwa (Chaffee 1975:142),

American voters can, if they so choose, use the media to help them cope intelligently with an election campaign.Citizens use the media to help determine the important campaign issues.Once an issue is cast, citizens can use the media to familiarize themselves with it more thoroughly and to learn and evaluate the positions that candidates take toward it.

Hal tersebut di atas juga didukung oleh Darlisa Crawford (2004:1) yang menyatakan bahwa media massa moderen saat ini telah menjangkau ratusan ribu orang di Amerika Serikat dan seluruh dunia melalui televisi, radio, surat kabar, majalah, buku, film, dan internet. Selanjutnya berkait dengan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat, Crawford menyatakan sebagai berikut,

The American news media inform audiences about the candidates, their positions on the issues, opinion polls, political debates and conventions, and political advertisements. The new media also provide a watchdog mechanism for the public, work as a liaison between the public and its leaders, and influence candidate images and reputations.

Menurut Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:306), media massa dalam bentuk cetak dan siaran mempunyai lima fungsi khusus dalam sistem politik, yaitu, “reporting the news, interpreting the news, socializing citizens about politics, influencing citizens’ attitudes and behaviors, and setting the agenda for government action”. Kelima fungsi tersebut sekaligus menjadi kekuatan media massa dalam kaitannya dengan politik, khususnya dalam hal ini dengan pelaksanaan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat.

Kekuatan Media Massa Cetak

Media massa cetak yang dalam konteks ini dibatasi dalam bentuk surat kabar, majalah, dan buku merupakan sarana komunikasi dan persuasi bagi para praktisi politik, para partisan politik, dan para pemerhati politik. Sebagai sarana komunikasi, media massa cetak tersebut dimanfaatkan untuk mensosialisasikan visi dan misi dari kandidat presiden, memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin berkait dengan program-program jangka panjang dan pendek sebagai perwujudan pelaksanaan visi dan misi para kandidat, memberikan liputan dalam kolom reguler maupun kolom khusus berkait dengan kampanye mereka, menyampaikan biografi dan karya-karya para kandidat berikut rencana kerja mereka. Informasi-informasi tersebut dikemas sedemikian rupa dalam aneka bentuk publikasi – liputan berita, liputan khusus, features, analisis, iklan, dan lain-lainnya – sehingga menjadi berguna dan menarik bagi para calon pemilih. Kemasan publikasi dalam media massa cetak seperti ini – baik dalam surat kabar harian maupun dalam majalah mingguan atau dwi-mingguan ataupun bulanan – dimaksudkan sebagai sarana persuasi agar para calon pemilih tertarik, terpikat kepada calon presiden yang disosialisasikan dan dipopularitaskan dalam kampanye tersebut.

Media massa cetak tersebut bisa menarik karena sifatnya yang lama dalam pengertian bahwa informasi yang dipublikasikan tersebut bisa disimpan tanpa harus melakukan ‘recording’ sebagaimana dalam media massa siaran; dan kemudian informasi tersebut bisa mudah didapatkan kembali sewaktu-waktu diperlukan. Dengan demikian media massa cetak bukan merupakan media komunikasi, informasi, dan persuasi yang lewat begitu saja sebagaimana yang terjadi dalam media massa siaran baik radio maupun televisi. Di sinilah letak kekuatan media massa cetak.

Selain karena hal tersebut di atas, informasi media massa cetak juga mempunyai kekuatan bagi kalangan tertentu, khususnya bagi golongan berpendidikan. Informasi ataupun data dalam bentuk cetak sangat digemari oleh kalangan sebagaimana tersebut di atas. Mereka membutuhkan informasi dan data dalam bentuk cetakan karena jenis ini pada umumnya merupakan hasil suatu observasi dan analisis yang cukup mendalam dan representatif yang bisa menjadi acuan bagi mereka baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan lainnya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:337) yang menyatakan bahwa “Although more people today depend on television than on newspaper for news, those with more education rely more on newspapers. Newspapers usually do a more thorough job of informing the public about politics.”

Pendapat senada juga disampaikan oleh William L. Rivers dan kawan-kawan (2003:307) bahwa secara umum, berdasarkan kesimpulan dari berbagai studi, orang berpendidikan tinggi lebih menyukai media cetak atau media bacaan dibandingkan dengan media siaran; sedangkan mereka yang berpendidikan menengah lebih menyukai televisi dan radio.

Kekuatan Media Siaran

Media massa siaran dalam konteks ini meliputi radio dan televisi. Dalam masyarakat politik di Amerika Serikat, radio bukan merupakan media massa siaran yang dianggap sangat efektif dan efisien untuk kepentingan kampanye mengingat bahwa popularitas radio bagi masyarakat Amerika Serikat semakin menurun bersamaan dengan munculnya media massa siaran televisi. Oleh karena itu, para praktisi politik, para partisan politik, pemerhati politik kurang memberikan prioritas terhadap penggunaan media massa siaran radio sebagai media komunikasi, informasi, dan persuasi dalam pelaksanaan kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat, meskipun sebenarnya radio merupakan media yang praktis karena bisa didengarkan di mana saja dan kapan saja, bisa didengarkan sambil melakukan aktivitas lainnya. Mereka lebih memilih media massa siaran televisi karena televisi bisa memberikan tampilan lebih menarik dibandingkan kegiatan kampanye yang disiarkan melalui radio. Hal ini bukan berarti bahwa mereka tidak menggunakan radio; mereka tetap menggunakan radio, hanya porsinya tidak sebanyak yang mereka lakukan melalui media massa siaran televisi, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Dewasa ini televisi memang merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari oleh kedua belah pihak (para politisi dan para pemilik hak pilih) karena televisi mempunyai sifat yang berbeda dari media massa lainnya, yaitu bahwa televisi merupakan perpaduan audio-visual sehingga dengan demikian televisi memberikan kesan sebagai penyampai isi atau pesan seolah-olah secara langsung antara komunikator (pembawa acara atau pengisi acara) dengan komunikan (pemirsa). Informasi yang disampaikan melalui televisi mudah dimengerti karena secara bersamaan bisa didengar dan dilihat. Bahkan televisi bisa berperan sebagai alat komunikasi dua arah, khususnya dalam acara-acara ‘live show’.

Frank Allen Philpot dari Universitas Stanford (Rivers 2003:226) menyatakan bahwa liputan televisi lebih disukai para politisi karena liputan itu nampak lebih nyata dan akrab daripada foto atau kutipan pembicaraan mereka yang dipublikasikan lewat surat kabar, apalagi televisi bisa melakukan siaran langsung sehingga lebih dipercaya karena tidak dapat diedit seperti halnya media massa cetak. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Darlisa Crawford (2004:1) yang menyatakan bahwa dalam kampanye presiden tahun 2004, televisi menjadi sumber informasi utama bagi para pemilih. Lebih lanjut dikatakan bahwa di antara media massa yang ada, televisi merupakan ‘the most important provider of election media coverage’. Menurut CNN, menjelang tahun 2000, 98 % seluruh rumah tangga di Amerika Serikat paling tidak mempunyai satu set pesawat televisi. Televisi telah menjadi ‘the dominant source of political news for the American public’. Selanjutnya, menurut George Clark dan kawan-kawan dalam United States Elections 2000 (2000:41), televisi di Amerika Serikat telah menyebar luas dan memperbaiki wacana politik orang Amerika. Televisi merupakan medium demokrasi yang sesungguhnya. Semua orang menikmatinya; “literacy and wealth are no barrier”.

Bentuk-bentuk siaran televisi yang muncul dalam rangka menunjang pelaksanaan kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat adalah kampanye lewat iklan politik, siaran atau liputan berita biasa (reguler) maupun berita khusus berkaitan dengan kampanye, siaran debat terbuka calon presiden, diskusi dan dialog terbuka dengan calon presiden maupun tim kampanye mereka yang bisa melibatkan para pemirsa televisi. Siaran-siaran itu bisa diselenggarakan baik secara langsung maupun tidak langsung; dan biasanya untuk memikat pemirsa lebih banyak dan agar lebih efektif dan efisien, siaran diusahakan dalam jam tayangan ‘prime time’ antara jam 20.00 – 22.00, khususnya untuk siaran-siaran yang melibatkan partisipasi pemirsa secara langsung.

Bentuk penayangan iklan politik dipilih sebagai salah satu bentuk siaran televisi dalam rangka mensukseskan pelaksanaan kampanye pemilihan presiden. Kathleen Hall Jamieson, Dean of the Annenberg School for Communication at the University of Pennsylvania dan Director of the Annenberg Public Policy Center (Crawford 2004:2) berpendapat bahwa iklan politik sekarang merupakan ‘the major means by which candidates for the presidency communicate their messages to voters’. Selanjutnya, Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:331) menyatakan bahwa “political advertising in the form of posters, buttons, and slogans has a long history in American election campaigns.” Dari penayangan jenis ini pemirsa bisa mendapatkan informasi berkait dengan visi-misi dan program kerja yang dijanjikan; selain itu, pemirsa juga disodori penayangan figure kandidat presiden yang sengaja ditonjolkan supaya mempunyai ‘nilai jual’, artinya supaya bisa memikat calon pemilih. Para kandidat presiden dijadikan ikon-ikon baru (bisa juga disebut sebagai aktor-aktor baru) yang sengaja ditonjolkan dalam penayangan tersebut. Semua bentuk aneka penayangan iklan politik, pada prinsipnya, merupakan suatu alat yang dipakai untuk mempengaruhi publik, khususnya pemilik hak pilih, supaya memilih kandidat presiden yang ditayangkan atau memperkuat dan memperteguh pendirian calon pemilih yang sudah menentukan pilihan mereka. Oleh karena itu, diperlukan cara-cara penayangan yang sedemikian rupa sehingga mampu memberi kesan positip bagi pemirsa dan selanjutnya mampu mengoptimalkan ikatan emosional para calon pemilih baik yang belum menentukan pilihan maupun yang sudah menentukan pilihan.

Menurut Yusuf Maulana (2004:5), pengelolaan kesan merupakan bagian terpenting dalam komunikasi politik. Visualisasi tubuh dan artikulasi verbal dari para kandidat maupun tim sukses atau para aktor dan narrator dalam penayangan tersebut merupakan bagian dari fungsi bahasa yang harus diperhatikan sehingga dengan demikian penayangan itu merupakan hasil dari pengolahan citra melalui bahasa, yang menurut istilah Ben Anderson gejala ini disebut ‘penopengan’ yang mereduksi, bahkan mendistorsi pesan yang seharusnya tampil sebagaimana adanya. Dalam kampanye, tentunya, kesan atau citra yang ingin diperoleh adalah yang positip-persuasif yang kemudian mampu mendapatkan perhatian dari para pemirsa, yang akhirnya mampu mengubah persepsi atau memperteguh persepsi untuk memilih kandidat presiden yang dikehendaki dalam penayangan tersebut.

Bentuk penayangan berikutnya adalah liputan kampanye dalam acara berita reguler maupun dalam berita khusus yang disediakan oleh stasiun televisi dalam rangka kampanye. Cara penayangan ini juga menjadi media bagi para kandidat dan tim suksesnya untuk memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin kepada para pemirsa sehingga mampu memberikan wacana yang representatif dan komprehensif, yang pada akhirnya diharapkan bisa mempunyai daya pengaruh yang kuat bagi para calon pemilih untuk menentukan pilihan mereka. Demikian juga dengan bentuk penayangan melalui acara diskusi dan debat terbuka baik yang dirancang oleh stasiun televisi maupun yang dirancang oleh panitia pemilihan presiden. Semuanya itu dikemas dalam rangka memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin kepada para pemirsa, khususnya kepada target mereka, yaitu mereka yang mempunyai hak pilih. Acara diskusi dan debat terbuka baik yang disiarkan secara langsung maupun melalui siaran tunda mempunyai kekuatan dan daya tarik tersendiri karena melalui acara ini pemirsa bisa mendapatkan gambaran langsung tentang kualitas kandidat presiden yang ada; di pihak lain, masing-masing kandidat dan timnya bisa memaksimalkan cara persuasinya dalam berbagai bentuk tampilan untuk memikat calon pemilihnya.

Kekuatan Media Internet

Selain media massa tersebut, kini para praktisi maupun partisan politik juga menggunakan media internet dalam websites sebagai sarana komunikasi, informasi, dan persuasi berkaitan dengan pemilihan yang berlangsung di Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat dari makin banyaknya situs-situs di internet (websites) yang menyediakan informasi dalam arti luas (tulisan, audio-visual) berkaitan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat 2004. Situs-situs tersebut memberikan informasi lengkap dan persuasif karena situs-situs tersebut merupakan tampilan gabungan dari media cetak dan media audio-visual. Situs-situs bisa menampilkan seperti apa yang dipublikasikan oleh media massa cetak sekaligus juga bisa menampilkan sebagaimana yang disiarkankan oleh radio dan televisi. George Clack dan kawan-kawan (2000:42) menyatakan bahwa internet mengubah cara komunikasi politik dan sekaligus mengubah wacana publik di Amerika Serikat dengan cara yang halus. Internet telah mengubah dengan cepat jurnalisme Amerika dalam arti bahwa para reporter telah mampu dengan cepat mengakses ‘government documents and databases, public and private libraries, and archives of newspapers and other publications’. Menurut Bambang Cipto (2003:105), dewasa ini internet telah menjadi media yang cukup besar pengaruhnya terhadap perubahan politik dalam masyarakat Amerika. Hampir semua hal yang berkait dengan politik dan pemerintahan Amerika bisa diakses lewat websites mereka masing-masing. Setiap warga Amerika dapat menyampaikan keluhan, tuntutan, dan harapan mereka secara langsung kepada pemerintah maupun pejabat pemerintah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Lebih lanjut George Clack dan kawan-kawan menambahkan (2000:42),

As access to the internet grows, and it becomes easier to use, the internet will rise as a major means of political communication. Over the next 10 years, as a new political generation comes on-line, the internet will probably surpass television as the main mode of communication. And with the internet will come an even greater ability for the public to talk back.

Kutipan ini menunjukkan bahwa di masa mendatang internet akan menjadi salah satu media massa yang sangat berpengaruh atau bahkan bisa menjadi media massa yang unggul, khususnya dalam dunia politik dan pemerintahan, yang dalam hal ini, di Amerika Serikat.

Perubahan cara komunikasi politik ini juga dimanfaatkan oleh para praktisi politik, khususnya para tim pelaksana kampanye kepresidenan dengan menggunakan internet sebagai sarana komunikasi dan persuasi demi keberhasilan kerja mereka. Mereka menggunakan websites untuk berkampanye dengan memberikan informasi lengkap dan persuasif dalam tampilan aneka macam yang bisa dilengkapi dengan fasilitas audio-visual. Bahkan mereka menciptakan komunikasi dua arah lewat websites tersebut.

Berkait dengan kampanye kepresidenan 2004 ini, telah ada lebih dari ratusan situs di internet (websites) digunakan oleh para praktisi politik, para partisan politik, para pemerhati politik untuk melakukan usaha komunikasi, informasi, dan persuasi dalam proses mencapai keberhasilan kampanye bagi para kandidat presiden Amerika. Situs-situs itu dibuat baik oleh pihak pemerintah Amerika Serikat maupun oleh pihak para kandidat presiden dan tim pelaksana kampanye mereka sedemikian rupa sehingga menarik bagi para calon pemilih dan memudahkan mereka untuk mengakses. Hal ini dimaksudkan agar terjadi komunikasi dua arah yang tentunya akan sangat membantu kedua belah pihak untuk memperoleh hal yang mereka perlukan. Dari pihak masing-masing kandidat, mereka mempunyai kesempatan yang tanpa batas untuk menampilkan diri masing-masing berikut program-programnya agar dapat menarik perhatian dan mempengaruhi calon pemilih. Dari sisi calon pemilih, mereka memperoleh kesempatan untuk mendapatkan infomasi lengkap dari masing-masing kandidat sehingga mampu memperluas wacana mereka berkait dengan para kandidat dan program yang dimiliki, sehingga dengan demikian para pemilih dapat menjatuhkan pilihannya sesuai dengan yang mereka kehendaki, yang mereka harapkan. Mereka menentukan pilihan mereka atas dasar informasi yang mereka peroleh dari media massa tersebut.

Dari paparan analisis tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa media massa baik cetak, media massa siaran (elektronik) maupun media massa internet mempunyai peranan dan kekuatan yang sangat besar dalam kaitannya dengan usaha mencapai keberhasilan pelaksanaan kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat. Pihak para kandidat presiden dan tim sukses mereka bisa memaksimalkan komunikasi mereka dengan calon pemilih melalui media massa: surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet. Pihak calon pemilih memperoleh kesempatan maksimal untuk mendapatkan informasi para kandidat yang akan dipakai dalam menentukan pilihan mereka. Selain hal tersebut, kekuatan media massa dalam pelaksanaan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat juga terletak pada berbagai macam variasi tampilan dalam aneka bentuk dan cara sehingga mampu mengakomodasi beraneka macam selera dari kedua belah pihak: para kandidat dan tim mereka dengan para calon pemilih. Keberanekaragaman tampilan dalam media massa itu bukan hanya mampu merepresentasikan aneka selera kedua belah pihak melainkan juga melengkapi pelaksanaan kampanye secara langsung yang diadakan, yang pada akhirnya mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya calon pemilih presiden di Amerika Serikat.

Jadi Apa Yang Kita Lakukan?

Mengingat semua realitas, apakah orang Amerika kebal dari inovasi apapun dalam kebijakan informasi nasional? Apakah perjalanan tanpa henti hanya inovasi teknologi terus tanpa dipengaruhi, atau terganggu, oleh polieymakers atau kehendak
yang elcctonitc. Dengan kata lain, apakah kita punya pilihan? Apakah ada masalah bahwa akan memungkinkan orang amerika untuk memanfaatkan teknologi informasi bahkan lebih dari yang mereka lakukan masa ini atau. minimal, lebih efektif? Jawaban untuk pertanyaan ini umumnya ya, ada lebih banyak yang harus dilakukan dan ada pilihan. Ada isu-isu signifikan,penting untuk diselesaikan , dan mereka pergi ke luar hanya menanggapi munculnya Internet. Dan bangunan dasar batu, fasilitator penggunaan informasi amerika, telah berkombinasi,keyakinan politik nasionalnya dan bentuk pemerintahan yang ada untuk melaksanakan ini, dari sudut pandang praktis harus berpaling kepada orang-orang politik, masyarakat diperlukan untuk mengimplementasikan perubahan untuk mengatasi banyak masalah mendasar yang berkaitan dengan informasi.

Ahli dalam penyediaan dan penggunaan informasi yang telah berpikir tentang masalah ini ,apa yang harus dilakukan berikutnya. Lawrence K. Grossman, misalnya, menulis sebuah buku utuh pada subjek, The Electronic Republic.Ia mengakui bahwa warga negara akan memainkan peran yang lebih besar, lebih langsung, peran dalam kegiatan orang amerika daripada di masa lalu, yang disebabkan oleh dua tren jangka panjang. Dimasukkannya lebih banyak orang berhak untuk memilih dan, tentu saja, munculnya teknologi informasi yang memiliki informasi dan melibatkan orang-orang yang mewakili di tempat kerja. Ia melihat banyak tren terbaru dari perkembangan ini:ekstensi inisiatif suara perluasan , pembukaan pengadilan, munculnya ketidakpuasan publik, memperluas kekuatan opini publik, dan memperluas pengaruh media dengan segala bias dan dicampur. Orang menjadi lebih terlibat, televisi memberikan banyak kegiatan politik, kualitas yang menghibur.

Grossman khawatir tentang beberapa perkembangan. Pertama, konsentrasi media di tangan beberapa korporasi besar, karena menimbulkan potensi bias dalam penyajian informasi. Dia juga gugup tentang protessionalization politisi, yang mungkin membuat mereka kurang responsif terhadap keinginan publik. Jajak pendapat menunjukkan Amerika menemukan televisi, khususnya, bersalah sensationalizing kejahatan, untuk instanee, atau mengubah krisis yang berbahaya, seperti Perang Teluk, menjadi hiburan. "Solusi-Nya adalah sama diusulkan oleh Thomas Jefferson," yang mendesak langkah-langkah yang harus diambil untuk meningkatkan kualitas musyawarah warga di ruang publik.

Panggilan Gosman di Amerika untuk menjaga kebebasan berbicara dengan menerapkan Amandemen Pertama untuk semua media yang sama, dan tidak ada kendala untuk menempatkan tanpa batasan hal apa saja. Pemerintah harus terus mendorong keanekaragaman kepemilikan media dan kontrol Dia menggambarkan dengan pendapat bahwa harus ada akses yang universal terhadap semua bentuk informasi elektronik, bahkan mengatakan bahwa hal ini harus bebas jika perlu. Untuk memastikan laporan yang akurat, ia menyarankan agar undang-undang pencemaran nama baik direformasi, menuntut media untuk liputan yang tidak akurat,dan meningkatkan volume laporan yang substantif untuk meningkatkan kualitas informasi yang disajikan kepada orang amerika, seperti yang dilakukan oleh CNN dan G-SPAN. Orang amerika juga menginginka bahwa demi penyelenggaraan pemilu yang ideal hendaknya melakukan tata ara yang semestinya.

Sebuah tim profesor komunikasi juga menganjurkan reformasi sistem politik dan bagaimana informasi tentang masalah-masalah nasional mengalir melalui masyarakat. W. Russell Neuman, Lee McKnight, dan Richard Jay Salomo gema, kekhawatiran yang sama diungkapkan oleh Grossman. Namun, mereka melihat penciptaan dan penggunaan jaringan nasional yang tersedia untuk semua sebagai isu sentral. "Kami menyarankan proaktif kebijakan nasional untuk membuat komunikasi dan penyediaan informasi kejahatan kompetitif," yang mereka percaya kemudian berarti bahwa " peraturan kepemilikan penyiaran dan tingkat kereta peraturan umum di bidang telekomunikasi tidak lagi diperlukan."16 Mereka menyebut untuk teknis arsitektur terbuka, yang berarti siapa pun dan bentuk apapun teknologi dapat steker ke pekerjaan yang bersih, terbuka, universal, dan dengan akses yang fleksibel bagi semua. Singkatnya, mereka menganjurkan bahwa pejabat pemerintah memainkan peran historis dalam penciptaan informasi fosteringkan infrastruktur "Keyakinan kami adalah bahwa kebijakan publik akan memainkan peran dalam evolusi sosial dan ekonomi untuk abad berikutnya." 17 'Jadi melampaui peran yang ditetapkan untuk FCC pada tahun 1934, dan didefinisikan kembali dalam 1W6 undang-undang Komunikasi.

Saran ini memiliki arsitektur yang terbuka, sementara itu konsisten dengan nilai-nilai dan praktek nasional, dan tidak mengatasi masalah regulator federal yang mengatur masing-masing jenis teknologi telekomunikasi yang hampir secara independen satu sama lain pada saat perkembangan teknologi digital menyebabkan semua bentuk komunikasi menyatu, masuk akal, tapi terlalu sempit. Dikatakan bahwa sebagai isu sentral saat ini kebijakan publik terhadap informasi: integrasi efektif teknologi digital ke dalam kehidupan politik Amerika dengan cara-cara yang konsisten dengan keinginan bangsa. Sejarah bangsa dan politisi menunjukkan keyakinan arsitektur terbuka, akses universal, sebuah sebagai ¬ pirasi untuk rincian dan informasi yang akurat.

Carl Shapiro dan Hal Varian, dua ekonom yang sangat berpengaruh, sebagai ahli di Internet, telah diam-diam membuat sejumlah rekomendasi untuk pembuat kebijakan federal tentang bagaimana merespons isu yang lebih besar dari pemerintah Amerika. Mereka mengakui bahwa pemerintah Amerika selalu memiliki kebijakan informasi. Kami melihat bahwa realitas menunjukkan dengan penciptaan konstitusi, sistem postal, cara yang diatur pemerintah dalam hal telepon, kemudian radio dan TV, dan bagaimana wajah Internet dan berbagai konvergen teknologi, dari telepon nirkabel, dari TV untuk suara. Shapiro dan Varian berpendapat bahwa ada tiga peran dasar pemerintah telah dan harus berperan: sebagai pencipta dan disseminators informasi, sebagai regulator dan pengguna informasi, dan sebagai pencipta dan implcmentors kelembagaan dan prasarana hukum (misalnya, membuat aturan privasi dan menegakkan kebijakan antitrust). Mengandalkan analisis ekonomi, mereka telah menunjukkan bahwa pemerintah penciptaan pengetahuan yang paling baik ketika dana penelitian dasar, seperti yang terjadi dengan penciptaan komputer dan kemudian Internet. Jadi mereka ingin lebih dari itu. Mereka pikir itu baik-baik saja bagi pemerintah untuk memulihkan biaya informasi." Mengenai akses universal mereka berpendapat kasus untuk pencocokan hibah ke berbagai lembaga dalam masyarakat untuk mengembangkan infrastruktur informasi. Mereka mengutip pandangan Andrew Carnegie, yang mendanai construksi dari banyak perpustakaan umum di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Shapiro dan Varian berperan utama untuk pemerintah dalam melindungi hak cipta, paten, dan merek dagang, meskipun mereka tidak selalu puas dengan kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh pejabat publik di wilayah itu. Fleksibel mempertahankan hak milik kekayaan intelektual dan privasi adalah sebuah peran berharga yang ekonomis.

Dalam bidang persaingan, mereka sangat mendukung inisiatif federal untuk mendorong persaingan untuk memberikan barang dan jasa yang baru, lebih efektif, dan biaya yang efisien. Ini berarti mereka khawatir mengenai kemampuan pemerintah untuk mengatur industri informasi. Mereka melihat masalah-masalah yang telah mempengaruhi FCC, misalnya, dalam bidang kabel telepon dan regulasi, mereka merekomendasikan bahwa pemerintah mempromosikan perdagangan internasional dalam teknologi informasi. Ini juga merupakan masalah yang telah menimbulkan perdebatan, seperti yang kita lihat sekarang adalah mengenai masalah akses ke pornografi melalui Internet.

Sehubungan dengan Internet, konvergensi dari tekhnology menimbulkan beberapa masalah dari sudut pandang politik nasional dan kebijakan. Kenyataannya teknologi digital memungkinkan untuk berkumpul berbagai bentuk digital informasi berbasis platform yang tidak dapat dihentikan oleh pemerintah karena masalah tren. Tidak seperti di dekade sebelumnya, di mana sebagian besar inovasi mungkin terjadi dalam satu negara, perkembangan teknologi saat ini berasal dari berbagai negara, misalnya, Eropa dengan peralatan nirkabel atau informasi dari Asia Timur. Jadi tentu saja kunjungan ke situs Web FCC akan membuat terang-terangan jelas, karena isinya katalog-potong menurut jenis teknologi, (membiarkan kebijakan peningkatan hak dan akses yang memungkinkan).

Yang mendasari penggunaan informasi dalam setiap era telah ada pendidikan dan keaksaraan. Melek memungkinkan untuk membaca, dan walaupun banyak data di Amerika Serikat yang dalam bentuk suara dan gambar, sebagian besar dari apa yang kami gunakan dalam memberitahukan pekerjaan dan agama kami adalah tekstual. Amerika pada semua tingkatan harus terus fokus pada pemeliharaan keaksaraan. Terkait erat dengan keaksaraan dan peran informasi adalah pendidikan. Banyak orang memiliki komentar tentang nilai dan kebutuhan pendidikan, dan jelas ini adalah bangsa yang telah membuat investasi besar di sekolah-sekolah, akademi, dan universitas . Mahasiswa, dosen, adalah konsumen informasi, sehingga kami dapat berharap bahwa andalan mereka pada informasi dan dukungan mereka dalam pembentukan teknologi akan tetap pada tingkat yang sangat tinggi untuk masa yang akan datang. Memahami bagaimana menerapkan teknologi informasi, seperti Internet, akan terus taktis. Membuat hubungan antara teknologi informasi, seperti internet.Peralatan informasi inovatif, seperti berbagai perangkat genggam, yang datang dari Asia Timur, sementara Eropa Barat sekarang memimpin dunia dalam pengembangan dan penggunaan komunikasi nirkabel.

Pertanyaan pejabat publik mulai menghadapi busur luas dan terperinci: Apa yang harus menjadi kebijakan AS terhadap Cina, yang kadang-kadang diperbolehkan dengan musik dan industri film yang kembali memproduksi dan menjual materi hak cipta AS tanpa ijin dari penulis?

1. Apakah manfaat perang dagang? Bagaimana dengan perang militer?

2. Dalam teknologi pemerintah AS seharusnya menginvestasikan dana R & D?

3. Apakah pembaharuan Presiden George W. Hush dalam Star Wars sistem pertahanan peluru kendali cukup spin off penggunaan teknologi baru di sektor sipil bahwa inisiatif harus diinvestasikan lebih lanjut, melampaui alasan-alasan militer?

4. Ketika pemerintah Amerika melanjutkan misi bersejarah pembentukan adopsi bentuk-bentuk demokratis di seluruh dunia, apakah itu mempromosikan demokrasi yang representative dan direktif?

5. Pada saat praktek demokrasi AS yang perlahan-lahan mencampuran keduanya, apakah itu memunculkan pengalaman yang mempengaruhi kebijakan inisiatif bangsa luar negeri tertentu? Efek apa yang salah satu bentuk demokrasi miliki atas yang lain dalam satu bangsa lain, versus another?

6. Jika negara semakin disejajarkan oleh budaya dan agama dalam era post cold war, apa efek informasi teknologi pada kedua hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan kebijakan luar negeri mereka?

Pejabat publik sudah menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini; tidak ada masalah ini akan diabaikan semenjak dua dekade pertama pada abad ke-21.

Jika kita menyelami isu seperti keamanan fisik dan perdagangan dunia, itu berarti bahwa kita kembali ke nilai-nilai yang dibuat Info-Amerika tentang apa yang menjadi. Amerika Serikat dapat menggambarkan bahwa pada dasarnya nilai kebebasan berekspresi, kebebasan untuk mengeksploitasi informasi untuk nilai ekonomi, sebuah peran fasilitatif pemerintah dalam mendorong dan mempromosikan penciptaan informasi infrastruktur, b Amerika selalu memiliki keyakinan yang mendasar dalam nilai teknologi. Meskipun banyak kasus di mana teknologi telah menciptakan masalah, seperti polusi atau serangan terhadap privasi, kenyataannya adalah, Amerika kembali goyah dalam keyakinan mereka dalam teknologi. Mereka akan mencapai ke sana dalam segala bentuknya, termasuk informasi, untuk meningkatkan semua aspek kehidupan mereka. Manfaat memiliki keterbatasan melebihi kegemaran mereka untuk menggunakan teknologi. Untuk alasan itu, kita dapat berharap bahwa akan ada inovasi-inovasi baru baik dalam teknologi informasi dan bagaimana digunakan dalam tahun-tahun yang akan datang. Teknologi tetap menjadi ciri utama Amerika, suatu sikap yang mendukung informasi.

Karena ciri utama dari peran teknologi pada masyarakat amerika, penghargaan terhadap bagaimana orang Amerika mungkin menggunakannya di masa depan ditentukan oleh apa yang terjadi dengan alat-alat informasi. Sejarah teknologi informasi penuh dengan ujian, dan kita akan melalui fase seperti sekarang. Banyak dari dasar-dasar ilmu teknologi informasi undergirding masih baru, jadi kita hidup dalam masa di mana pengetahuan ini sedang diterapkan-dieksploitasi.

Daftar Pustaka

Chaffee, Steven H., Michael J. Petrick. 1975. Using the Mass Media, Communication Problems in American Society, New York: McGraw-Hill, Inc.

Cipto, Bambang, Politik dan Pemerintahan Amerika, Yogyakarta: Lingkaran, 2003

Clack, George (ed). 2000. United States Elections 2000, U.S. Department State, Office of International Information Programs

Crawford, Darlisa. 2004. Television Primary Information Source for Most 2004 Voters, http://usinfo.state.gov/dhr/Archive/2004/May/21-752499.html

DiClerico, Robert E., Allan S. Hammock (ed), Points of View, Readings in American Government and Politics, Fifth Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.,1992

Dirgantara Online. Sejarah Radio di Amerika Setikat. http://dirgantara.idxc.org/dirga7/0704e.shtml, diakses tanggal 30 Nopember 2009

Election Focus 2004. 2004. Issue 1 no 11, May 21, 2004, Bureau of International Information Programs, The Department of State, Washington DC

Hall, Jane. 2000. Gore Media Coverage – Playing Hardball, http://archives.cjr.org/00/3/hall.asp,

Hart, Roderick P., Mary Triece. 2004. U.S. Presidency and Television, http://www.Museum.tv/archives/etv/U/htmlU/uspresiden/uspresiden.htm.

Hiebert, Ray Eldon, Donald F. Ungurait, Thomas W. Bohn. 1991. MASS MEDIA VI, An Introduction to Modern Communication, New York: Longman

Janda, Kennet, Jeffrey M. Berry, Jerry Goldman. 1987. The Challenge of Democracy, Government in America, Boston: Houghton Mifflin Company.

Jarvis, Sharon, Presidential Nominating Conventions and Television, http://www.museum.tv/archives/etv/P/htmlP/presidential/presidential.htm. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Jiwangga.com. Kebebasan dan Deokrasi. 2009. http://jiwangga.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25:kemerdekaan-dan-demokrasi-&catid=1:ideas&Itemid=3. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Kaid, Lynda Lee, Political Processes and Television, http://www.museum.tv/Archives/etv/P/htmlP/politicalpro/politicalpro.htm. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta: Rineka Cipta.

Martin, William. 1995. The Global Information Society. England: ASLIB Gower

Maulana, Yusuf. 2004. Kredibilitas Iklan Politik di Televisi, Kompas, Sabtu, 26 Juni 2004, hal. 5

Murti, Bambang Hari. 2000. “Peran Media Massa dalam Politik Luar Negeri Amerika Serikat”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol VI Januari-Juli 2000, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia

Party, Robert. 2000. Al Gore v. the Media, http://www.consortiumnews.com/2000/ 020100a.html

Pemerintahan Terbuka Vs Pemerintahan Tertutup. 2004.

http://www.yayasanhak.minihub.org/direito/txt/2003/24/04_direito.html. Diakses tanggal 1 Desember 2009

Pidato Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2006. http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/karya/konseppeningkatandayasaingpadapelayananjasainformasidiperpustakaan.doc. Diakses tanggal 1 Desember 2009

Pontoh, Coen Husain. 2006. Demokrasi Amerika. http://coenpontoh.wordpress.com/2006/05/26/demokrasi-amerika-2/, diakses tanggal 30 Nopember 2009

Rivers, William L, Jay W. Jensen, Theodore Peterson. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi Kedua, Jakarta: Kencana.

Solomon, Norman. 2004. Presidential Campaigns and Media Charades, http://www.Commondreams.org/views04/0618-05.htm

Suwardi, Harsono. 2000. “Media Massa dan Pemerintah di Amerika Serikat”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol VI, Januari-Juli 2000, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia

Swerdlow, Joel L. (ed). 1987. Presidential Debates 1988 and Beyond, Congressional Quarterly Inc.

Wayne, Stephen J., 1984. The Road to the White House, The Politics of Presidential Elections, New York: St. Martin’s Press

Zeffrey. 1997. “Sistem Media di Amerika dan Hubungan di antara unsur-unsurnya”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol III, Jan-Des 1997, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia



[1] http://jiwangga.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25:kemerdekaan-dan-demokrasi-&catid=1:ideas&Itemid=3

[2] http://www.yayasanhak.minihub.org/direito/txt/2003/24/04_direito.html

[3] http://dirgantara.idxc.org/dirga7/0704e.shtml