Kamis, 08 Oktober 2009

Friedrich Nietszche






FRIEDRICH NIETZSCHE:
MEMUTARBALIKKAN NILAI-NILAI

Alasan pemilihan Filsafat Nietzsche sebagai tema tulisan ilmiah ini adalah ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak tentang sejarah kehidupan Nietszche dan pemikirannya. Terutama adalah untuk mengetahui tentang pengaruhnya terhadap pemikiran Posmodernis. Bagaimana ia dapat memiliki pemikiran-pemikiran yang menolak filsuf-filsuf sebelum dirinya, siapakah orang-orang yang mempengaruhi pemikiran-pemikirannya, mengapa ia memiliki penolakan yang seakan radikal terhadap agama. Selain hal di atas, pemilihan tema ini juga didasarkan pada data yang cukup mengenai sejarah hidup Nietzsche.
A. Riwayat Hidup Singkat
Nietzsche merupakan tokoh yang menggali makna hidup manusia. Ia akhirnya menemukan bahwa eksistensi manusia berakhir pada absurditas. Ia melihat bahwa nilai-nilai yang dihayati manusia itu berasal dari kaum lemah yang akhirnya melemahkan dan memper­budak manusia sejati. Karena itu, nilai-nilai yang sekarang dihayati manusia harus dirombak dan harus digantikan dengan nilai-nilai yang berasal dari kehendak manusia yang berkuasa. Nilai-nilai moral, religius itu omong kosong karena yang ada hanyalah nilai-nilai material, badani, duniawi. Marilah kita menyimak bagaimana filsuf ini mengemukakan pandangan-pandangan dan usahanya yang sangat revolusioner itu.
Friedrich Nietzshe lahir di Rohen Jerman pada tanggal 15 Oktober tahun 1844, lahir di Rocken, Prusia, Jerman Timur, di lingkungan keluarga Kristen yang taat. Ayahnya seorang pendeta Lutheran terkemuka dengan garis kependetaan yang terwaris dari turun temurun dari keluarga ayahnya. Kakeknya adalah pedeta Gereja Lutheran yang menduduki jabatan cukup tinggi, sementara ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat.
Nietzcshe menjadi anak yatim pada saat usianya 5 tahun, ibu, nenek, kakak-kakaknya serta tantenya yang memelihara dan mendidiknya. Sehingga dia tumbuh seperti pendeta cilik yang menghormati keteraturan, kerapihan dan kejujuran. Ia membenci teman-teman yang nakal, suka mencuri serta merusak milik orang lain. Di Univiersitas ia terkenal sebagai seorang peminat seni klasik dan mahasiswa filologi.
Usia 18 tahun, ia mulai kehilangan kepercayaannya pada agama Kristen dan mulai mencari Tuhan dan kepercayaan baru. Sejalan dengan itu gaya hidupnyapun berubah total, ia mulai hidup bebas, tidak beraturan, pesta pora, mabuk-mabukan dan memuaskan hasrat seksualnya.
Beberapa waktu kemudian, ia kembali menjadi seorang agamis, yang mengatakan bahwa orang yang minum bir dan menghisap tembakau tidak memiliki pangan yang jernih dan pemikiran yang mendalam. Tahun 1865, ia membeli buku Schopenhauer, Die Welt als Wille und Vorstellung (1818) atau The World as Will and Idea (Dunia sebagai kehendak dan Ide). Buku ini memberikan semangat dan menghasilkan pemikiran spektakuler. Usia 23 tahun, ia bergabung dengan tentara untuk ikut perang tapi karena kesehatannya tidak mendukung ia kembali ke dunia ilmiah dan akademik.
Tahun 1869, usia 25 tahun, ia menjadi guru besar Filologi di Universitas Basel Swiss, ia sangat mengagumi musikus Richard Wagner. Disini dia bersahabat dengan Richard Wagner dan istrinya Cosima seorang komponis masyhur. Kemudian Nietzcshe membencinya karena Wagner dianggap tetap menjunjung tinggi agama. Tahun 1879, Nietzshe terpaksa pensiun karena sakit-sakitan lalu pindah ke Swiss. Sesudah itu, ia menggelandang di Swiss, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1889 ia sakit jiwa di Torino, Italia lalu dipelihara oleh ibu dan kakaknya. Pada tahun 1900 ia meninggal setelah 10 tahun menderita sakit.
B. Karya-karya Nietzsche
Karya-karya Nietszche dari tahun 1879-1910 adalah:
  1. 1872 : D Geburt der Tragödie/ The Birth of Tragedy (Kelahiran tragedi)

  2. 1873-1876 : Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan non-kontemporer)

  3. 1878-1880 : Menschliches, Allzumenschliches/ Human all, to Human (Manusiawi, terlalu manusiawi)

  4. 1881 : Morgenröthe/ The Dawn of Day (Merahnya pagi)

  5. 1882 : Die fröhliche Wissenschaft/ The Joyfull Wisdom (Ilmu yang gembira)

  6. 1883-1885 : Also sprach Zarathustra (Maka berbicaralah Zarathustra
Buku ini menyampaikan gagasan utamanya "Manusia Unggul dan Pengulangan Abadi"

  1. 1886 : Jenseits von Gut und Böse (Melampaui kebajikan dan kejahatan)

  2. 1887 : Zur Genealogie der Moral/ The Genecology of Moral (Mengenai silsilah moral)

  3. 1888 : Der Fall Wagner (Hal perihal Wagner)

  4. The Anti Crist, 1888

  5. 1889 : Götzen-Dämmerung (Menutupi berhala)

  6. 1889 : Der Antichrist (Sang Antikristus)

  7. 1889 : Ecce Homo (Lihat sang Manusia)

  8. 1889 : Dionysos-Dithyramben

  9. 1889 : Nietzsche contra Wagner

  10. 1910 : The Will to Power diterbitkan Anumerta, 1910
Buku-buku ini di tulis pada masa ia berkelana untuk mengobati berbagai penyakit yang dideritanya dan masa frustasi. Tahun 1888, ia didiagnosa gila oleh dokter karena tingkahlakunya makin aneh dan tahun 1900, ia meninggal dan tulisan-tulisannya berhasil di sunting oleh kakaknya Elizaberth.
C. Kutipan Nietzsche

  1. "Saya bukan seorang manusia, saya adalah sebuah dinamit!"

  2. "Yang penting bukanlah kehidupan kekal (das ewige Leben), melainkan kekal-nya 'yang menghidupkan' (die ewige Lebendigkeit)! "

  3. "Tuhan sudah mati"

D. Latar Belakang Filosofi Nietzsche
Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. Selain itu, Filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Dan juga Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis, yaitu Apolline dan Dionysian. Sehingga Nitzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Oleh karena itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup.
1. Tuhan Sudah Mati (God is Dead)
Gilles Deleuze dalam bukunya, Filsafat Nietzcshe, 2002, mengemukakan bahwa frasa Nietzcshe yang terkenal Tuhan telah mati dan dianggap sebagai bukti bahwa Nietzcshe ateisme. Nietzcshe adalah seorang pemikir Jerman yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pemikir yang terlalu awal lahir sehingga pemikir-pemikir tidak terkenal dan tidak dapat dipahami orang-orang dimasa hidupnya. Tuhan mati dan yang membunuhnya adalah manusia sendiri. Konsep ini sebenanrnya tidak aneh, karena memiliki persamaan dengan kematian Yesus.
"Gott ist tot! Gott bleib tot! Und wir haben ihn getotet!, lihat Aforisme No. 125: 95-96, Nietzcshe 1990: 181-182) "Tuhan sudah mati, Tuhan terus mati dan kita semua telah membunuhnya".
Nietzcshe menganggap bahwa kepercayaan manusia Barat pad aTuhanlah yang merupakan pangkal semua kemunduran dan taglid buta masyarakat. Dengan mematikan Tuhan, Nietzcshe berharap dapat menjadikan manusia sebagai manusia unggul yang menentukan segalanya berdasarkan kemauannya sendiri. Setelah membunuh Tuhan akan timbul kekosongan nilai-nilai universal yang berlaku, kondisi kekosongan inilahyang disebut Nietzcshe dengan nihilisme. Untuk mengubah kondisi kekosongan nilai-nilai itu diperlukan keberanian untuk menjadikan semua potensi dan kemauan manusia untuk mengatasi semua keterbatasannya. Potensi dan semua kemampuan manusia yang ada di dalam dirinya itulah yang disebut Nietzcshe dengan Ubermensch. Kepercayaan pada Tuhan dalam pandangan Nietzcshe menunjukkan kelemahan manusia itu.
2. Nihilisme
Nihilisme dapat diartikan sebagai ketiadaan makna serta penolakan pada nilai-nilai absolut, karena itu yang ada adalah kekosongan nilai-nilai. "Nich ist wahr, alles ist erlaubt" Tidak ada sesuatu yang benar, segalanya diperbolehkan (Genecollogy, 1996: 121) sehingga pernyataan dan pengakuan akan kebenaran dalam pandangan Nietzcshe adalah palsu.
Dalam mengatasi nihilisme manusia harus menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan mengadakan pembalikan nilai-nilai (transvaluation of all values), pembalikan nilai-nilai ini sebagai bukti kekuatan semnagat untuk menjadi manusia unggul.
Pemikiran Nietzsche bisa diringkaskan sebagai eksistensi manusia lama itu nihilisme, maka mesti diperbaharui. Nihilisme merupakan paham pemikiran yang menyatakan bahwa makna hidup manusia berakhir dalam ketanpaartian. Dalam pemikiran Nietzsche paham ini dipuncakkan dengan menunjukkan nihilisme nilai-nilai yang ada dan ia mewartakan nilai-nilai baru yang harus dihayati secara baru dengan moral baru yang bertolak pada manusia eksis­tensial secara baru pula.
Secara sepintas nihilismenya mempunyai arti yang sama dengan usaha melenyapkan - memusuhi nilai-nilai. Baginya nihilisme berarti melenyapkan nilai-nilai imanen, fisik, sejarah, material dengan cara menegaskan berlakunya nilai-nilai absolut, langgeng. Dengan demikian nilai-nilai yang kita pandang absolut, langgeng itu berlaku sebaliknya bagi Nietzsche.
Dalam kerangka nilainya, Nietzsche bertitik tolak dari suatu pandangan revolusioner, yaitu bahwa nilai-nilai absolut (nilai-nilai rohani), transenden dan seterusnya itu benar-benar memalu­kan, melemahkan manusia sejati yang merupakan kumpulan nilai remeh dan lemah yang diajarkan kaum imam dan penguasa yang mengajak umat manusia untuk baik, tunduk, rendah hati sehingga membuat manusia seperti unta yang mesti membawa semua beban kehidupan di punggungnya.
Bagi Nietzsche sebenarnya hanya ada nilai-nilai otentik yang sejati, yaitu nilai-nilai material, nilai-nilai tubuh, nilai-nilai hidup, nilai-nilai dari bumi ini di dunia ini.
Nietzsche sendiri sebelum meninggal berkata bahwa dalam seluruh hidupnya ia mempunyai satu tujuan, yaitu melenyapkan nilai-nilai transenden, rohani yang menjadi dasar kebudayaan Barat dan mau melaksanakan penggantian nilai-nilai. Dengan itu ia mau memulai suatu kebudayaan baru "dengan bangkit kembali, menapak selangkah lebih tinggi dari keadaan dan pandangan hidup yang lemah dan sakit menuju tapak konsep-konsep yang lebih sehat, menuju nilai-nilai kepastian dan kekayaan diri pribadi dalam hidup yang penuh. Sayalah guru itu dan dengan kepalan tanganku, aku siap merobek nilai-nilai yang melemahkan untuk menggantinya". Semua karangan dan tulisan dari tahun 1888-1889 mengarah ke ambisi tersebut sebagai karya sistematis tentang nihilisme nilai-nilai dan usaha penggantiannya (sampai ia sendiri lalu tidak waras).
Jika ditelusuri, ada dua bentuk pemikiran dalam jalan pemi­kiran nihilisme Nietzsche. Di satu pihak, pemikirannya bersifat merombak, mendobrak, dan menghancurkan (una pars destruens). Di sini yang menonjol adalah pola pemikiran untuk memusnahkan nilai-nilai kekal, absolut dengan seluruh wujud-wujudnya yang diketahui terutama moral, agama, dan filsafat yang mendukung sistem nilai absolut tersebut. Ia menyerangnya dengan sistematis dan garang. Di lain pihak pemikirannya mempunyai pola membangun (una pars construens) yang meliputi uraian teori baru tentang nilai-nilai lalu disusul konsepsi baru mengenai realitas (itu berarti konsep­si vital dan dionisius).
Dari empat buku pokoknya, tiga buku ditulis untuk pola yang pertama, yaitu merombak nilai-nilai absolut dan satu buku untuk pola yang kedua, yaitu untuk membangun dasar nilai-nilai baru. Seluruh karyanya berjudul Volontadi Potenza (Kehendak untuk Berkuasa) atau Transvalutasi (Penggantian Semua Nilai).
Ia merencanakan membagi Transvalutasi dalam :
Buku I : Antichrist, sebagai usaha untuk mengritik habis-habisan Kristianisme.
Buku II : Roh yang Merdeka (Lo Spirito Libero), sebagai kritik terhadap filsafat yang merupakan usaha yang nihil.
Buku III :The Immoralist, sebagai kritik terhadap moral yang merupakan ketidaktahuan yang paling kekanak-kanakan.
Buku IV: Dionisius, sebagai sebuah filsafat tentang kembali­nya keabadian.
Ia membuat strategi yang cukup pintar dengan menjual pemikiran pertamanya di pasar, lalu nilai-nilai barunya ia masukkan untuk mengganti nilai-nilai lama yang mau dibasminya.
3. Kembalinya Segala Sesuatu
Ada 2 konsep penting yang dikemukakan Nietzcshe melalui bukunya Thus Spake Zarathustra, 1884 yaitu Kembalinya Segala Sesuatu (eternal recurrence of the same) atau pengulangan abadi serta uberbermensch (overman, superman). Nietzcshe menyatakan bahwa segala sesuatu pergi segala sesuatu datang kembali berputarlah roda hakekat itu secara abadi. Konsep ini juga mengemukakan tentang alam yang tidak berawal dan berakhir.
Masa depan kita ditentukan sendiri oleh pikiran-pikiran tindakan kita sekarang. Alasannya adalah karena ini dapat mendorong manusia untuk mencari kebahagiaan dalam hidup karena kebahagiaan itu kelak berulang lagi sehingga manusia tidak perlu takut mati. (lihat Vattiono, 2002:107).
4. Ubermensch
Ubermensch adalah manusia super yang menentukan sendiri makna dan tujuan hidupnya, sebagai pengganti manusia yang ditentukan oleh Tuhan yang sudah mati. Ada istilah lain yang sama maksudnya dengan konsep ubermensch Nietzsche yaitu der letzte mensch atau the last man atau manusia terakhir. Manusia unggul adalah upaya untuk mencapai terus menerus keunggulan manusia.
Tracy B. Strong menjelaskan bahwa sikap Zarathustra dibentuk dari sintesa Yesus dengan Socrates. Socrates kritis terhadap kebiasaan-kebiasaan lokal yang ada pada kebudayaan yunani dengan metode dialektis yang menyatakan tidak pada segala sesuatu. Yesus tumbuh besar dilingkungan kekafiran.
Super manusia adalah manusia yang tahu mengikuti dan langsung sambung pada irama tari hidup. Dialah yang menerima seluruhnya, dialah yang menghargai seluruhnya, dialah yang mengagungkan seluruhnya, dialah yang tidak pernah menolak apa-apa yang dianu­gerahkan oleh hidup yaitu baik maupun buruk, indah maupun buruk, suka maupun duka.
Super manusia merupakan formula sesanti dari penegasan "ya" penuh yang lahir dari kepenuhan diri yang samasekali tidak pernah mau peduli dengan duka sendiri, kesalahan sendiri, problem, dan masalah eksistensi.
Untuk dapat mencapai manusia super, manusia mesti melewati metamorfosis ganda, yaitu:
a. metamorfosis pertama, akan mengubah eksistensi unta berbeban dan mudah taat (yaitu manusia baik, rendah hati, tunduk, religius, moralis) menjadi singa yang agresif (yaitu roh kebebasan, otonom, tuan pada diri sendiri, penentu mutlak tindak-tanduk dan perbuatannya sendiri).
b. metamorfosis kedua, akan mengubah manusia dari singa yang ganas tadi menjadi kanak-kanak murni yang selalu mengagumi dan mencintai realitas dalam semua ungkapannya dan sisinya. Ia akan berseru gembira dan menyatu dengan hidup.
Hidup yang dipunyai manusia super dalam ujudnya yang paling penuh pada saat yang sama mempunyai pula hukum-hukumnya yang tegas yang oleh Nietzsche diungkap dengan istilah eterno ritorno (pulang ke keabadian). Artinya semua yang ada secara abadi kembali dan kita juga kembali. Kita sudah menyatu dengan semua dan semua ke kita. Hadirlah tahun menjadi yang sama dengan sebuah roda putar. Semua harus membalik lagi agar selalu dapat habis.
Pada dentang waktu tersebut semua tahun sama baik yang besar maupun yang kecil. Semua akan kembali lagi, berputar lagi secara abadi dalam lingkar putar eksistensi. Semua akan mati dan akan bangkit lagi. Semua yang pecah berkeping-keping akan diutuhkan kembali. Secara kekal semuanya akan membangun rumah yang sama dari eksistensi. Semuanya saling dipisahkan dan diruntuhkan lagi. Yang selalu setia pada diri sendiri adalah domba eksistensi.
Pada setiap penantian, waktu dan eksistensi kembali mulai berputar lagi . Lautan kehidupan tidak dapat melahirkan selain menjadi rahim dari serentetan eksistensi. Itu pun selalu membaharui diri kembali secara kekal dalam roda tertutup dan putar yang pasti.
Dalam hukum kembali ke keabadian kekal tentu saja termasuk manusia di dalamnya, baik manusia kecil maupun besar, baik pengecut, baik, pemberani, maupun manusia super. "Manusia secara kekal kembali! Manusia yang lebih najis, rendah akan kembali juga" , manusia super juga akan kembali secara kekal karena keduanya ambil bagian dalam tari irama kehendak kuasa dari kehidupan. Figur simbol dari yang "ya" terhadap hidup yang terus berputar kembali secara abadi mempunyai model­nya, yaitu Dionisius.
Di sini kuletakkan Dionisius dari orang-orang Yunani, yaitu penegasan "ya" tegar yang religius terhadap dunia dari dalam hidup tanpa satu titik "tidak" pun. Dionisius adalah simbol waktu dari hidup yang penuh dan dari penerimaannya yang riang terhadap hidup. Dionisius melambangkan becoming (menjadi) hal-hal yang dalam kebutuhan serta kemendesakannya menyatakan seluruhnya menjadi satu baik duka nestapa maupun suka cita, ketakutan maupun keberanian, cinta maupun dengki. Di samping itu Dionisius melam­bangkan pula kondisi manusia super yang menerima semua ekspresi saling bertentangan dari eksistensi dengan penuh syukur (BM 80).
Dalam kerangka karyanya "Perubahan/penggantian nilai-nilai," Nietzsche secara sistematis menyusun perlawanan dan perang tanding antara figur Dionisius dengan tokoh Kristus. Nietzsche mau mengungkapkan motif yang menunjukkan ungkapan yang paling menyeluruh dari nihilisme, sikap "tidak" terhadap hidup, roh menyerah, takluk serta penyangkalan diri.
Bisa dikatakan bahwa Dionisius adalah Tuhannya Nietzsche. Dalam salah satu karyanya yang terakhir Nietzsche menulis, "Setelah mendapat pukulan terberat palu dari Tuhan Yesus, juga setelah matinya Tuhan dari orang-orang Kristiani, dewa-dewa baru masihlah mungkin muncul (Nietzsche sendiri tiap kali mengingatkan naluri religius, yaitu naluri hidup bagi dewa-dewa baru tersebut).
Di sini Nietzsche melancarkan perang pembasmian melawan nilai-nilai absolut serta melawan ideologi-ideologi pokok yang mendasari nilai-nilai tersebut, yaitu filsafat, moral, agama, (Kristiani) .
Tuduhan pokok Nietzsche terhadap filsafat, moral, agama Kristen yang mendukung nilai-nilai absolut adalah karena ketiga-tiganya membentuk dan membina dusta kolosal yang membelenggu umat manusia dan menghalanginya untuk meneguk cawan kehidupan secara bebas. Ia mengatakan dustalah kalau ada nilai-nilai mutlak lain di luar hidup ini, dustalah nilai-nilai transenden di seberang hidup sekarang kini ini, dustalah bila dikatakan bahwa ada jiwa/roh abadi dalam diri manusia, dalam tubuhnya, dustalah bila dikatakan ada dunia akherat yang spiritual di seberang dunia material yang ada di depan mata ini, dan terutama dustalah bila ditegaskan bahwa manusia tidak mampu menjadi yang tertinggi lantaran di atas manusia hanya ada Tuhan! (BM 81).
Menurut Nietzsche, moral merupakan gumpalan kondisi-kondisi pemelihara manusia-manusia malang, lemah sebagian atau gagal seluruhnya. Dari buku ini jelaslah bahwa Nietzsche sebenarnya mau memaklumkan perang terhadap moral karena moral merupakan wujud paling laknat dari kehendak dusta yang mengajari untuk menilai rendah dan meremehkan naluri-naluri dasariah pokok dari hidup.
Moral hanya mengajar nilai-nilai dekaden, keruntuhan sebagai nilai-nilai tertinggi. Moral mengajak untuk mendorong orang berlaku dan melaksana­kan tindak-tanduk muluk yang tidak ada karena tidak adalah tindakan altruis itu, tidak ada pulalah tindakan suci. Moral mengajar keutamaan-keutamaan yang tidak ada (jiwa, roh, kehendak bebas). Moral juga mengajari hakekat-hakekat yang tidak ada, misalnya Tuhan, malaekat. Moral mendidik manusia pada ordo yang tidak ada. Adakah ordo moral di dunia dengan hadiah/pahala dan hukuman? Dengan semua ajaran dan petunjuk dusta ini, moral merendahkan, malahan meniadakan:
a) nilai sungguh-sungguh dari tindakan manusia yaitu egoistis.
b) nilai tubuh.
c) tipe-tipe manusia yang sungguh-sungguh berharga, bernilai, naluri-naluri manusia yang berharga.
d) seluruh motif dan dasar hidup yang bertolak dari mau tahu.
Cara berpikir di atas yang menjunjung tinggi salah satu macam manusia, berjalan dan bekerja dari pengandaian absurd sebagai berikut: memandang baik dan jahat sebagai realitas yang berlawan­an satu sama lain (dan bukan sebagai konsep pelengkap dari nilai yang sebenarnya merupakan realitas), menasehati untuk memihak ke yang baik dengan alasan merasa bahwa yang baik itu akan menolak dan menentang yang jahat sampai ke akar dasarnya dan dengan begitu cara berpikir ini telah menolak hidup dalam realitas yang mempunyai baik "ya" maupun "tidak" dalam seluruh nalurinya. Barangkali tidak ada ideologi yang begitu berbahaya selama ini selain kehendak untuk berbaik tersebut karena di sini diluhurkan tipe manusia. Alim fanatik yang membawa hidup pada keilahian; dan hanya ditunjuk kelakuan si alim sebagai kelakuan baik, yang ilahi (Nietzsche, Framenti Postumi, hal. 260).
Dalam seri karangan pendek lain, Nietzsche lebih agresif dan ganas dalam mengecam moral. Ia mengatakan bahwa moral merupakan kandang, sangkar, penjara yang memperkirakan dengan jeruji-jeruji besi akan berguna bagi kebebasan yang tertutup ke dalam, tempat kubang binatang-binatang yang menerima perjuangan dengan kebuasan roh yang bernama "iman".
Dalam kata pengantar karyanya Genealogia della Morale, Nietzsche menulis bahwa kita memerlukan sebuah kritik terhadap nilai-nilai moral yang mesti mulai dengan mempertanyakan ni­lai/harga diri nilai-nilai ini.
Nietzsche mempertanyakan bahwa sampai hari ini mereka mempro­pagandakan perkembangan kebahagiaan manusia padahal itu tidak lain hanyalah ungkapan pemiskinan, degenerasi kehidupan; atau sebaliknya mesti diwahyukan, diwartakan kepenuhan hidup sendiri, kekuatannya, kehendak hidup itu, keberaniannya, kepastian dan jaminannya, masa depan hidup itu sendiri (no 3). Terhadap perta­nyaan-pertanyaan sendiri, Nietzsche menjawab lebih dengan "suara perutnya daripada otaknya".
Nietzsche beranggapan bahwa sumber kesalahan berat dari nilai-nilai mutlak adalah Plato yang merasa menemukan adanya Roh yang baik dalam dirinya. Nietzsche menganggap bahwa metafisika mempunyai tiga kepalsu­an, yaitu:
a. Palsu terhadap diri sendiri
b. Palsu terhadap hal-hal yang ada.
c. Palsu terhadap manusia.
Palsu terhadap diri sendiri. Metafisika bersifat palsu terhadap diri sendiri karena tidak tahu-menahu tentang motivasi sejati dari teori/ajaran yang sungguh-sungguh.
Palsu terhadap hal-hal yang ada. Metafisika bersifat palsu terhadap hal-hal yang ada karena menghantar masuk adanya hukum kedua dari realitas, yaitu adanya idea, Tuhan, substan­si terpisah, Roh mutlak, dan seterusnya. Dengan itu metafi­sika meniadakan nilai-nilai, menghampakan nilai efektif mereka.
Prinsip perlawanan yang mendukung kerangka pendapat dunia yang sejati tempat pencarian, penapakan jalan ke sana tak bisalah bertentangan dalam dirinya sendiri, tak bisalah merubah, tak mungkin menjadi, tak mungkin pula mempunyai prinsip dan tujuannya sendiri. Salahlah bila percaya pada ungkapan-ungkapan alasan ukuran realitas untuk menguasai realitas demi memberi tanda kurung bagi realitas. Maka semuanya merupakan bencana:
a. Bagaimana mungkin mampu membebaskan diri dari dunia palsu, dunia tidak sejati? Padahal hanya ada satu dunia ini
b. Bagaimana mungkin menjadi diri sendiri secara penuh apabila tidak menghormati dunia nyata ini?
c.Seluruh orientasi nilai-nilai berjalan ke arah "menje­lek-jelekkan dan memfitnah hidup"
Karena itu, kelirulah metafisika manusia yang mau membuang "being sejati" serta mau menindas (mengekang) afeksi, insting, naluri, kekuatan kuasa, dan mereduksi semuanya ke kepala, akal budi, dan pikiran! Semua yang berkait pada yang bukan rasio, yang bebas, yang naluriah, yang dibenci oleh para metafisikawan aliran keliru tersebut. Konsekuensinya, mereka menolak elemen fundamen­tal dalam essere (ada pada dirinya sendiri), dan menerima sebagai yang utama apa yang disebut rasionalitas dan finalisme absolut.
Di sini kita melihat Nietzsche memang mau membasmi agama yang melawan hidup dan menggantinya dengan agama dari kehidupan (agama dari Dionisius) dan berusaha menyingkirkan moral dekaden untuk menggantinya dengan moral yang dinamis (moralitas manusia super). Cara yang ditempuhnya adalah dengan melebur sampai ke akar-akarnya filsafat being/essere yang sama dengan metafisika yang membuahkan/menjadi semua filsafat yang menjauhkan diri dari bumi, ia mau menggantinya dengan filsafat yang setia pada kehendak yang kuasa. Filsafat tidak bisa lagi berkeinginan abstrak, tujuan-tujuan spekulatif tetapi mesti menjadi praktis dan konkret.
Filsuf-filsuf sejati adalah mereka yang memimpin/berkuasa memerintah dan mampu menegaskan ini "harus hidup kembali!" harus hidup begitu! Mereka mesti menentukan pertama-tama "ke mana" dan "demi tujuan mana" manusia hidup dan begitu menawarkan lengkap pokok-pokok dasar filsafat menuju masa depan di dalam dan melalui tangan kreatif si manusia sendiri yang menjadi alat, gaman, piranti untuk mencapai tujuan.
"Mengerti" mereka mesti menjadi sama dengan mencipta! Pencip­taan mereka mesti menjadi penentuan hukum dari kehendak kebenaran yang adalah kehendak kuasa.
Fungsi sejati filsafat menurut Nietzsche mesti sama dengan peran seni, yaitu sebagai hasil karya mendalam penciptaan/trans­formasi material menjadi seni tetapi bukan demi indah sendiri tetapi demi menjadikan cermin, pantulan kekuatan dahsyat manusia, cermin bias kekuatan/daya hidup. Filsafat mesti mempunyai kekuat­an dari dalam yang magis yang:
· mampu mengubah setiap hal,
· mampu menilai lagi semua nilai,
· mampu membaharui lagi semua nilai,
· mampu membebaskan manusia dari semua belenggu metafisika, moral, Kristianisme, begitu rupa sehingga mampu berucap "lan­tang" yang tegar pada semua yang ada pula bila hal-hal tersebut di jaman lalunya merupakan hal terlarang, tidak dihargai dan dipandang jahat (berdosa).
Dalam salah satu karangan, Nietzsche menulis Seni Filsafat dengan tugas rangkap tiga, yaitu (fungsi filsafat):
a. filsafat mesti menjadi penebusan bagi manusia dalam soal pemahaman (BM 90-91) dan problema eksistensi manusia.
b. filsafat mesti menjadi penebusan tindakan konkret manusia agar mampu menjadi daya hidup untuk menausia yang mau menjadi pahlawan dengan kekuatan kehendaknya.
c.filsafat mesti menjadi penebusan bagi orang-orang malang sebagai jalan masuk untuk mengangkat mereka yang menerima sengsara sebagai yang dikehendaki, dilahirkan menuju kesadaran bahwa sengsara itu kenikmatan.
Model ideal filsuf seniman menurut Nietzsche adalah tokoh Dionisius. Dialah filsuf sejati, unik dan satu-satunya yang mengetahui mengambil bagian secara kreatif dalam tarian abadi kehidupan cerah masa mendatang. Dia juga mengetahui menempatkan dan menampilkan diri sebagai pencipta, sang pemberi pada segala apa yang ada. Demikianlah Nietzsche tidaklah kebetulan bila dalam bagian akhir tulisannya memilih memberi judul Dionysos Philoso­phos untuk bagian itu.
Dengan judul tersebut, ia mau merangkum seluruh makna kegiat­an sastranya sebagai berikut, "Tulisan-tulisanku, buku-bukuku, dari garis ke garis, dari baris ke baris merupakan pantulan-pantulan nyata dari kehendak hidup. Tulisan-tulisan itu merupakan hasil karya sang pencipta kehidupan, menjadi duta dari hidup itu sendiri".
5. Skeptisisme Epistemologis
Nietzcshe berpendapat bahwa kebenaran adalah hasil konstruksi atau ciptaan manusia sendiri, yang berjiwa bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesis. Pengetahuan dan kebearan sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan bukan entitas yang trasenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak mungkin efektif karena hasil konstruksi manusia dan selalau upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia.
6. Kritik Nietzcshe Terhadap Rasionalitas dan Kebenaran
Nietzsche tidak menghargai rasionalitas, bahkan mendekonstruksi rasionalitas dan menghargai klaim-klaim dogmatisnya sendiri untuk meruntuhkan dasar-dasar miliknya dan lebih banyak lebih baik wissenschaft atau kebudayaan.
Untuk mudahnya kita akan memulainya dengan melihat pars construensnya yang merupakan konsep yang hidup tentang realitas. Dalam visinya, realitas itu muncul sebagai ledakan dahsyat dari kekuatan hidup. Nietzsche menyebutnya sebagai "sebuah kekuatan hebat tanpa awal dan tanpa akhir, sang keindahan yang membebaskan diri dari kekuatan cinta dan kebencian, suka cita dan duka, keberanian dan ketakutan, kebebasan dan ketundukan yang menyeruak keluar, yang membebaskan diri secara dahsyat tanpa aturan, tanpa kontrol apa pun.
Realitas merupakan hidup itu sendiri dalam semua ungkapannya yang paling mencekam, menarik. Hidup itu sendiri merupakan kehendak untuk berkuasa yang tak terukur, tak terbilang, tak mampu dikalkulasi.
Nilai tertinggi bagi Nietzsche sama dengan kehendak untuk berkuasa, lebih persis lagi sama dengan kualitas maksimal kuasa yang berhasil direngkuh dan dimiliki oleh si manusia. Filsafatnya sama dengan jawaban tak bersyarat untuk menjawab "ya" terhadap hidup yang menggeser semua "tidak", semua larangan, dosa, dakwaan. Perbedaan "ya" dan "tidak", positip dan negatif, baik dan buruk merupakan kejahatan yang tidak bisa diampuni terhadap kehidupan.
Berkata "ya" pada hidup merupakan suatu kekuatan. Mengatakan "tidak" pada hidup merupakan penurunan derajad. Hidup adalah nihilisme. Siapa pun yang berkata "ya" kepada hidup akan bebas termasuk juga bila itu termasuk yang imoral. Yang menjawab "tidak" pada hidup itu termasuk budak, juga bila itu termasuk sesuatu yang moral/baik.
Untuk semua orang kuat dan alamiah, mereka membuat semuanya bersama-sama dalam satu tindakan hidup baik cinta maupun benci, balas budi atau balas dendam, kebaikan dan kemarahan, penolakan dan pengiyaan. Bila baik, manusia perlu tahu juga yang jelek. Bila jelek, itu disebabkan karena manusia tidak lagi tahu apa yang baik.
Sebagaimana yang dirumuskan Zarathrusta, hukum tertinggi hidup adalah perlu untuk "tenggang rasa" pada tiap "penolakan" atau penerimaan dalam hidup. Kristianisme adalah racun terhadap nilai ini, imoral, melawan hidup, melawan natura. Dalam konsepsi realitas Nietzsche, nilai "baik" sebagai ketaatan terhadap hukum moral dipandang sebagai "parasit," artinya hidup dengan memper­alat kehidupan sendiri, seperti benalu yang menghisap darah hidup, seperti epikuris yang menikmati "kebahagiaan kecil" dengan menolak kebahagiaan besar yang imoral.

"Nilai baik" adalah kambing hitam insting nihil sebagai akibat berkata tidak pada hidup "la sua affermazione piu attenua­ta e che non essere e meglio di essere, che la vonta del nulla la piri valore della volonta di vivere; quella piu rigorosa e che il nulla e la cosa piu desiderabile, che questa viata, come opposto del nulla, e assolotamente priva di valore (Nietzsche, hal 318). Lalu apa yang dimaksud Nietzsche dengan "HIDUP" itu?
Hidup yang selalu menjadi tema sentral Nietzsche mempunyai batas-batas yang jelas, yaitu hidup di dunia ini, fisik, dalam tubuh karena tidak ada dunia lain di luar dunia material, tidak ada pula hidup badani kita di sini. Manusia lahir untuk berada di bumi ini (esistere sulla terra). Roh/jiwa yang semestinya menjadi subjek eksisitensi di dunia sekarang itu tidak ada. Manusia hanyalah yang bertubuh ini: "saya adalah si tubuh ini seluruhnya tanpa yang lain."
Dunia Nietzsche meluas, merangkum imanensi dunia ini. Memi­sahkan dunia idea yang asli, yang sejati dengan dunia semu (di bumi ini) merupakan dusta yang amat memalukan yang dibuat Plato dan Kristianisme. Dunia hanya ada satu, yaitu yang ada di depan mata kita. Dalam dunia ini tidak ada lagi tempat bagi Tuhan. Zarathrusta mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah ada karena tidak mampu ada.
Tuhan sama dengan proyeksi kebutuhan-kebutuhan kaum lemah. Tuhan ditemukan oleh jiwa yang lemah, jiwa yang sakit, yang diracuni oleh perasaan-perasaan luhur melawan orang-orang yang benar-benar sehat, kuat, dan kuasa.
Tuhan adalah hasil kreasi manusia sebagaimana dewa-dewa yang lain pula. Derita dan ketidakmampuanlah yang menciptakan semua yang suci di seberang dunia nyata ini. Manusia kelelahan karena menari sendiri dengan meloncat-loncatkan kakinya ke maut untuk menggapai puncak, kelelahan karena tidak memahami yang disebabkan karena tidak mampu mengingini. Tubuhlah yang menentukan langkah-langkah dan bukan jari telunjuk yang menunjuk ke atas.
Dunia manusia dan dunia non manusia, dunia yang dikejar sebagai adikodrati itu tidak lain adalah surga dari ketiadaan yang merupakan rahim dari Ada, Being. Hanyalah si sakit, si lemah yang meremehkan tubuh dan kehidupan, serta menggantinya dengan surga dan tetesan darah penebusan namun toh akhirnya tetap memutuskan hubungan mereka dari tubuh mereka sendiri serta dari bumi (dalam ketiadaan).
Hidup ini ada dalam perjalanan gemilangnya melalui satu jurusan perkembangan dari tahap manusia. Super manusia adalah makna dari bumi ini. Kehendak berseru: manusia super adalah arti dari bumi (Nietzsche, idem hal 6) dan inilah undangan dari Nabi Zarathrusta untuk umat manusia ( BM, 78).
Zarathrusta mau mengajar umat manusia mengenai makna dari keberanian mereka yang tidak lain adalah manusia super. Hidup, kehendak berkua­sa, mengekspresikan diri paling puncak pada manusia super. Di sana nilai seluruhnya mewujudkan diri, menemukan realisasinya yaitu menjadikan kehendak kuasa mengada dan diadakan dalam ketegangan-ketegangan yang agresif dan meledak-meledak dalam jatung hati manusia.
Kesimpulan
Filsafat Nietzsche banyak membahas mengenai kehidupan. Dalam filsafat Nietzsche disebutkan bahwa hidup adalah sebuah penderitaan. Dalam filsafat ini diuraikan mengenai hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh manusia dalam menghadapi kehidupan yang merupakan penderitaan itu. Dalam filsafat ini dijelaskan mengenai moral. Moral yang ada tentang kebaikan umum berbeda dengan moral yang ada pada Kristianitas. Selain itu, Nietzsche juga banyak membahas mengenai Kekuatan. Menurut Nietzsche kekuatan adalah hal yang dibutuhkan setiap masyarakat untuk tetap bertahan. Orang yang kuat adalah orang tidak menyerah pada paham martabat.
Dalam filsafat Nietzsche juga disebutkan bahwa moralitas ada dua, yaitu moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan pada awalnya adalah moralitas yang baik. Yang menganut moralitas tuan adalah kaum yang kuat sedangkan yang menganut moralitas budak adalah kaum yang lemah. Pada awalnya kaum kuat berada di atas. Namun, semakin lama mereka semakin menerima pula moralitas budak. Sehingga kaum yang kuat semakin berkurang jumlahnya. Akibatnya kaum yang lemah menjadi semakin banyak dan pada akhirnya mereka yang lemah dan tertindas ini membalikkan keadaan. Sehingga moralitas tuan yang tadinya dianggap moralitas yang baik berganti menjadi moralitas yang buruk, begitu pula sebaliknya.
Meskipun tidak semua pemikiran Nietzsche dapat diterima, namun ia tetap diakui sebagai pemikir besar, karena ia mengajukan berbagai permasalahan yang orisinil yang belum dipertanyakan sebelumnya. Diantara sekian banyak pemikir yang terpengaruh oleh Nietzsche mungkin Jacques Derrida termasuk yang paling jelas dan dalam pengaruhnya. Pengaruh ini terlihat pada metode dekonstruksi penolakannya pada kebenaran objektif dan universal, anti fundasionalisme, skeptisisme, anti metafisika, dll.

Referensi
Makalah Hasil Penelitian Dr. Akhyar Yusuf, Pemikiran Nietzcshe: Pengaruhnya terhadap Pemikiran Posmodernis

Rabu, 07 Oktober 2009

Perpustakaan masa depan berorientasi pengguna

PERPUSTAKAAN MASA DEPAN
BERORIENTASI PENGGUNA

(Diambil Rangkuman dari 4 Makalah :
The Information Technology in public libraries »
just a tool, but what a powerful tool!,
21st Century Libraries; Changing Forms, Changing Futures,
Public Libraries in the Internet age: Indian scenario, dan
Implementing ICT in Public Libraries: Eindhoven, a Case Study
)


Pendahuluan

Perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khasanah budaya bangsa serta berbagai jasa lainnya. Peran dan tujuan dari perpustakaan adalah sebagai wahana untuk mencerdaskan bangsa supaya tercapai masyarakat yang terdidik. Keberadaan perpustakaan dapat diartikan juga sebagai pemenuhan kebutuhan yang diakui masyarakat, kebutuhan ini menentukan bentuk, tujuan, fungsi, program dan jasa perpustakaan. Dalam mengoptimalkan peran tersebut, pengorganisasian informasi perlu dilakukan untuk memudahkan pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yang dibutuhkan secara cepat dan tepat. Oleh karena itu, layanan yang dilakukan selalu berorientasi pada masyarakat, sebagai pengguna informasi. Kepuasan pengguna merupakan petunjuk utama bagi pelaksana pengorganisasian informasi.

Perpustakaan seperti kita ketahui adalah merupakan salah satu penyedia dan penyalur informasi yang fungsi dan peranannya cukup berarti di dunia informasi. Tantangan baru di dunia perpustakaan menjelang abad 21 yang banyak dikatakan sebagai abad informasi adalah penyaluran informasi menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer dengan cepat, tepat dan global. Salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan membangun perpustakaan digital.

Perpustakaan digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer. Istillah perpustakaan digital atau digital library sendiri mengandung pengertian sama dengan electronic library dan virtual library. Sedangkan istilah yang sering digunakan dewasa ini adalah digital library, hal ini bisa kita lihat dengan adanya workshop, simposium, atau konferensi dengan memakai nama digital library.

Perpustakaan, dengan fungsinya sebagai penyedia informasi memiliki peranan yang besar dalam pemerataan pendidikan. Perpustakaan adalah salah satu komponen penting dalam menunjang terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Untuk mencapai hal itu, perpustakaan perlu menjalin kerjasama dan berbagai informasi antara satu dengan yang lainnya untuk memperluas jangkauan akses pengguna.

Selain itu, kerjasama pertukaran data dapat mengurangi waktu dan biaya untuk mencari bahan pustaka di perpustakaan yang tersebar secara geografis. Kerjasama pertukaran data dapat merintis inter library loan yang pada akhirnya dapat meningkatkan penetrasi dan kualitas ilmu pengetahuan dan budaya di masyarakat.

Dalam transformasinya di tengah kemajuan ilmu pengetahuan termasuk teknologi informasi dan komunikasi, perpustakaan harus mampu memberikan nilai tambah pada informasi melalui streamlining, ekspansi dan inovasi. Selain mempermudah dan memperluas akses, perpustakaan hendaknya mampu melakukan manajemen pengetahuan secara maksimal dan diharapkan lebih memfokuskan diri sebagai community information intermediary, yaitu institusi yang dapat memahami dan berempati terhadap komunitas pengguna, memiliki pemahaman yang mendalam terhadap dunia informasi dan organisasinya serta dengan aktif selalu mengembangkan dan meningkatkan mekanisme yang menghubungkan keduanya. Pemberdayaan perpustakaan dan pustakawan dalam paradigma baru harus disesuaikan dan ditingkatkan seiring dengan perubahan tuntutan pengguna, yaitu akses informasi secara lebih luas, cepat dan tepat.


Arti Perpustakaan

Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.

Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).


Peran Perpustakaan

Peran perpustakaan dimasyarakat dapat dilihat dalam beberapa point:

1. Merupakan sumber informasi, pendidikan, penelitian, preservasi khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat, murah an bermanfaat.

2. Merupakan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber infromasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.

3. Sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antar sesama pengguna serta antara penyelenggara dengan masyarakat.

4. Lembaga untuk mengembangkan minat baca dan budaya baca.

5. Sebagai fasilitator, mediator dan motivator bagi mereka yang ingin mencari, memenfaatkan dan megembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.

6. Sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi penggunanya. Mereka dapat belajar secara otodidak, melakukan penelitian, menggali dan memanfaatkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.

7. Sebagai pembimbing dan media konsulatatif terkait dengan fungsi prpustakaan secara umum.

8. Sebagai ukuran/barometer atas kemajuan masyarakat yang bisa dilihat diantaranya dari intensitas kunjungan dan pemakaian perpustakaan.


Katalog dan Multimedia

Katalog perpustakaan adalah deskripsi pustaka milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis (sistematis abjad, nomor klasifikasi) sehingga dapat digunakan untuk mencari dan menemukan lokasi pustaka dengan mudah. Selain untuk alat bantu penelusuran koleksi, katalog dapat juga digunakan untuk mengetahui kekayaan koleksi suatu perpustakaan sebab kartu katalog mewakili buku-buku yang ada di rak yang dimiliki oleh suatu perpustakaan.

Di negara-negara maju, koleksi perpustakaan selain kumpulan berbagai buku (seperti buku referensi maupun bacaan dan sejenisnya, majalah, surat kabar, pamflet/selebaran) ditambah dan dilengkapi lagi dengan media lain seperti slide, filmstrip, film-movie, rekaman (baik kaset, piringan hitam, vidiotape, CD, Disket, flashdisk) dan microfilm. Bahkan koleksi tersebut ditambah dan diperluas lagi dengan CTV (Cable Television), globe, peta, model, realita, alat-alat permainan. Dan yang paling mutakhir yang menjadi koleksi perpusakaan adalah penggunaan IT (Information of Technology) berupa internet yang mampu mengakses sumber informasi dari berbagai bangsa dan negara tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Perkembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi

Dunia perpustakaan semakin hari semakin berkembang dan bergerak ke depan, perkembangan ini didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya yang telah merambah ke berbagai bidang. Hingga saat ini tercatat beberapa masalah di dunia perpustakaan yang dicoba didekati dengan menggunakan teknologi informasi.

Dari segi data dan dokumen yang disimpan di perpustakaan, dimulai dari perpustakaan tradisional yang hanya terdiri dari kumpulan koleksi buku tanpa katalog, kemudian muncul perpustakaan semi modern yang menggunakan katalog (index). Katalog mengalami metamorfosa menjadi katalog elektronik yang lebih mudah dan cepat dalam pencarian kembali koleksi yang disimpan di perpustakaan.

Koleksi perpustakaan juga mulai dialihmediakan ke bentuk elektronik yang lebih tidak memakan tempat dan mudah ditemukan kembali. Ini adalah perkembangan mutakhir dari perpustakaan, yaitu dengan munculnya perpustakaan digital (digital library) yang memiliki keunggulan dalam kecepatan pengaksesan karena berorientasi ke data digital dan media jaringan computer (internet).

Di sisi lain, dari segi manajemen (teknik pengelolaan), dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, data peminjam, transaksi dan sirkulasi koleksi perpustakaan, saat ini muncul kebutuhan akan penggunaan teknologi informasi untuk otomatisasi business process di perpustakaan. Sistem yang dikembangkan dengan pemikiran dasar bagaimana kita melakukan otomatisasi terhadap berbagai business process di perpustakaan, kemudian terkenal dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan (library automation system).

ICT (Information Communication Technology) dan Perpustakaan

Di era informasi ini perpustakaan di India pada umumnya masih belum cukup memadai, tetapi dihadapkan kepada perlunya perpustakaan on-line. Perpustakaan perlu beralih dari perpustakaan tradisional menjadi perpustakaan modern yang lebih sering disebut dengan pusat sumber belajar atau Learning Resource Center, atau Electronic Resource Center. Bila dalam penyediaan perpustakaan tradisional, dihadapkan pada permasalahan bagaimana menyediakan dana untuk mendapatkan koleksi bermutu yang mencukupi, dan setiap saat supaya dapat dilakukan penyiangan dan perbaruan koleksi, dengan perpustakaan on-line dituntut untuk menyediakan biaya yang lebih besar. Dalam kondisi yang seperti ini, dibutuhkan jaringan internet ICT, bandwidth yang bagus, jumlah komputer yang cepat dalam jumlah yang mencukupi, dana yang cukup untuk dapat mengakses data base, dan juga SDM yang mencukupi untuk pemeliharaan peralatan yang canggih tersebut.

Tentunya perlu melatih para pustakawan dan membangun sistem pendidikan yang memberdayakan perpustakaan, dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan. Di tempat-tempat terpencil yang mengalami kesulitan sambungan listrik, perlu juga disediakan sistem tenaga sinar matahari dan generator. Akses kepada internet tidak dapat dihindari bila pemerataan mutu pendidikan ingin diupayakan. Sebenarnya semakin terpencil suatu wilayah, semakin wilayah tersebut membutuhkan internet.

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan bidang Information Communication Technology (ICT) telah mengubah cara hidup masyarakat dunia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa sadar telah membawa dunia memasuki era baru globalisasi lebih cepat dari yang dibayangkan semula. Hasilnya, informasi instant dapat diterima dan diikuti masyarakat diberbagai penjuru dunia. Dan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, perubahan-perubahan yang terjadi ditingkat global mempengaruhi masyarakat tersebut.

ICT dan perpustakaan on-line itu sudah bukan lagi menjadi hal yang luar biasa di negara maju. Di negara yang sedang berkembang ICT masih merupakan sebuah kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh masyarakat perkotaan, dan hanya terbatas kepada mereka yang peduli dan memiliki dana lebih. Sebenarnya bukan ICT saja yang menjadi kelangkaan di negara berkembang; infrastruktur yang prima dan yang dianggap mendasar di negara maju seperti air bersih, listrik dan transportasi
juga masih belum dinikmati dengan mencukupi dan merata. Namun, diharapkan dengan berinvestasi pada ICT, masyarakat mendapatkan kesempatan belajar yang lebih merata, sehingga mereka dapat menyelesaikan sendiri persoalan hidupnya melalui membaca dan belajar sepanjang hayat.

Sebagai gambaran tentang apa yang telah terjadi di negara maju, generasi yang sedang bersekolah sekarang adalah Generasi Net atau Generasi Digital. Generasi ini sudah semakin tidak membutuhkan perpustakaan fisik, dan mereka hanya mengandalkan internet. Menurut survei di Thomas and Dorothy Leavey Library at the University of Southern California (USC), Amerika Serikat, 73 persen mahasiswa sudah tidak lagi ke perpustakaan, karena mereka sudah terhubung oleh internet dan perpustakaan on-line. Hanya tinggal 36% mahasiswa S1 meminjam buku, 12% datang ke perpustakaan untuk menggunaan jurnal cetakan, dan 61% dari pengunjung perpustakaan hanya datang untuk menggunaan komputer yang disediakan. Bila mahasiswa ditanya perbaikan apa yang mereka butuhkan dari perpustakaan, mereka hanya meminta untuk disediakan lebih banyak komputer.


Prilaku Informasi di Masa Depan

Perubahan yang mahabesar sedang terjadi di dunia informasi. Perubahan ini mentransformasikan pengajaran, pembelajaran, komunikasi ilmiah, dan peran perpustakaan ‘tradisional’ sebagai penyedia jasa layanan penunjang penelitian. Banyak dari perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi dan semakin berlimpahnya isi (content) elektronik berkat penerbitan elektronik, proyek digitalisasi besar-besaran, dan Internet. Volume informasi berupa full text yang dapat ditelusuri, dilihat-lihat dan dicetak sambil duduk dengan nyaman di perpustakaan sudah tak terbayangkan besarnya. Begitu pula pilihan yang tersedia: pengguna perpustakaan telah berubah menjadi konsumen informasi yang dalam sekejap dapat beralih dari mesin pencari komersial, ke situs jejaring sosial, wiki, daftar link ke situs terpilih dan jasa elektronik yang disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi para pengguna.

Tantangan yang dihadapi perpustakaan riset (research libraries) dalam lingkungan digital sungguh besar sekali. Sebagai pemilik dan pengelola koleksi bahan tercetak perpustakaan ini harus mengubah falsafah dasarnya. Koleksi buku yang besar tampaknya mulai semakin mubazir ketika pengguna berpaling dari perpustakaan sebagai suatu ruang fisik. Perpustakaan riset terpaksa menyesuaikan diri dengan suatu realitas baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari kelompok-kelompok pengguna, khususnya pengguna muda, yang menghendaki content yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, content yang bisa diambil tanpa datang keperpustakaan.

Perpustakaan Digital

Menurut DIGLIB, Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital dengan tujuan untuk melestarikan, menjaga, dan terutama mendistribusikan kepada pengguna sehingga pengguna secara mudah, tepat dan luas dapat mengakses ke dalam data dan sumber informasi digital tersebut sehingga mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Selain itu organisasi juga membuat dan merancang jaringan dan kerjasama dengan memanfaatkan infrastruktur yang mendukung sehingga terjadi proses knowledge-sharing yang lebih baik, cepat, tepat, dan luas.

Sebagian besar proyek penelitian perpustakaan digital menggunakan www (World Wide Web) yang terhubung dalam jaringan Internet sebagai media utama penyaluran informasi. Hal ini disebabkan karena pengaksesan www yang mudah dan usernya sangat banyak tersebar diseluruh dunia. Disamping itu www mempunyai kelebihan antara lain didukung berbagai macam protokol komunikasi (HTTP, FTP, Gopher, dll), pemakaian HTML sebagai markup language standar dan kelebihan dibidang GUI (Graphical User Interface).

Perpustakaan digital dilihat dari jenis bisa dibagi dua, Full Text dan Page Image, yang masing-masing memiliki kelebihan sebagai berikut :

1. Full Text
• Pemrosesan dan manipulasi data lebih mudah.
• Ukuran data lebih kecil.
• Data terformat dalam SGML (Standard Generalized Markup Language).

2. Page Image
• Sesuai untuk sistem browsing.
• Tidak memerlukan font karena berupa image.
• Tidak memerlukan biaya besar dalam pembuatan (low cost).


Pengembangan Sistem Otomasi Perpustakaan Berdasar Business Process di Perpustakaan

Sistem otomasi perpustakaan yang kita kembangkan harus berdasarkan kepada proses bisnis (business process) sebenarnya yang ada di perpustakaan kita. Prosentase kegagalan implementasi suatu sistem dikarenakan sistem dikembangkan bukan berdasarkan kebutuhan dan proses bisnis yang ada di organisasi yang akan menggunakan sistem tersebut.

Sistem otomasi perpustakaan yang baik adalah yang terintegrasi, mulai dari system pengadaan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, sistem pencarian kembali bahan pustaka, sistem sirkulasi, membership, pengaturan denda keterlambatan pengembalian, dan sistem reporting aktifitas perpustakaan dengan berbagai parameter pilihan.

Lebih sempurna lagi apabila sistem otomasi perpustakaan dilengkapi dengan barcoding, dan mekanisme pengaksesan data berbasis web dan internet. Berikut adalah salah satu contoh sistem otomasi perpustakaan dengan fitur-fitur yang mengakomodasi kebutuhan perpustakaan secara lengkap, dari pengadaan, pengolahan, penelusuran, serta manajemen anggota dan sirkulasi. Diharapkan contoh sistem yang ditampilkan dapat dijadikan studi kasus dalam pengembangan sistem otomasi perpustakaan lebih lanjut.

Perpustakaan Masa Depan

Perpustakaan bukan lagi sekedar sebuah gedung melainkan sebagai pusat layanan informasi, walaupun sebuah gedung baru merupakan suatu cara yang tepat untuk menyampaikan pesan pelayanan informasi baru dari sebuah perpustakaan. Gambaran kemodernan perpustakaan seutuhnya tidak dapat dinilai hanya dari fisik bangunan melainkan dari perkembangan layanan informasi perpustakaan tersebut. Perpustakaan tradisional hanya memberi pelayanan informasi tradisional kini perpustakaan modern mengarah kepada pelayanan informasi non-tradisional seperti pelayanan pendidikan, budaya, komersil, olahraga, rekreasi, hiburan dan lain-lain.

Contoh Perpustakaan masa depan diantaranya adalah :


1. The New Civic Landmark

Gambaran perpustakaan sebagai the new city landmark ini memiliki koleksi arsip dan referensi yang lengkap tentang arsip sejarah lokal, memiliki koleksi buku dan audio-visual, ruang rapat yang besar untuk acara-acara tertentu, coffe bar, ruang baca home-from home dan ruang akses komputer yang luas. Perpustakaan ini merupakan bangunan utama suatu kota yang banyak dikunjungi oleh orang dan perpustakaan ini berlokasi di tengah alun-alun. Perpustakaan yang dianggap paling memenuhi persyaratan ini adalah Peckham Library di London.


2. The Retail Model

Perpustakaan ini berada pada pusat perbelanjaan (retail) dan perkantoran karena gaya hidup masyarakat yang cenderung memilih untuk membeli buku, CD, DVD dan bahkan dalam mengakses internet. Perpustakaan ini tetap memberikan layanan peminjaman koleksi buku, pendidikan dan hiburan serta penelusuran informasi. Konsep perpustakaan ini juga seperti toko dengan kaca sebagai pintu depan dimana bagian dalam perpustakaan dapat dilihat dari luar.

3. The Young People’s Library

Target dari perpustakaan ini adalah anak-anak dan remaja dengan menyediakan pelayanan pembelajaran bagi anak-anak, seperti: story-telling, toy library, coffee-lounge, ruang belajar individu dan kelompok, menonton video, serta ruang diskusi tugas. Design luar perpustakaan ini dirancang semenarik mungkin untuk menarik perhatian begitu juga bagian dalamnya, karena perpustakaan ini melayani kelompok usia dini. Lokasi perpustakaan ini berada dekat dengan fasilitas publik lainnya seperti sekolah.

4. The Neighborhood Lifelong Learning Centre

Perpustakaan ini lebih mengarah kepada tempat persinggahan bagi pensiunan, orang-orang yang bekerja di rumah dan yang mengurus anak. Memberi pelayanan berupa buku-buku tetapi dalam jumlah yang terbatas namun ada akses online koleksi perpustakaan. Perpustakaan ini merupakan cabang dari perpustakaan pusat dengan fasilitas ruang rapat, toko bahkan gereja. Perpustakaan yang dianggap paling memenuhi persyaratan ini adalah The Millenium Library di Norwich.

5. The Themed Library or Joint Venture

Perpustakaan ini bekerja sama dengan pihak-pihak luar seperti kesehatan, sekolah, pelayanan sosial, museum atau keagamaan. Jadi targetnya sesuai dengan pihak yang bekerja sama dengan perpustakan itu. Salah satu contoh perpustakaan ini adalah March Library yang bekerja sama dengan temapat kursus.

6. The Mobile Library or POD

Perpustakaan ini melayani dimana-mana seperti di angkutan umum, di bandara atau di acara-acara khusus dengan bantuan kendaraan yang dapat menampung pengunjung dalam jumlah banyak.

7. The Online Library

Perpustakaan ini berbasis website, menyediakan akses catalog, arsip dan buku-buku baru perpustakaan. Dalam layanannya bekerja sama dengan call centre yang memberikan informasi perpustakaan terdekat dengan user. Perpustakaan ini bekerja sama dengan perpustakaan-perpustakaan yang ada di suatu daerah.

8. Perpustakaan umum menjadi gambaran (icon) daerah

Perpustakaan ini memiliki bangunan yang menjadi gambaran atau jantung daerah tersebut. Menjadi icon daerah berarti menjadi tempat pilihan utama bagi masyarakat setempat dan menjadi objek wisata bagi masyarakat pendatang (turis). Perpustakaan ini menjadi pusat hampir semua aktifitas yang dilakukan masyarakat. Perpustakaan ini memiliki akses internet, ruang multimedia, ruang rapat, auditorium, ruang kebudayaan, ruang diskusi, ruang belajar/baca, tempat bermain anak-anak, toy library, café-lounge, menyediakan fasilitas pendidikan, pelatihan, olah raga, kesehatan, rekreasi dan lain-lain.
Kelengkapan fasilitas perpustakaan inilah yang menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat untuk melakukan segala aktifitasnya di perpustakaan dengan kata lain menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua.

9. Perpustakaan umum daerah menjadi library industry

Menjadi library industry berarti menjadi tempat para investor menanamkan modal. Tidak jauh berbeda dengan kelengkapan yang dimiliki oleh perpustakaan sebagai icon daerah, namun investor mendapat tempat khusus dalam pengembangan koleksi, fasilitas, teknologi dan pelayanan perpustakaan. Perpustakaan daerah ini tidak lagi mengandalkan dana dari pemerintah seutuhnya dalam pengadaan fasilitas dan teknologi namun dari investor yang menjalin kerja sama dengan perpustakaan.

Fasilitas, teknologi dan koleksi perpustakaan diperoleh dari hasil kerja sama dengan pihak tertentu yang menguntungkan kedua belah pihak. Bagi perpustakaan, perpustakaan memiliki fasilitas, teknologi dan koleksi tanpa harus mengeluarkan dana besar sedangkan bagi rekanan perpustakaan sebagai media promosi.

Perpustakaan lebih mengarah kepada bangunan milik pemerintah yang beberapa ruangnya disewakan kepada pihak swasta, sehingga terjadi inovasi-inovasi baru dalam perpustakaan. Pelayanan publik dengan money oriented mengalami pertumbuhan yang pesat karena memiliki standard dan daya saing yang tinggi. Digabungnya pelayanan publik dengan money oriented dan non-money oriented (perpustakaan) akan memaksa perpustakaan untuk melakukan inovasi-inovasi yang menarik pengunjung datang ke perpustakaan.

Library Industry menjadi sumber pemasukan bagi pemerintah daerah tanpa mengurangi peran pemerintah dan kewenangan pemerintah, dalam arti rekanan perpustakaan yang berada di gedung perpustakaan hanya sebagai penyewa dan bukan pengambil keputusan di perpustakaan.
10. Perpustakaan umum menjadi centre of culture

Perpustakaan memiliki ruang khusus yang menggambarkan sejarah daerah dan kebudayaannya. Perpustakaan ini menjadi objek wisata dan pusat penelitian tentang budaya lokal daerah. Selain memiliki koleksi umum, koleksi tentang kebudayaan lokal adalah koleksi unggulannya. Oleh karena itu, perpustakaan ini memiliki nilai etnik yang tinggi dari fisik hingga jenis pelayanannya.

Walaupun bernuansa etnik, perpustakaan ini tetap berbasis teknologi informasi dengan menyediakan akses internet, ruang multimedia, ruang seminar, ruang diskusi, ruang kursus bahasa (daerah dan internasional), café yang menyediakan makanan khas sebagai menu spesial dan fasilitas penunjang lain untuk pelayanan pengunjung lokal dan mancanegara.

Nuansa etnik tidak hanya ada pada bangunan, koleksi dan makanan tetapi staff perpustakaan juga menggunakan pakaian adat yang disesuaikan dengan lingkungan kerja dalam melayani pekerjaan. Sehingga perpustakaan ini memiliki nilai keunikan tersendiri.

Perpustakaan sebagai pusat kebudayaan lokal bernuansa etnik menjadi daya tarik yang kuat bagi suatu daerah mengingat perkembangan perpustakaan di luar negara kita telah mengalami perkembangan yang sangat sulit untuk dikejar, apalagi Indonesia memiliki beragam budaya yang dapat dikembangkan dan dilestarikan melalui perpustakaan sebagai pusat kebudayaan lokal.

Pemberdayaan Perpustakaan dan Pustakawan

Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan semakin beragamnya teknologi canggih membawa perubahan pula pada masyarakat dan individu. Perubahan tersebut pada akhirnya akan mempengaruhi pula pada tuntunan terhadap kondisi keberadaan perpustakaan. Indikator perpustakaan ideal yang dulu diukur dari jumlah koleksi yang banyak dan gedung yang besar, sekarang sudah berubah menjadi sejauh apa perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan komunitas pemakainya, antara lain: belajar, pemenuhan kebutuhan informasi, rekreasi, pendidikan, penelitian, interaksi dengan orang lain, fasilitas untuk berbagi pengetahuan dan kebutuhan untuk melakukan inovasi dan kreatifitas.

Perpustakaan saat ini dituntut mampu berubah mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perkembangan Teknologi Informasi (TI) telah banyak mengubah karakter sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, berinteraksi dengan orang lain, berkompetisi, dan lain-lain. Pada akhirnya semua itu berujung pada tuntutan pemakai agar perpustakaan tidak hanya sekedar tempat mencari buku atau membaca majalah, tetapi menjadi semacam one-stop station bagi mereka, yaitu suatu lingkungan dimana pengguna bisa:
• Berinteraksi dengan orang lain.
• Mencari informasi yang dibutuhkan.
• Berbagi pengetahuan
• Merasa termotivasi untuk melakukan inovasi dan kreatifitas.

1. Pemberdayaan Perpustakaan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau information and comunication technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. Jika dulu pemakai perpustakaan sudah puas dengan layanan baca di tempat dan peminjaman buku perpustakaan saja, saat ini layanan perpustakaan tidak cukup lagi hanya dua macam layanan tersebut. Pemakai perpustakaan sekarang sudah menuntut jenis-jenis layanan lain, seperti layanan informasi terbaru (current awareness services), layanan informasi terseleksi (selective dissemination of information), layanan penelusuran secara online, layanan penelusuran dengan CD-ROM, dan lain-lain. Selain tuntutan terhadap jumlah layanan yang makin banyak, mutu layanan pun dituntut lebih baik. Dalam rangka peningkatan mutu dan jumlah layanan inilah, peran teknologi informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan. Dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, kita dapat melakukan layanan yang cepat dengan jangkauan layanan yang lebih luas serta mutu yang lebih baik.

Perkembangan dari penerapan teknologi informasi dan komunikas dapat diukur dengan telah diterapkannya/digunakannya sebagai sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Sistem informasi manajemen (SIM) perpustakaan merupakan pengintegrasian antara bidang pekerjaan aministrasi, pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, statistik, pengelolaan anggota perpustakaan, dan lain-lain. Sistem ini sering dikenal juga dengan sebutan sistem otomasi perpustakaan. Dengan penerapan SIM ini secara langsung merubah paradigma layanan perpustakaan. Layanan perpustakaan yang dulunya off-line berubah menjadi on-line. Di sini Perpustakaan harus mampu merancang layanan perpustakan yang memungkinkan akses terhadap sumber-sumber informasi (information resources). Hal ini mengisyaratkan bahwa pemanfaatan perpustakaan tidak lagi bergantung pada visitasi pemakai perpustakaan atau bertumpu pada kunjungan secara fisik semata, tetapi pemanfaatannya dapat dilakukan setiap saat dan dari berbagai tempat dimanapun pengguna berada.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberdayakan perpustakaan sebagai upaya meningkatkan layanan perpustakaan berorientasi pengguna, yaitu:

a) Gedung perpustakaan yang menarik dan mudah dijangkau

Gedung perpustakaan sebaiknya didesain dengan menarik dan lokasi perpustakaan mudah diakses oleh masyarakat. Gedung perpustakaan perlu dilengkapi dengan ruang belajar bagi pengunjung, ruang multi media, ruang diskusi dan cafe atau tempat istirahat.

b) Sarana dan prasarana pendukung layanan perpustakaan

Perpustakaan perlu menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung pelayanan pengguna. Pengelola perpustakaan perlu memikirkan untuk menyediakan fasilitas yang membuat pengunjung merasa nyaman berada di perpustakaan, seperti menyediakan kursi dan meja yang cukup baik, penyejuk ruangan atau AC, dan sarana penelusuran koleksi/informasi dalam jumlah dan mutu yang baik.

Pemanfaatan TI saat ini menjadi kewajiban hampir dibanyak perpustakaan. TI membantu perpustakaan memperbaiki kualitas dan jenis layanan. Minimal saat ini sebuah perpustakaan harus mempunyai:

1) Jaringan lokal (Local Area Network) berbasis TCP/IP.
Keuntungan TCP/IP adalah banyaknya aplikasi (misalnya: www) yang berjalan pada infrastruktur tersebut.

2) Akses ke Internet.
Minimal harus ada akses ke internet untuk pustakawan agar mudah mengakses informasi eksternal perpustakaan.

3) Komputer buat pustakawan dan pemakai perpustakaan.
Harus ada komputer untuk server yang akan memberikan layanan kepada pemakai, komputer untuk pustakawan bekerja dan komputer untuk pemakai agar bisa menggunakan layanan perpustakaan.

c) Menyediakan koleksi dalam multi format

Perpustakaan perlu menyediakan koleksi baik dalam bentuk tercetak, bahan-bahan multimedia, digital, hypertext, termasuk juga pertemuan dan diskusi formal dan non formal, lengkap dengan alat untuk memutar/mendengarkan koleksi multimedia tersebut

d) Menyediakan koleksi dalam multi format

Perpustakaan perlu menyediakan koleksi baik dalam bentuk tercetak, bahan-bahan multimedia, digital, hypertext, termasuk juga pertemuan dan diskusi formal dan non formal, lengkap dengan alat untuk memutar/mendengarkan koleksi multimedia tersebut.



e) Adding value

Pustakawan menyediakan akses hanya ke sumber-sumber yang dapat dipercaya kualitasnya. Caranya dengan membuat portal atau pintu masuk ke sumber-sumber yang telah terseleksi misalnya Virtual libraries subject-based gateways.

f) Adanya fasilitas digital dan internet

Fasilitas digital dan internet memungkinkan pengguna perpustakaan dapat memanfaatkan informasi yang dimiliki perpustakaan tanpa mengenal waktu dan jarak. Homepage perpustakaan dapat menyajikan data bibliografis dan abstrak dari jurnal-jurnal penelitian (kalau memungkinkan dalam bentuk full text), pendidikan pemakai, berita-berita perpustakaan, informasi lokal (universitas, kota), pameran online, media komunikasi dengan pengguna (saran dan kritik), hubungan dengan situs lain, dan sebagainya.


g) Hot Spot

Hot Spot berarti menyediakan layanan internet bebas untuk suatu lingkungan yang terbatas, sebagai contoh di sekitar gedung perpustakaan. Dengan memiliki hot spot perpustakaan menyediakan jasa penelusuran internet yang dapat diakses oleh pengguna dari Laptop/Note Book yang biasa dibawa oleh pengguna, dengan syarat memiliki LAN Card Wireless.

h) Menjalin kerja sama dengan perpustakaan lain

Kerja sama antar perpustakaan perlu dilakukan karena tidak satu pun perpustakaan yang dapat berdiri sendiri dalam arti informasi/koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi penggunanya, sehingga jawaban ”informasi yang Anda cari tidak ada di perpustakaan kami” tidak akan berlaku lagi. Setidaknya pustakawan dapat memberi alternatif artikel atau menunjukkan dimana artikel tersebut dapat diperoleh.

i) Waktu layanan perpustakaan berorientasi masyarakat

Kepadatan dan kesibukan kegiatan masyarakat seperti sekolah, bekerja, berusaha, dan lain sebagainya, ikut berpengaruh terhadap pemanfaatan perpustakaan, ditambah dengan waktu layanan perpustakaan yang sama dengan jam kantor dan sekolah masyarakat, sehingga dapat menghambat masyarakat yang hendak berkunjung ke perpustakaan. Oleh sebab itu waktu layanan perpustakaan perlu disesuaikan dengan waktu renggang masyarakat, kalau perlu hari libur pun perpustakaan tetap membuka layanannya.

Layanan di perpustakaan ideal nya dapat lebih memikat, bersahabat, cepat, dan akurat, ini berarti orientasi pelayanan perpustakaan harus didasarkan pada kebutuhan pengguna, antisipasi perkembangan teknologi informasi dan pelayanan yang ramah, dengan kata lain menempatkan pengguna sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kebijakan pada suatu perpustakaan, kesan kaku pelayanan diperpustakaan harus dieliminir sehingga perpustakaan berkesan lebih manusiawi.


2. Pemberdayaan Pustakawan

Dalam menghadapi tuntunan kebutuhan pengguna perpustakaan yang semakin tinggi dan beraneka ragam, maka perpustakaan perlu mempersiapkan pustakawan yang profesional. Jika pustakawan ingin disebut profesional, maka pustakawan perlu memiliki ”skill”, ”knowledge”, kemampuan (ability), serta kedewasaan psikologis. Namun dalam prakteknya sampai sejauh ini pustakawan Indonesia belum bisa dikatakan mampu untuk menjadi profesional (ideal pun belum) bahkan masih sangat jauh dari konsep ideal. Sebagai pustakawan profesional, kita perlu mengikuti perkembangan dan informasi mutakhir dalam bidang Pusdokinfo.

Perkembangan TI mengakibatkan semua bidang pekerjaan perpustakaan tidak ada lagi yang tidak mendapat sentuhan ”keajaiban” TI. Keilmuan perpustakaan pun saat ini dituntut mampu mengikuti perubahan sosial pemakainya. Perubahan dalam kebutuhan informasi, perubahan dalam berinteraksi dengan orang lain, dan dalam berkompetisi. Pustakawan perlu menyadari bahwa perlu ditumbuhkan suatu jenis kepustakawanan dengan paradigma-paradigma baru yang mampu menjawab tantangan media elektronik tanpa meninggalkan kepustakawanan konvensional yang memang masih dibutuhkan (hybrid library). Hanya dengan sumber daya manusia (SDM) dalam hal ini tenaga pengelola perpustakaan dan tenaga fungsional pustakawan yang berkualitaslah (melalui keilmuannya) kita bisa membangun paradigma kepustakawanan Indonesia.

Oleh karena itu profil pustakawan diharapkan :

a) Berorientasi kepada kebutuhan pengguna
b) Mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik
c) Mempunyai kemampuan teknis perpustakaan yang tinggi
d) Mempunyai kemampuan pengembangan secara teknis dan prosedur kerja
e) Mempunyai kemampuan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, antara lain:
1) Kemampuan dalam penggunaan komputer (computer literacy)
2) Kemampuan dalam menguasai basis data (database)
3) Kemampuan dalam penguasaan peralatan TI (tools and technological skill)
4) Kemampuan dalam penguasaan teknologi jaringan (computer networks)
5) Kemampuan dalam penguasaan internet dan intranet
f) Kemampuan berbahasa asing yang memadai terutama bahasa Inggris
g) Mempunyai kemampuan melaksanakan penelitian di bidang perpustakaan.

Selain memiliki kemampuan seperti yang disebutkan diatas, pustakawan juga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan prima kepada penggunanya. Pelayanan prima yaitu suatu sikap atau cara pustakawan dalam melayani penggunanya dengan prinsip layanan berbasis pengguna (people based service) dan layanan unggul (service excellence). Tujuan dari service excellence adalah :

a) Memuaskan pengguna;
b) Meningkatkan loyalitas pengguna;
c) Meningkatkan penjualan produk dan jasa;
d) Meningkatkan jumlah pengguna.

Profesi pustakawan dituntut untuk mampu bersikap lebih terbuka, suka kerja keras, suka melayani, mengutamakan pengabdian serta aspek-aspek kepribadian dan perilaku. Dalam mengantisipasi masa mendatang, pustakawan hendaknya selalu tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi, mengenal seluk beluk manajemen, menguasai cara-cara penyediaan informasi, dan memahami sumber-sumber informasi, serta mengetahui sistem jaringan informasi.


Penutup

Sekarang bukan jamannya lagi mencari-cari buku dari katalog kusam di perpustakaan. Peran Teknologi Informasi (TI) telah banyak digunakan untuk memudahkan para pengguna perpustakaan menemukan buku favoritnya. Dengan hanya mengetik judul buku atau nama pengarang pada layar komputer, informasi mengenai posisi serta keberadaan buku yang kita cari pun akan segera tersaji di layar komputer.

Idealnya, setiap perpustakaan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk mendukung pengelolaan koleksi perpustakaan dan kenyamanan pengguna perpustakaan sehingga perpustakaan bias dijadikan selain tempat pembelajaran juga dapat dijadikan tempat rekreasi bagi pengguna.

Untuk meningkatkan nilainya, perpustakaan harus memfasilitasi dan berpartisipasi pasif maupun aktif dalam manajemen pengetahuan penggunanya. Caranya yaitu dengan melakukan kegiatan dan meyediakan fasilitas yang memudahkan terjadinya keseluruhan proses pengetahuan, misalnya menstimulasi terjadinya diskusi di perpustakaan maupun di milis, merangkum dan membuat resensi diskusi-diskusi tersebut; membantu pengguna untuk melakukan e-publishing, sharing, menyiapkan publikasi dalam berbagai format (misalnya, menyajikan hasil penelitian dalam bentuk film), mengelola file-file elektroniknya; dsb.


Daftar Pustaka

The Information Technology in public libraries» just a tool, but what a powerful tool!

21st Century Libraries; Changing Forms, Changing Futures

Public Libraries in the Internet age: Indian scenario

Implementing Knowledge Management in Academic Libraries: A Pragmatic Approach).