Minggu, 23 Januari 2011

Penyensoran, Kebebasan Intelektual, dan Pengembangan Koleksi

BAB 18

Penyensoran, Kebebasan Intelektual, dan Pengembangan Koleksi
Oleh: Muhammad Azwar, Rhoni Rodin, Hairul Agus Cahyono

Sebagai bagian dari persiapan kami untuk edisi baru ini, kami telah menghubungi orang-orang yang telah menggunakan edisi ke-4 untuk mendapatkan masukan mengenai hal-hal yang dapat ditambahkan dan hal-hal yang dapat diabaikan. Ketika hal tersebut terjadi pada bab ini, beberapa orang menyarankan mengabaikannya dan menjadikannya sebuah bab yang berdiri sendiri. Setelah mempertimbangkannya dengan matang, kami memutuskan bahwa permasalahan-permasalahan yang begitu kompleks tidak harus dalam sebuah bab yang terpisah. Kompleksitas permasalahan muncul dari fakta bahwa permasalahan penyensoran dan kebebasan intelektual keduanya merupakan karakter yang bersifat individu sekaligus organisasi. Menyediakan akses internet kepada pengguna menambah tingkat kompleksitas permasalahan tersebut.
Semua topik pengembangan koleksi telah didiskusikan dengan berbagai kompleksitasnya, dan beberapa hal menyentuh persoalan sosial yang lebih luas. Bagaimanapun, tidak ada permasalahan yang lebih kompleks daripada permasalahan pensensoran dan kebebasan intelektual. Bebas berbicara, bebas membaca, akses informasi yang terbuka merupakan istilah alternatif yang digunakan untuk kebebasan intelektual, sebagaimana yang telah didefinisikan ALA sebagai :
hak setiap individu untuk mencari dan menerima informasi dari semua sudut pandang tanpa batasan. Hal ini akan menyediakan untuk bebas akses untuk mengekspresikan semua ide melalui berbagai pertanyaan ataupun eksplorasi.
Demikian juga, sensorsip didefinisikan oleh ALA sebagai :
suatu perubahan dalam status akses terhadap bahan materi, berdasarkan konten dari suatu karya dan dibuat oleh yang memiliki otoritas atau yang mewakilinya. Perubahan yang dimaksud termasuk pengecualian, pembatasan, pemindahan, penghapusan, ataupun dalam hal perubahan level kelas.
Jelaslah, bahwa perubahan-perubahan ini merupakan pilar dimana pustakawan dan manajer informasi membangun koleksi. Sehingga, konsep kebebasan intelektual dan penyensoran haruslah ditujukan pada proses pengembangan koleksi.
Tidaklah cukup tempat dalam bab ini untuk secara penuh mengeksplorasi semua aspek kebebasan intelektual, pensensoran, dan berbicara panjang lebar. Meskipun merupakan konsep yang penting dan menarik untuk setiap orang yang terlibat dalam pengembangan koleksi, namun persoalan kebebasan intelektual dan pensensoran juga hal yang begitu kompleks dan menjadi subjek pembicaraan banyak buku dan artikel. Semua pustakawan harus memahami hal ini, bahkan penting bagi orang tertentu memahami dengan baik permasalahan-permasalahan yang terkait dengan pensensoran.

A. Latar BelakangPada sisi organisasi, pensensoran muncul dari hukum, peraturan, kebijakan pemerintah, kebijakan perpustakaan, dan tekanan dari kelompok lainnya. Dari sudut pandang individu, pensensoran muncul dari pengguna individu, dan mungkin paling banyak dari orang-orang yang membuat keputusan mengenai koleksi.
Konsep “koleksi yang seimbang” merepresentasikan semua pandangan dari suatu masyarakat yang plural, masih relatif baru bagi perpustakaan Amerika. Masa terbaik (1870-an sampai 1970-an) peraturan legal ditegakkan, berusaha menegakkan moralitas. Anthony Comstock orang yang memiliki personali dan kepercayaan yang kuat berupaya untuk mengawasi bahan-bahan bacaan orang Amerika, yang begitu kuat dan berhasil menjadikan namanya saat ini sebagai bagian dari kamus dari diskusi intelektual dan pensensoran―Comstockery.
Memang, Comstock terlalu vokal dalam usahanya itu, pada tahun 1873, Kongres meloloskan sebuah undang-undang yang berupaya menciptakan sebuah struktur untuk moralitas nasional. Hampir 75 tahun, hukum ini berlaku. Pos layanan yang ditunjuk sebagai agen pemerintah terutama bertanggung jawab untuk melaksanakannya pada level nasional. Pada level setempat, beberapa unsur berfungsi. Pemerintah Amerika meloloskan peraturan yang sama demikian juga departemen kepolisian setempat terlibat juga dalam wakil pengendali. Agen penegakan hukum cukup membantu dari dua kelompok warga: yaitu masyarakat untuk kelompok tertindas dan lingkungan masyarakat. Masyarakat untuk kelompok tertindas kendaraan Comstock digunakan untuk mendapatkan dukungan dan menunjukkan dukungan nasional yang dalam atas pandangan-pandangannya. Kegiatan utama masyarakat tersebut adalah mengecek ketersediaan material tercetak pada warga setempat, apapun sumbernya (toko buku, kios koran, dan perpustakaan baik umum maupun khusus). Terkadang, ketika masyarakat merasa bahwa pejabat penegakan hukum setempat tidak bergerak begitu cepat, hal tersebut akan menjadi permasalahan tersendiri.
Dari tahun 1873 hingga masuk abad ke-20, pengalaman Amerika Serikat memadukan tiga jenis penyensoran : penyensoran resmi karena hukum tahun 1873; tekanan dari masyarakat yang konsen dengan standar moral komunitas mereka; dan pada pensensoran pada bagian penerbit, penjualan buku, dan pustakawan. Sikap para pustakawan terhadap pensensoran semacam itu hampir tidak terdengar, kenyataannya sekelompok profesional mensponsori kegiatan workshop dan seminar untuk membantu pustakawan mengidentifikasi buku-buku yang tidak tepat. Kebanyakan pustakawan terkemuka di masa lalu menyimpan (prosiding ALA, pidato, ataupun tulisan) mendukung pengembangan koleksi jenis ini.
Situasi menarik muncul dengan judul-judul bahasa asing. Banyak pengarang tersedia dalam bahasa mereka sendiri, namun bukan dalam bahasa Inggris. Tampaknya, jika seseorang dapat membaca bahasa Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, ataupun bahasa lainnya, seseorang sedang membaca sebuah buku “moral”, namun dengan karya yang sama dalam terjemahan bahasa Inggris diartikan tidak bermoral. Suasana pensensoran menyebabkan beberapa pengarang Amerika tinggal di luar negeri. Pada saat tersebut, pustakawan tidak memprotes situasi ini daripada orang lain di negeri tersebut.
Pada periode antara 1873 dan pertengahan 1950-an ditunjukkan semua permasalahan pensensoran sehingga orang-orang dapat bertemu. Dari tahun 1930-an hingga pertengahan 1950-an, beberapa keputusan pengadilan federal, termasuk beberapa pengadilan agung Amerika Serikat, memodifikasi hukum tahun 1873. (hal ini terjadi selama tahun 1930-an ketika ALA mengambil sikap untuk membuka akses).
Perubahan utama dalam menginterpretasikan hukum dimulai dengan Pengadilan Agung Amerika pada tahun 1957 dengan keputusan Roth. Keputusan ini membuat tes yang terdiri dari tiga bagian dari kecarutan. Pertama, tema dominan dari karya tertentu sebagai keseluruhan harus menarik minat kecarutan (kecabulan) dalam seks. Kedua, karya tertentu harus secara nyata menunjukkan ketidaksopanan (penyerangan) karena menghina standar-standar komunitas secara kontemporer dalam merepresentasikan seks. Ketiga, karya tertentu harus sama sekali tanpa penebusan nilai sosial. Dengan interpretasi tersebut, material seksual secara explisit menjadi tersedia di pasar terbuka. Tidak terduga, beberapa orang keberatan terhadap keterbukaan baru tersebut, dan pada tahun 1973, Pengadilan Agung, memutuskan kasus Miller dan memodifikasi tes tiga bagian tersebut. Pengadilan menyarankan tes tiga baru yang baru. Pertama, akankah rata-rata orang menerapkan standar komunitas untuk menemukan suatu karya sebagai keseluruhan yang menarik minat unsur-unsur kecabulan? Kedua, apakah karya tertentu menggambarkan suatu jalan penyerangan secara seksual yang dilarang dalam hukum Amerika? Ketiga, apakah karya tertentu sebagai suatu keseluruhan , kurang serius dalam literatur, artistik, politik, dan nilai sains? Pengaruh dari keputusan tersebut adalah untuk mengurangi dampak dari tes-tes sebelumnya yang menekankan pada standar setempat. Tes inilah yang mendapatkan tempat saat ini.
Konsep penyensoran mengacu pada pemeriksaan dan peraturan resmi terhadap naskah yang akan diterbitkan atau akan dinyanyikan atau akan dipanggungkan. Jadi sensor berlangsung sebelum penerbitan atau pemanggungan atau pagelaran. Jika mengacu pada buku maka pengertian larangan beredar terhadap sebuah buku berlangsung sesudah buku diterbitkan.
Bila dikaji asal usul kata sensor, menurut Sulistyo-Basuki (1991, p.112) kata sensor sebenarnya berasal dari kata Latin sensor artinya pejabat Roma yang bertanggung jawab atas sensus warga Roma (ingat saja akan kelahiran Jesus karena Jusuf dan Maria harus ke Jerusalem untuk keperluan sensus), menaksir milik mereka, memeriksa moral umum, dan mengatur keuangan negara. Sehnggan pada akhirnya dari kata sensor ini berkembanglah istilah censorship dalam kosa kata inggris.
Menurut Qolyubi dkk (79) bahwa rumusan yang dituangkan dalam kebijakan pengembangan koleksi tertulis dimulai dengan penjelasan singkat tentang misi perpustakaan dan sasaran yang ingin dicapat, deskripsi singkat mengenai masyarakat yang dilayani, koleksi yang sudah ada, kemudian dilanjutkan dengan salah satunya adalah mengenai sikap perpustakaan terhadap sensor dan masalah lain yang berkaitan dengan kebebasan intelektual.

B. Contoh PenyensoranHampir setiap jenis perpustakaan menemukan satu atau dua tantangan. Namun, media perpustakaan sekolah adalah salah satu yang paling menantang. Tantangan-tantangan ini biasanya berhubungan dengan seksualitas, penggunaan narkoba, hak-hak kelompok minoritas, nilai-nilai agama, dan kadang-kadang pandangan politik. Kantor Kebebasan Intelektual melaporkan bahwa 71 persen dari tantangan antara tahun 1990 sampai 2000 adalah pengaturan dalam sekolah dan tantangan dari orang tua sekitar 60 persen.
Seperti bisa diduga, perpustakaan umum menerima sejumlah tantangan terbesar kedua. Perpustakaan akademik dan khusus adalah sejumlah tantangan yang jauh di belakangnya, tetapi ini sering berupa beberapa tantangan yang lebih kompleks untuk diselesaikan. Berikut ini menyoroti hanyalah beberapa dari ratusan upaya penyensoran di perpustakaan dan pusat-pusat informasi di Amerika Serikat dan merupakan contoh dari masing-masing jenis perpustakaan. Newsletter Kebebasan Intelektual ALA (http://members.ala.org/nif/>) menyediakan sumber berkelanjutan berita tentang bidang ini.

Jurnal
Pada akhir 1960-an, dua majalah, Ramparts (Bahtera Nuh) dan Evergreen Review (ER, http://www.evergreenreview.com/), disebabkan perpustakaan dan pustakawan untuk menghadapi mengangkatnya masalah sensor. Konfrontasi ini mengilustrasikan berbagai cara menangani perpustakaan dengan kontroversi. Di Los Angeles, perpustakaan umum telah berupaya melawan seorang anggota dewan kota untuk menghapus ER dari perpustakaan. Anggota dewan itu tidak berhasil, tetapi perpustakaan menghapus isu ER pada waktu itu dari tempat umum sementara kontroversi berkobar. Akhirnya, jurnal dikembalikan ke rak-rak terbuka setelah para pihak mencapai keputusan akhir. Ini adalah sebuah kemenangan jangka pendek untuk sensor tetapi, pada akhirnya, kemenangan untuk akses gratis.
Antara menjaga item pada rak dan menghapus itu adalah posisi kompromi untuk pustakawan yang kadang-kadang resor- ketersediaan yang terbatas. Perpustakaan Kebebasan Philadelpia memperbaharui berlangganan untuk bangunan utama dan satu cabang regional, tetapi isu itu terus tertumpuk di daerah tertutup, dan tidak ada satupun anak-anak di bawah usia delapan belas tahun bisa memeriksa judul. Emerson Greenaway, yang pada waktu itu direktur perpustakaan untuk Philadelphia Free Library, mengatakan hal ini dilakukan karena ER adalah penting secara sosiologis. Siapa pemenang di sini, sensor atau pustakawan?
Hal tersebut di atas adalah contoh kecil dari masalah yang timbul dengan Evergreen Review dan Ramparts, dan mereka hanya dua dari ratusan majalah yang telah menyerang selama bertahun-tahun. Bahkan, kelompok sering pertanyaan Newsweek dan Time. Beberapa jurnal lain yang telah dipertanyakan oleh seorang individu atau kelompok dalam beberapa tahun terakhir termasuk The Advocate, People, Penthouse, playgirl, Reader's Digest, Rolling Stone (dihapus dari Livingston Park High School Perpustakaan pada bulan Oktober 2002 setelah upaya gagal untuk hanya membatasi penggunaan untuk siswa dengan izin orang tua), dan Young Miss.

BukuDaftar buku yang telah menimbulkan kesulitan selama bertahun-tahun sangat besar. Kantor situs Intelektual Freedom (http://www.ala.org/ala/oif/bannedbooksweek/bbwlinks/100mostfrequently.htm) berisi daftar 100 buku yang paling sering menantang antara 1990 sampai 2000. Steinbeck's Of Mice and Men berada di tempat keenam, sedangkan Maya Angelou, I Know Why the Caged Bird Sings berada peringkat di tempat ketiga. The Catcher in the Rye, judul menantang lama, adalah thirteanth sementara To Kill a Mockingbird empat puluh pertama. Jelas bahwa meskipun sebagian besar sekolah menghadapi tantangan, beberapa karya sastra sangat dihargai juga bisa menimbulkan masalah.
I Know Why the Caged Bird Sings menghadapi tantangan karena bagian-bagian yang berhubungan dengan pelecehan anak dan perkosaan. Dalam banyak kasus, penentang berhasil memaksa penghapusan atau membatasi penggunaannya oleh orang tua memerlukan persetujuan secara tertulis.

Musik dan RekamanMeskipun di masa lalu telah terjadi masalah yang lebih sedikit dengan musik dibandingkan dengan format lain, yang tidak lagi terjadi. Musik rap, hard rock, dan musik lirik pada umumnya sekarang menghasilkan kontroversi cukup teratur. Pada akhir 1990-an, 2 Live Crew rekaman dan pertunjukan menarik perhatian nasional, dan kepedulian ini terus tumbuh. Awal tahun 1990, industri rekaman menerapkan program pelabelan serupa dengan sistem rating film. Hal ini terjadi setelah bertahun-tahun perdebatan, bahkan di Kongres, dan oposisi dari berbagai kelompok, seperti ALA.

PermainanTidak ada dalam koleksi yang kebal dari tantangan, seperti beberapa perpustakaan belajar dari pengalaman pahit. Aurora Perpustakaan Umum (Colorado) harus berurusan dengan kontroversi Dungeons and Dragons (D & D) buku pemain.
Pada waktu yang sama, di Hanover, Virginia, orang tua dari tahun enam belas berusia yang bunuh diri menggugat sistem sekolah umum. Orang tua menuduh bahwa bunuh diri itu merupakan akibat langsung dari itu bermain D & D di sebuah gedung sekolah. tuntutan hukum terkait dengan kematian salah game, film, dan program televisi telah meningkat.

Film dan VideoSebagai koleksi perpustakaan dari berkembangnya video teater, begitu juga kemungkinan bahwa seseorang akan menuntut penghapusan satu atau lebih judul. Pendidikan video, terutama yang berurusan dengan reproduksi, aborsi, dan gaya hidup alternatif, ini juga menjadi masalah. Bahkan video berbahasa asing, seperti Film bahasa Portugis, dapat menarik protes. Selama Perang Teluk, beberapa perpustakaan menolak video antiperang, meningkatkan pertanyaan apakah pustakawan yang bertindak sebagai sensor dan tidak memberikan kedua sisi dari sebuah isu. Sebuah artikel pendek, tapi informatif, tentang isu-isu aksesibilitas untuk koleksi video oleh John Hurley.
LMU memperbesar koleksi video telah ditarik beberapa keluhan. Tidak ada tantangan yang cukup serius untuk menjamin perhatian luar perpustakaan, sebagaimana tidak ada satupun dari universitas yang mengangkat masalah ini. Untuk saat ini, keluhan dari komunitas pengguna yang beranggapan koleksi seharusnya hanya berisi “Kristen jika tidak semata-mata bahan Katolik Roma.” Film seperti Jesus Christ, Superstar dan The Last Temptation of Christ telah menarik komentar yang sangat negatif negatif dari beberapa anggota masyarakat. Apa yang mungkin terjadi jika orang tua siswa atau donor utama adalah untuk mengeluh sulit untuk mengatakan. Kami lebih berharap masalah ini akan melampaui dinding-dinding perpustakaan.
Beberapa tahun yang lalu, pustakawan memakai performa sensor diri yang menakjubkan. Situasi di sekitar film The Speaker meliputi hampir setiap satu elemen mungkin menghadapi dalam setiap kasus penyensoran. Untuk memahami sepenuhnya semua paradoks bahwa acara ini mewakili, kita harus meninjau latar belakang situasi dan melihat film.
Masalah dengan The Speaker dimulai ketika Komite Kebebasan Intelektual ALA menerima dana untuk memproduksi sebuah film tentang masalah sensor dan kebebasan intelektual. Tampil untuk pertama kalinya bagi keanggotaan pada konvensi tahunan Juni 1977, film yang dihasilkan salah satu perdebatan panjang dalam sejarah ALA. Jarang yang ada sudah selama atau sebagai perdebatan pahit dalam ALA tentang sebuah isu yang, mungkin, sebuah artikel iman dalam profesi. Banyak anggota Afrika Amerika menyebut film rasis. Banyak anggota lain sepakat bahwa film ini adalah bermasalah karena alasan itu atau lainnya. Sebuah usaha untuk memiliki nama ALA dipisahkan dari film gagal, tapi tidak terlalu banyak. Apakah itu pindah ke sensor? Apakah yang benar-benar berbeda dari penerbit memutuskan untuk tidak melepaskan hak karena pekerjaan ditemukan tidak dalam kepentingan terbaik dari pemilik perusahaan?
Seperti halnya dengan setiap masalah lain dari jenis ini, kita tidak memiliki data obyektif yang menjadi dasar penghakiman. Tidak semua orang Amerika Afrika atau orang lain dari warna yang dilihat film melihatnya sebagai rasis. Hanya karena satu (meskipun besar) kelompok mengklaim bahwa item ini atau itu, apakah klaim tersebut membuatnya begitu?
Apakah ini benar-benar berbeda dari Komite Warga untuk Bersihkan Buku mengatakan bahwa The Last Temptation Kristus adalah asusila, atau John Birch Society mengklaim bahwa Ramparts dan the Evergreen Review adalah anti Amerika? Kita berharap bahwa kebanyakan pustakawan akan setuju dengan Dorothy Broderick tentang The Speaker:

Biarkan pustakawan di seluruh negeri memutuskan untuk diri mereka sendiri: jika mereka menemukan film membosankan, biarkan mereka tidak membelinya. Jika mereka merasa bahwa menggunakannya akan menciptakan kekacauan dalam komunitas mereka-seolah-olah mereka telah mengundang The Speaker membiarkan mereka mengabaikan keberadaannya. Jika film ini adalah seburuk lawan-lawannya klaim, ia akan mati dalam kematian yang wajar dari sebuah karya yang tidak memadai di pasar.

Banyak orang percaya bahwa jika ALA dihapus namanya dari film ini, asosiasi akan mengambil langkah pertama menuju film menekan, sehingga berlatih sensor, hal yang sangat ia mencoba untuk menghindari.
Untungnya, ALA telah dihasilkan, atau mengambil bagian dalam produksi, video yang bagus, Censorship v. Selection : Choosing Books for Public School. Walaupun fokusnya adalah pada sekolah umum, isu yang dibahas adalah cukup luas untuk membuat film yang berharga untuk digunakan dengan kelompok apapun untuk menghasilkan diskusi tentang kebebasan intelektual dan sensor.

C. Apa Yang Harus Dilakukan Sebelum Dan Sesudah Sensor TibaMengetahui bahaya sensor dan memiliki komitmen untuk menghindari hal yang tidak cukup di dunia pada saat ini. Profesional Informasi harus mempersiapkan untuk sensor panjang, jauh sebelum ada ancaman atau sebelum ancaman itu menjadi nyata. Langkah pertama dalam mempersiapkan sensor adalah untuk mengantisipasi ketika harus menghadapi sensor. Siapkan pernyataan kebijakan tentang bagaimana perpustakaan akan menangani keluhan dan memiliki kebijakan yang disetujui oleh semua pihak yang berwenang. Menghadapi orang marah yang mengeluh tentang bahan pustaka dan tidak mempunyai ide bagaimana menangani situasi yang sangat tidak nyaman. Bahkan dengan kebijakan dan prosedur, situasi dapat meningkat menjadi kekerasan fisik; tanpa adanya prosedur, kemungkinan kenaikan konfrontasi fisik. Sebuah prosedur khas adalah memiliki individu mengajukan keluhan formal atau mengisi formulir yang menentukan apa yang menjadi masalah. Beberapa organisasi, seperti ALA dan dewan nasional guru bahasa Inggris, telah merekomendasikan bentuk yang sama-sama efektif.
Setelah perpustakaan mengembangkan kebijakan dan prosedur, dan mereka disetujui, setiap orang yang bekerja di pelayanan publik perlu memahami sistem dan menerima pelatihan dalam melaksanakan sistem. (Kadang-kadang peran-bermain sangat membantu dalam memperkuat pelatihan.) kantor ALA untuk kebebasan intelektual telah memiliki pedoman luar biasa yang memberikan rincian tentang apa yang harus dilakukan sebelum sensor tiba serta memberikan materi di situs Web mereka. Sumber lain yang baik adalah Defusing Censorship: The Librarian’s Guide to Handling Censorship Conflict Frances Jones.
Struktur organisasi ALA untuk menangani masalah kebebasan intelektual agak membingungkan. Komite kebebasan intelektual (IFC) bertanggung jawab untuk membuat rekomendasi kepada asosiasi tentang hal-hal kebebasan intelektual. Kantor untuk kebebasan intelektual (OIF), yang memiliki staf penuh-waktu, memiliki muatan mendidik pustakawan dan orang lain tentang kebebasan intelektual dan hal-hal sensor. Ini juga merupakan layanan dukungan bagi IFC, dan menerapkan kebijakan asosiasi yang terkait dengan kebebasan intelektual. Sebagai bagian dari fungsi pendidikan tersebut. The OIF menghasilkan beberapa publikasi: newsletter pada kebebasan intelektual (berita dan perkembangan terkini yang berkaitan dengan kebebasan intelektual) dan petunjuk kebebasan intelektual.
Walaupun OIF tidak memberikan bantuan hukum bila perpustakaan menghadapi keluhan, tidak memberikan konsultasi telepon (kadang-kadang dengan penambahan pernyataan tertulis atau nama-nama orang yang mungkin bisa bersaksi dalam mendukung kebebasan intelektual). Sangat jarang, OIF datang ke perpustakaan untuk belajar bahwa OIF tidak memberikan bantuan hukum. Bantuan hukum mungkin tersedia dari kebebasan untuk membaca yayasan. FRF bukan bagian dari ALA (itu adalah badan hukum yang terpisah), tetapi kedua sangat erat terkait bahwa banyak orang mengalami kesulitan menggambar garis antara keduanya. Direktur eksekutif FRF juga merupakan direktur OIF; dengan pengaturan tersebut, maka tidak mengherankan bahwa orang berpikir FRF adalah bagian dari ALA. Sadarilah bahwa tidak ada jaminan menerima bantuan keuangan atau hukum dari FRF, ada kasus yang terlalu banyak dan dana yang cukup untuk membantu setiap orang.
Setiap orang yang tertarik untuk menjadi terlibat kegiatan kebebasan intelektual saya harus mempertimbangkan bergabung dengan meja bundar kebebasan intelektual, yang merupakan unit keanggotaan umum ALA yang berkaitan dengan kebebasan intelektual. Meskipun ALA menawarkan berbagai layanan dukungan untuk penanganan keluhan sensor, dukungan yang terbaik adalah menyiapkan sebelum kebutuhan timbul.
Berdasarkan pemaparan yang telah disampaikan diatas maka dapat dikonklusikan bahwa ada beberapa alasan dilakukannya sensor ini. Sebagaimana dikatakan oleh Sulistyo-Basuki (1991, p. 115) bahwa secara umum ada 5 sebab mengapa buku dilarang beredar. Adapun alasan pelarangan ialah (1) alasan politik, (2) alasan agama, (3) alasan ras, (4) alasan pornografi, dan (5) alasan penerbitan dalam aksara asing.

D. PenyaringanOleh karena itu kami memutuskan untuk menempatkan pembahasan penyaringan di sini dalam banyak hal, menjadi perhatian yang sangat berbeda dari tantangan ke item yang merupakan bagian dari koleksi seseorang. Menyaring akses ke internet adalah "topik hangat" bagi masyarakat umum, pejabat pemerintah, dan perpustakaan. Ketika kita mulai abad ke 21, perpustakaan tampaknya "terjebak di antara batu dan tempat yang keras" tentang masalah ini, selama mereka menawarkan akses internet kepada masyarakat. Beberapa masyarakat umum, yang mengatur papan, dan pejabat pemerintah terpilih ingin perpustakaan menggunakan software filter yang akan menolak akses ke beberapa jenis situs. Lainnya, percaya pada kebebasan berbicara (amandemen pertama), tidak mau penyaringan. Alasan utama untuk menyaring adalah untuk menjaga anak-anak dari memiliki akses ke situs "tidak bisa diterima". Sebuah artikel yang sangat baik menggambarkan bagaimana penyaringan bekerja dan tingkat kesalahan software filter Resnick paul, Derek Hansen, dan pasal Richardson Caroline di komunikasi atau ACM.
Penyaringan akses internet berkisar sekitar melindungi anak dan menolak akses terutama ke materi seksual. Masalah utama adalah bahwa penyaringan menegaskan software dan di bawah blok. Upaya untuk mengatur solusi memiliki hasil yang beragam. Kesopanan komunikasi bertindak (CDA) (yang membuat suatu kejahatan untuk mengirim atau posting material "tidak senonoh" di internet) dikuasai inkonstitusional oleh Mahkamah Agung pada tahun 1997. Kongres kemudian melewati tindakan perlindungan anak online (COPA, 47 USC 231 $), yang bertemu banyak nasib yang sama seperti CDA, ketika Mahkamah Agung memutuskan pada bulan juli 2004 untuk menegakkan suatu perintah ditempatkan pada tindakan tersebut oleh pengadilan yang lebih rendah. Pada Juni 2003, CIPA (Undang-undang perlindungan anak internet, PL 106-554) menerima penghakiman campuran dari Mahkamah Agung. Hal ini dicampur karena meskipun enam dari hakim ditemukan mendukung hukum, hanya empat menyetujui pendapat tunggal (perlu lima sampai membuat "mengendalikan" keputusan). Pendapat positif dilakukan, bagaimanapun, berarti perpustakaan (umum dan sekolah) harus memiliki filter, karena mereka disajikan satu-satunya solusi realistis untuk masalah.
Perpustakaan dalam menangani penyaringan Tantangannya adalah memenuhi persyaratan hukum untuk melindungi anak-anak dan masih menyediakan akses orang dewasa untuk bahan yang sah. Ada tiga daerah di mana filter untuk memblokir materi bersifat cabul penggambaran visual, pornografi anak, dan mereka yang berbahaya bagi anak di bawah umur. (CIPA tidak memerlukan teks penyaringan), sedangkan judul mengindikasikan tindakan fokusnya adalah anak-anak, jika perpustakaan ditutupi oleh mandat CIPA, semua komputer dengan kemampuan internet harus memiliki perangkat lunak penyaringan (termasuk staf komputer).
Undang-undang ini berlaku untuk perpustakaan umum dan sekolah yang memiliki diskon harga untuk akses internet, menerima dana dengan judul III dari tindakan pendidikan dasar dan menengah untuk membeli komputer yang akan terhubung ke internet, atau menerima dana di bawah negara- dioperasikan LSTA (layanan perpustakaan dan bertindak teknologi) untuk pembelian komputer internet. itu tidak berlaku untuk perpustakaan akademis atau khusus. ALA telah menciptakan situs web yang luas untuk melacak efek CIPA (http://www.ala.org/cipa).

E. RingkasanMasalah penyensoran merupakan hal yang kompleks, dan perlu untuk membaca secara ekstensif dan berpikir tentang topik ini. Contoh teoritis mungkin membantu untuk menggambarkan bagaimana kompleksnya masalah. Asumsi bahwa seorang pustakawan yang bertanggung jawab untuk memilih bahan untuk sebuah perpustakaan umum yang kecil. Tentu, pustakawan perlu pekerjaan ini untuk menutupi biaya hidup. Sekelompok kecil orang di masyarakat menginginkan pustakawan untuk membeli barang-barang tertentu untuk koleksi perpustakaan, tetapi pustakawan juga tahu dari sebuah kelompok besar orang yang vokal dan berpengaruh yang akan marah dan bahkan mungkin menuntut pustakawan dipecat jika item tersebut dibeli. Pustakawan harus membeli item dan risiko kesejahteraan keluarganya dan karir sendiri selama ini? Jika pustakawan tetap tidak membeli item tersebut, apa yang dapat dikatakan kepada orang-orang yang meminta dibeli? Apakah memberitahu mereka bahwa mereka bisa mendapatkannya di tempat lain atau mendapatkannya melalui pinjaman antar perpustakaan mengatasi masalah pustakawan itu?
Akhirnya, sebuah artikel di perpustakaan Amerika mengangkat pertanyaan: apakah penyensoran untuk menghapus seluruh kopian The Joy of Gay Sex menyebabkan pendukung praktek seks yang sekarang dirasakan berbahaya dalam terang epidemi AIDS?" pertanyaan, dan ada beberapa perbedaan pendapat. Orang bertanya-tanya bagaimana responden akan menjawab pertanyaan itu adalah: apakah sensor tidak membeli salinan seks Madonna? Seperti dengan semua persoalan yang sebenarnya, tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan.


Daftar Pustaka
Evans, G. Eduard & Saponaro, Margaret Zarnosky. 2005. Chapter 18 : Censorship, Intellectual Freedom, and Collection Development in Developing Library and Information Center Collections. Fifth edition. New York : Collection Development team.

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Syihabuddin Qolyubi dkk. 2007. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jogjakarta : Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Tidak ada komentar: