Minggu, 13 Juni 2010

Kebudayaan sebagai sistem adaptasi

Uraikan perbedaan strategi adaptasi dari dua komuniti peladang di NTT (orang Iwangette dan Lio) mengenai pengelolaan lahan dan pranata-pranata yang mengaturnya.

Kebudayaan sebagai sistem adaptasi dapat dilihat dari tradisi yang dimiliki oleh 2 komuniti di NTT (orang Iwangette dan orang Lio). Melihat tradisi yang mereka miliki ketaatan pada pimpinan sebagai lapisan teratas yang berfungsi sebagai kepala adat dalam suatu lembaga pemerintahan adat dan sebagai penguasa lahan. Tradisi yang mereka miliki ini member keuntungan pada lingkungan dengan tetap terjaga pengelolaan lahan yang ada baik tanaman pangan maupun tanaman musiman.
Dalam pengelolaan lahan terjadi perubahan dari pengelolaan tempo dulu dengan sekarang. Dahulu dalam kebudayaan Lio maupun Iwangette terdapat sejumlah pranata pengelolaan lahan, masing2 dengan perbedaannya tetapi pada dasarnya kedua komunitas ini memperlihatkan pernah memiliki seperangkat pranata yang efektif dalam perawatan lahan. Yang dimaksud dengan perawatan lahan adalah upaya untuk menjaga kesuburan lahan. Perawatan inipun dibedakan antara perawatan tempo dulu dan sekarang selama digarap. Masing-masing dilakukan melalui aturan-aturan atau larangan-larangan serta tindakan-tindakan nyata. Aturan-aturan atau larangan-larangan ini dikategorikan sebagai upaya perawatan secara tidak langsung, sedangkan cara-cara atau tindakan-tindakan nyata dikategorikan sebagai upaya perawatan secara langsung.
Dalam menyelesaikan tugas ini penulis mengambil tulisan dari bapak Remiguis Dewa yang memaparkan bahwa ada 2 penduduk terbesar di Flores yakni orang Iwanggete dan orang Lio sebagai komunitas peladang yang bermukim dan berladang di kawasan perbukitan. Bagi komunitas-komunitas peladang, lahan merupakan sumberdaya alam utama yang menopang kehidupan mereka. Karena itu dalam komunitas melalui pranata-paranata tergambar dibawah ini mengatur pemanfaat lahan dan perawatannya.

Pengelolaan Lahan dan Pranata-pranata
• Komunitas Orang Iwangette
Komunitas Iwangette hanya mengenal 3 lapisan masyarakat, yaitu ata dua moan watu pitu, ata riwun gawan dan ata maha. Lapisan pertama, ata dua moan terdiri dari tujuh tokoh masyarakat yang memperoleh kepercayaan dari masyarakat luas untuk mengatur kehidupan soaial masyarakat yang bersangkutan. Mereka adalah (1) tana puan atau tuan tanah; (2) kokokek atau juru penerangan; (3) gai atau kepala keamanan dan pemimpin perang; (4) buwun Gajon; (5) jaga nuba plamang nanga yang dapat diartikan sebagai pengawal wilayah pesisir dan pengurus pelabuhan; (6) jaga duen plamang hoat atau pengawal perbatasan dan (7) urun blon dammar gahar atau hakim. Lapisan kedua, ata riwun gawan adalah lapisan orang kebanyakan. Lapisan ketiga, ata maha adalah para budak berlian beserta keturunannya.
Mulai tahun 1960-an adanya perubahan struktur di dalam orang Iwangette, diantaranya: Dua moan yang semula sebagai suatu lembaga pemerintahan adat sekaligus sebagai lembaga paradilan dalam pengelolaan konflik-konflik social, kini hanya mempunyai pengaruh dalam urusan sengketa tanah tertentu. Lembaga ini kini berfungsi sebagai lembaga pengadilan atau dua kula moan kara. Khusus mengenai tana puan yang dulu berperan menentukan pembagian lahan garapan dan mengatur ritual perladangan, kini sejak tahun 1960-an dengan berubahnya sistem pemerintahan, setiap petani mempunyai hak atas tanahnya dan wajib membayar pajak atas bidang tanah yang dimilikinya.

• Pengelolaan lahan dan pranata-pranata Orang Lio
Komunitas Lio mengenal 4 lapisan social yaitu mosalaki, aji-ana, fai walu ana halo dan ata hoo. Lapisan pertama, mosalaki terdiri dari beberapa pejabat, dengan laki puu sebagai pimpinan teras dan ria bewa sebagai pelaksana kekuasaan. Lapisan kedua, aji-ana adalah lapisan pendukung para mosalaki yang terdiri dari kaum kerabat para mosalaki dan mereka yang berjasa dalam mempertahankan atau memperluas tanah persekutuan. Lapisan ketiga, fai walu ana halo adalah lapisan masyarakat bawah sebagai lapisan terbesar, terdiri dari para petani penggarap. Lapisan keempat, ata hoo adalah lapisan para pelayan dan budak.
Dalam komunitas Lio, mosalaki adalah penguasa suatu tanah persekutuan. Mosalaki mengatur pembagian lahan garapan, menjamin hak pakai atas tanah maupun menetapkan denda adat atas pelanggaran-pelanggaran dalam pengelolaan lahan. Lapisan masyarakat bawah, fai walu ana halo diberi hak oleh mosalaki hanya sebatas hak pakai atas tanah dan berkewajiban mematuhi setiap aturan yang ditetapkan oleh mosalaki. Kekuasaan mosalaki ini masih tetap diakui hingga saat ini oleh masyarakat maupun pemerintah daerah setempat.

Pengembangan Lahan dan Pelestarian
Dari gambaran di atas, tampak bahwa perkembangan pranata pengelolaan lahan dari kedua komunitas antara komunitas Iwanggete dan orang Lio berbeda dalam pola pemanfaatan dan pelelestarian sumber daya alam, dikarenakan kondisi lingkungan alam serta pranata-pranata pengelolaan dalam perkembangannya berbeda. Komunitas Iwanggete sudah menerima teknologi baru untuk pengembangan lahan tetapi komunitas Lio masih bertahan dengan teknologi perlandangan tempo dulu. Ke-2 komunitas ini berusaha mencari jalan keluar untuk kelangsungan pemenuhan kehidupan sekaligus menjaga keseimbangan ekologinya.
Mereka sudah berusaha untuk menjaga dan merawat lahan secara langsung dengan : (1) larangan menebang pohon dalam hutan bakal ladang, (2) larangan menggembala ternak di lahan yang tengah diberakan, (3) larangan membakar hutan bakal ladang, (4) Kewajiban menghutankan kembali bekas ladang. Sanksi terhadap pelanggaran ini baik komunitas Lio maupun komunitas Iwanggete adalah dengan memberikan denda kepada pelanggar. Bagi mereka yang melanggar wajib membayar kepada pihak yang dirugikan dengan apa yang disebut seliwu seeko.
Mereka juga (komunitas Lio dan komunitas Iwanggete) berusaha menghutankan kembali bekas ladang. Kinerja mereka dalam upaya pemeliharaan kesuburan lahan selama digarap, dengan mencegah kemungkinan kerusakan lahan misalnya dari erosi atau dari pemanggangan oleh terik matahari. Cara pencegahan atau uapaya pemeliharaan lahan yaitu pencegahan erosi dan penanaman serta tumpang sari.

Langkah-langkah di atas sebenarnya merupakan intervensi dalam penyelamatan pengelolaan lahan adalah pemerintah daerah setempat dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mendukung program-program pemerintah dalam pembangunan masyarakat pedesaan di ke-2 komunitas ini. Walau demikian menurut Barlow (1991: 238) bahwa teknologi sebagai salah satu solusi pengembangan masyarakat harus disesuaikan dengan permasalahan dan keperluan situasi kondisi kedua komunitas: orang Iwanggete dan orang Lio. Artinya pemerintah daerah dalam memprogram pembangunan desa di ke-2 komunitas ini disesuaikan dengan tipikal dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam dan lingkungan social budayanya.

Daftar PustakaBarlow, Colin. 1991. Concluaiona and Recommendations, dalam Colin Barlow et al (eds.), dalam Nusa Tenggara Timur: The Challenges of Development. Canberra: The Austrailian National University. Hlm. 231-241

Metzner, Joachim. 1986. Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemungkinan untuk Meningkatkan Penggunaan Lahan dengan Bantuanores, dalam Joachim Metzner & N. Djaldjoen Lamtoro, (ed.) Ekofarming, Bertani Selaras Alam. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Remiguis Dewa dalam Perubahan Pranata Pengelolaan Lahan pada Komunitas Peladang di Nusa Tenggara Timur: Kasus Lio dan Iwangge Flores, Bahan Kuliah Teori Kebudayaan: Kebudayaan sebagai Sistem Adabtasi Terhadap Lingkungannya.

Les Annales dalam Kajian Budaya

• Mengapa penting memahami pendekatan Les Annales dalam menganalisis kajian budaya, khususnya dalam bidang sejarah dan bagaimana perkembangan selanjutnya khususnya dalam menganalisis kebenaran sejarah? Jelaskan pendapat Saudara!

Pentingnya Memahami Les AnnalesLes Annales lahir 1929 di Strassbourg dalam bentuk jurnal Les Annales d’histoire économique est sociale , yang hingga kini disebut sebagai Les Annales. Pendirinya Lucien Febvre (1878—1956) dan Marc Bloch (1886-1944). Dalam perkembangannya aliran ini disebut La nouvelle Histoire atau dalam bahasa inggris dikenal sebagai New History.
Dalam buku Mazhab Annales 1929-1989 Revolusi Prancis, yang diterjemahkan oleh Prof. Djoko Marihandono, mengungkapkan betapa pentingnya pedekatan Les Annales dalam menganalisis kajian budaya. Madzhab Les Annales lahir sebagai bentuk kritik terhadap sejarah yang menggunakan paradigma Ranke atau disebut madzhab methodique yaitu suatu madzhab yang menulis sejarah hanya untuk tokoh-tokoh terkenal dan peristiwa-peristiwa penting. Menurut Madzhab Les Annales, melakukan penelitian itu tidak hanya pada orang-orang terkenal dan peristiwa-peristiwa penting saja tetapi terfokus pada seluruh lapisan masyarakat yang membentuk suatu struktur tertentu. Sejarah bukan hanya milik kaum politisi, tetapi ke seluruh kehidupan manusia dalam masyarakat yang beraneka ragam tanpa meninggalkan arsip (dokumen).
Oleh karena itu Les Annales menggunakan metodologi structural yang memandang manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari struktur yang ditentukan baik dari posisi maupun dinamika kehidupannya. Oleh karena itu, mazhab Les Annales menggunakan pendekatan interdisipliner yaitu menggunakan ilmu bantu dari bidang ilmu lain untuk mempertajam analisis tentang perubahan struktur sehingga metodologi struktur menjadi kajian multidimensional dalam ilmu sejarah. Sampai sekarang, metodologi structural masih digunakan oleh para sejarawan untuk merekonstruksi peristiswa sejarah, khususnya yang menempatkan perubahan struktur masyarakat sebagai tema.
Les Annales dalam Kajian BudayaDi antara kedua pendiri Les Annales, nama Marc Bloch lebih dikenal karena ia menjadi pahlawan Prancis karena mati tertembak ketika terjadi Perang Dunia II (1944). Selain itu karyanya juga lebih mengarah ke wilayah budaya yang lebih luas dari pada Febvre. Hingga kini mazhab Les Annales masih sangat berpengaruh di Prancis
Les Annales Dalam Bidang Sejarah
Sejarah adalah cabang ilmu sosial yang unik dan spesifik dan dalam penulisannya: sesahih apa pun metodologi yang dimiliki, ia tetap sangat bergantung pada teks, literatur, produksi bahasa yang dihasilkan sebagai bahan penulisan sejarah, baik sumber primer maupun sumber sekunder. Di sinilah esensi kritik historisisme yang dibangun kaum pascastrukturalis dan pascamodernis karena pascastrukturalisme dan pascamodernisme merupakan aliran yang meredefinisi konsep tentang teks dan bahasa dalam kaitannya dengan kekuasaan dan ilmu pengetahuan.

Perkembangan Les Annales Selanjutnya
Sejak tahun 1950-1960, kelompok Les Annales membagi penelitiannya dalam bidang geografi sejarah, sejarah ekonomi, demografi histori. Dan dilanjutkan tahun 1970, bidang kajiannya diperluas lagi dengan sejarah mentalite. Les Annales tidak hanya meneliti dokumen berupa arsip saja tetapi mata uang, pedang dan pemulasaran jenazah.
Analisis Les Annales dalam Kebenaran Sejarah
Para sejarawan Perancis seperti Marc Bloch, Lucien Febvre, yang diteruskan oleh Labrouse, Simiand, dan yang paling fenomenal Fernand Braudel melahirkan mazhab baru Braudellian di dalam ilmu sejarah, yang meninggalkan paradigma lama sejarah konvensional. Dikenal sebagai French School of les Annales para sejarawan ini memperkenalkan pendekatan histoire totale: melihat sejarah dari perspektif pemikiran dan perbuatan rakyat kebanyakan secara menyeluruh.
Para sejarawan ini ingin menampilkan nilai kebenaran sejarah melalui ketelitian metode berdasarkan empirisisme dan logika. Oleh sebab itu, fokus mereka tak lagi narasi organisasi kekuasaan, otoritas politik, dan relasi ekonomi sebagai sejarah makro, tetapi kepada serpihan-serpihan peristiwa sejarah sosial sebagai suatu sejarah mikro. Bisa dikatakan les Annales memberi kontribusi kepada perspektif baru ilmu sejarah dan merupakan sumber penggalian ide pemikiran pascamodernis pada dasawarsa 1960-an di Eropa maupun Amerika Serikat. Mazhab ini mengembangkan sejarah sosial yang tidak mengenal pagar pembatas: ekonomi, struktur dan konjungtur, mentalitas, sejarah total, sejarah jangka panjang.
Marc Bloch salah seorang kelompok Les Annales, menghendaki sejarah yang ditulis lebih mendalam, dan lebih luas. Kekhususan Bloch dalam buku-bukunya, ia menuangkan metodologinya untuk menjawab pertanyaan anaknya tentang Apa Guna Sejarah. Menurut Bloch, sejarah berguna untuk memahami manusia karena untuk bertindak secara rasional diperlukan pemahaman. Buku Apologie pour l’Histoire ou Métier d’historien adalah kimpulan pemikirannya tentang sejarah tahun 1941 ketika Jerman menyerbu Perancis. Kumpulan ini diterbitkan anumerta.

Komentar Pribadi
Untuk memahami pembahasan Les Annales yang diterjemahkan oleh bapak Progf. Dr. Djoko Marihandono, penulis mengambil beberapa sumber (1) dari seumber langsung Mazhab Annales 1929-1989 Revolusi Prancis, yang diterjemahkan oleh Dr. Djoko Marihandono. (2) dari internet http://www.scribd.com/doc/25415411/Sejarah-Sebagai-Kajian-Budaya yang di akses tanggal 28 April 2010 tentang Sejarah sebagai Kajian Budaya oleh Prof. Dr. Djoko Marinadono. Sehingga dapat memberi gambaran sebagai berikut:
Sejarah adalah cabang ilmu sosial yang unik dan spesifik dan dalam penulisannya: sesahih apa pun metodologi yang dimiliki, ia tetap sangat bergantung pada teks, literatur, produksi bahasa yang dihasilkan sebagai bahan penulisan sejarah, baik sumber primer maupun sumber sekunder.
Paradigma Annales menyelidiki tentang bagaimana sistem dari fungsi-fungsi sosial atau bagaimana keseluruhan dari fungsi-fungsi itu berkolaborasi dalam kurun waktu tertentu secara multi dimensi, yaitu : dimensi temporal, spasial, individual, sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Mazhab Annales menekankan pada pendekatan holistic, interdisiplin, structural serta berbagai perkembangan penulisan dengan pendekatan baru. Sehingga muncul tema-tema baru dalam penulisan sejarah seperti sejarah wanita, sejarah mentalitas dan lain sebagainya.
Ini menandakan bahwa para sejarawan Perancis ingin menampilkan nilai kebenaran sejarah melalui ketelitian metode berdasarkan empirisisme dan logika. Oleh sebab itu, fokus mereka tak lagi narasi organisasi kekuasaan, otoritas politik, dan relasi ekonomi sebagai sejarah makro, tetapi kepada serpihan-serpihan peristiwa sejarah sosial sebagai suatu sejarah mikro. Bisa dikatakan les Annales memberi kontribusi kepada perspektif baru ilmu sejarah dan merupakan sumber penggalian ide pemikiran pascamodernis pada dasawarsa 1960-an di Eropa maupun Amerika Serikat.


Daftar Pustaka

Djoko Marihandono. Sejarah Sebagai Kajian Budaya. Diakses tanggal 9 Mei 2010. http://www.scribd.com/doc/25415411/Sejarah-Sebagai-Kajian-Budaya

Togi Simanjuntak. Kritik Historisisme Historiografi Peristiwa 1965. Diakses tanggal 10 Mei 2010. http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/sejarah/sejarah2.htm

Kebudayaan sebagai Sistem Struktural

Ada tiga hal yang menjadi ciri karya de Saussure: struktur tanda (relasi antara significant signifie), hubungan antar tanda (sintagmatik dan asosiatif), dan oposisi biner. Jelaskan. Jadi, apa yang dimaksud dengan “struktur”? Kemudian, bagaimana konsep struktur berkembang di kalangan pascastrukturalis? Jelaskan dengan contoh. (pilih salah satu: Barthes, Derrida, atau Giddens).
Penulis dalam menjawab pertanyaan dari bapak Prof. Dr. Benny H. Hoed mengambil tulisan dari bapak Benny, http://www.scribd.com/doc/25414802/ Kebudayaan-Sebagai-Sistem-Struktural, tentang “Kebudayaan sebagai Sistem Struktural” diakses tanggal 8 Mei 2010.

Tiga hal yang menjadi ciri karya de Saussure:1. Struktur tanda (relasi antara significant signifie) adalah struktur tanda dalam bahasa terdiri dari yang menandai (significant, signifier, penanda) dan ditandai (signifie, signified, petanda). Baik penanda maupun petanda tidaklah dapat dipisahkan satu dari yang lainnya. Baik penanda maupun tanda bersifat mental penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Sebagai contoh penanda “perpustakaan” dan petandanya adalah arti “perpustakaan” yang ada baik dalam pikiran pendengar mapun pembicara.
Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier).Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180).

2. Hubungan antar tanda ada 2 hubungan, diantaranya yaitu:
(1) Hubungan sintagmatik adalah hubungan mata rantai di dalam rangkaian ujaran. Jadi, unsur-unsurnya berada dalam susunan yang berada dalam ruang dan waktu yang sama. Sebagai contoh: saya membaca buku. Penjelasannya: (a) Saya (subyek), (b) membaca (verba) dan (c) buku (objek). Ketiganya memiliki hubungan sintagmatik.
(2) Hubungan asosiatif adalah hubungan in absentia, yaitu unsur-unsurnya tidak berada dalam ruang dan waktu yang sama tetapi merupakan jaringan yang didasari oleh perbedaan. Asosiatif dapat juga dijelaskan sebagai kata-kata yang mempunyai kesamaan berasosiasi dalam pikiran. Sebagai contoh: saya membaca buku di perpustakaan. Kata saya dapat diganti dengan kata lain seperti kamu, dia, ibu, ayah dan kata lainnnya. Contoh lainnya, verba membaca dapat pula diganti dengan verba lainnya sehingga kalimat tersebut menjadi: saya mengembalikan buku di perpustakaan.
3. Hubungan oposisi biner, yaitu hubungan perbedaan antara satu tanda dengan tanda lainnya yang digunakan. Contohnya: “baca” dan “informasi” menunjukkan kalau “b” dan “i” adalah fonem yang berbeda karena kedua fonem tersebut membedakan arti.

Pengertian Struktur
Disebutkan dalam http://www.scribd.com/doc/25414802/ Kebudayaan-Sebagai-Sistem-Struktural, tentang “Kebudayaan sebagai Sistem Struktural” diakses tanggal 8 Mei 2010, tulisan dari bapak Prof. Dr. Benny H. Hoed bahwa struktur adalah bangun (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubugan satu sama lain dalam satu kesatuan. Struktur memiliki 3 sifat, yaitu: 1) merupakan totalitas 2) bersifat traformatif dan 3) bersifat otoregulatif.
Secara umum, suatu struktur adalah suatu sistem transformasi, yang sebagai sistem dikuasai oleh hukum-hukum tertentu dan mempertahankan atau malahan memperkaya dirinya sendiri karena cara dijalankannya transformasi-transformasi tersebut tidak mendobrak.
Sedangkan gagasan kebudayaan sebagai sistem structural bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yag mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindak sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. Oleh karena itu, gerakan Strukturalisme adalah aliran yang melihat berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai bangun teoritis (abstrak) yang terdiri atas unsure-unsur yang berhubungan satu sama lain. Dengan kata lain, gerakan strukturalisme, yang melihat kebudayaan sebagai suatu sistem masyarakat dengan struktur yang teratur dan berpola, bertujuan untuk menjelaskan dan memahami struktur tersebut.

Konsep Struktur Barthes
Dalam menjawab “bagaimana konsep struktur berkembang di kalangan pascastrukturalis”? Penulis mengambil pendapat Roland Barthes sebagai salah seorang tokoh pascastrukturalis dan mengembangkan konsep struktur dengan memodifikasi teori signifikasi Ferdinand De Saussure untuk menjelaskan mitos.
Segala bentuk mitos menurut Barthes, terbentuk sebagai tanda tahap kedua yang dinaturalkan dalam proses sejarah. Bila mitos dalam masa purba dipandang sebagai ujaran yang tidak memiliki nilai kebenaran ultima pada dirinya, Barthes justru berpandangan, bahwa mitos adalah produk dalam dunia sosial yang terus tercipta dan diciptakan. Mitos tidak hanya lahir dalam masyarakat tradisional, namun elemen-elemen masyarakat modern sekalipun, selalu terkungkung dalam proses kerja mitos saat mereka melangsungkan tindakan komunikasi.
Mitos terbentuk dalam sistem tanda, dan tidak dapat diandaikan tak hadir saat makna tanda terbangun dalam sistem sosial. Dunia modern dalam klaim Barthes adalah sebuah dunia yang dipenuhi mitos, dan tak bisa lepas dari mitos-mitos itu. Demokrasi, agama, sepeda gunung, gender, citra pakaian, dan sebagainya, adalah mitos-mitos dunia modern yang harus dipandang sama saat melihat generasi terdahulu membentuk ujaran-ujaran tertentu yang kerap disebut masyarakat modern kini sebagai mitos dan tak ilmiah. Mitos lahir dalam proses sejarah, dan dipelihara oleh sejarah untuk menjadi tanda tahap pertama yang denotatif..
Lebih lanjut Sunardi (2004) menyatakan bahwa teori mitos dikembangkan Barthes untuk melakukan kritik atas ideologi budaya massa (budaya media). Mitos berkembang dalam kontek yang lebih modern. Media massa seperti gambar juga dapat melahirkan gagasan atau sering disebut mitos. Masyarakat modern tidak bisa dilepaskan dari media ini. Segala aktivitas dan bentuk komunikasi sangat berkaitan erat dengan media ini. Terutama sekali adalah media massa yang identik dengan gambar.
Media massa setiap hari akan menampilkan foto atau gambar yang mengandung pesan-pesan tertentu. Ada beberapa alasan mengapa Barthes membahas persoalan gambar; yang pertama adalah ia ingin mengembangkan sebuah pendekatan struktural untuk membaca foto media. Kedua, Barthes ingin melihat fungsi dan kedudukan gambar dalam pembentukan budaya media. Foto juga memiliki fungsi ideologis. Gambar memiliki peran penyampai informasi yang terkadang lebih efektif kepada masyarakat. Itulah kenapa foto atau gambar juga sering dianggap sebagai bagian dari propaganda. Dalam dunia bisnis gambar sering digabungkan dengan kata-kata. Dalam iklan gambar lebih menekankan pada fungsi memperjelas atau memberikan daya tarik.

Daftar Pustaka

Bangsamanusia. Titik Temu Semiotika Signifikasi & Semiotika Komunikasi; Sebuah Pengantar Pada Semiotika. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://benietzsche.wordpress.com/2009/12/05/titik-temu-semiotika-signifikasi-semiotika-komunikasi-sebuah-pengantar-pada-semiotika/

BEM F. HUMBUD. Semiotika. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://humbud.uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=353%3Asemiotika&catid=122%3Asemiotika&Itemid=105&showall=1

Benny H. Hoed. Kebudayaan sebagai Sistem Struktural. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://www.scribd.com/doc/25414802/ Kebudayaan-Sebagai-Sistem-Struktural

Wajiran. Dalam menganalisa Semiotika Negativa Karya St. Sunardi. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://coffee-cat.net/c2o/catalogue/lang/details/29413.html

Penerapan Analisis Semiotic

Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon adalah istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada sains yang mengkaji sistem perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Daripada akar kata inilah terbentuknya istilah semiotik, yaitu kajian sastera yang bersifat saintifik yang meneliti sistem perlambangan yang berhubung dengan tanggapan dalam karya.
Bila melihat dalam sekejab, gambar Garuda di atas berfungsi sebagai pemberi informasi tentang kejadian atau peristiwa yang akan diinformasikan. Dan Garuda digambarkan dibuat semirip mungkin dengan peristiwa yang berlangsung dan memberikan pesan secara langsung. Untuk lebih menganalisa gambar Garuda dan dalam menjawab soal ini, penulis mengambil tulisan dari ibu Okke K.S. Zaimar yang terdapat di http://www.scribd.com/doc/25414918/Kebudayaan-sebagai-tanda diakses tanggal 7 Mei 2010 yang menyataka bahwa Garuda Pancasila adalah mitos karena mengandung sekumpulan pesan. Oleh karena itu, gambar ini akan dianalisis dengan menggunkan teori mitos Roland Barthes yang berdasarkan teori signifikasi Ferdinand De Saussure.
Gambar Garuda merupakan lambang negara Indonesia. Gambar ini akan dianalisis dari segi denotatif dan konotatif. Secara denotatif, simbol-simbol di dalam perisai masing-masing melambangkan sila-sila dalam Pancasila yaitu: Bintang melambangkan sila kesatu. Rantai melambangkan sila kedua. Pohon beringin melambangkan sila ketiga. Kepala banteng melambangkan sila keempat. Terakhir, padi dan kapas melambangkan sila kelima.
Untuk memahami makna denotatif, penulis mengutip dari Spradley (l997:122) menjabarkan makna denotatif meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (makna referensial). Piliang (1998:14) mengartikan makna denotatif adalah hubungan eksplisit antara tanda dengan referensi atau realitas dalam pertandaan tahap denotatif, Misalnya, ada gambar manusia, binatang, pohon, rumah. Warnanya juga dicatat, seperti merah, kuning, biru, putih, dan sebagainya. Pada tahapan ini hanya informasi data yang disampaikan.
Secara konotatif menurut ibu Okke sebagai pembaca mitos bahwa Burung Garuda melambangkan kekuatan karena garuda adalah burung besar kuat yang dapat terbang tinggi dan mengalahkan lawan-lawannya. Di sisi lain garuda menakutkan karena garuda suka memangsa hewan yang lemah dan lebih kecil misalnya ayam, tikus dan lain-lain. Oleh karena itu, menurut pendapat ibu Okke, burung garuda tidak hanya melambangkan kekuatan negara Indonesia tetapi juga melambangkan pemerintahan yang otoriter. Sebagai seorang warga negara Indonesia, merasa terintimidasi dengan gambar garuda yang kuat karena gambar garuda tersebut menyampaikan pesan bahwa semua warga negara (yang dapat disamakan dengan mahluk kecil dan lemah) harus tunduk pada Pancasila jika ingin selamat.
Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006). Penanda bahasa konotatif membantu untuk menyodorkan makna baru yang melampaui makna asalnya atau dari makna denotasinya.
Terakhir ibu Okke menyimpulkan bahwa, semua simbol yang ada di gambar Burung Garuda menunjukkan bahwa garuda adalah mitos yang digunakan pemerintah untuk menunjukkan supremasi kekuasaannya atas semua warga negara Indonesia. Akan tetapi, ibu Okke menyadari bahwa interpretasi mitos bersifat subjektif. Selain itu, seperti yang dipercayai oleh para pascamodernis dan pascastrukturalis khususnya Nietzchean, ibu Okke menyadari bahwa kebenaran mutlak itu tidak ada. Oleh karena itu, mitos garuda ini dapat di interpretasikan secara beragam dan menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda. Contohnya: Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya berbeda, seperti orang Eskimo, misalnya, Garuda Pancasila hanya dipandang sebagai burung elang biasa.

BibliografiAnang Hermawan. Mitos dan bahasa Media: Mengenal Semiotika Roland Barthes. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://www.averroes.or.id/thought/mitos-dan-bahasa-media-mengenal-semiotika-roland-barthes.html
Junaedi. 2008. Teori Semiotik. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://junaedi2008.blogspot.com/2009/01/teori-semiotik.html
Okke K. S. Zaimar. Kebudayaan sebagai sistem tanda. Diakses tanggal 7 Mei 2010. http://www.scribd.com/doc/25414875/Kebudayaan-Sebagai-Sistem-Tanda
Okke K. S. Zaimar. Kebudayaan sebagai Tanda. Diakses tanggal 7 Mei 2010. http://www.scribd.com/doc/25414918/Kebudayaan-sebagai-tanda
Sumbo Tinarbuko. Semiotika Iklan Sosial. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://dgi-indonesia.com/semiotika-iklan-sosial/
Zulkarnain Yani. Pengantar Teori Semiotik. Diakses tanggal 8 Mei 2010. http://zulkarnainyani.wordpress.com/2009/02/09/pengantar-teori-semiotik/

Sabtu, 05 Juni 2010

Laporan Kunjungan Perpustakaan Pelita Harapan

LAPORAN KUNJUNGAN




A. Latar Belakang


Sebagai upaya pencerdasan sumber daya manusia dan memaksimalkan mahasiswa program studi bidang perpustakaan, maka mahasiswa diperlukan melakukan studi banding untuk observasi, survey dan analisis lapangan. Program studi banding ini ditujukan untuk melihat perbandingan antara teori dan praktek dilapangan, bagaimanakah peran perpustakaan sebagai jantung informasi di perguruan tinggi? Apakah perpustakaan berhasil memainkan perannya atau sebaliknya perpustakaan hanya menjadi menara gading di dalam suatu institusi.


Dalam program ini, ada 2 lokasi yang dijadikan sebagi tempat studi banding. Yang pertama adalah Perpustakaan Universitas Pelita Harapan dan kedua adalah Tarumanagara Knowledge Centre. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada alasan bahwa ke-2 Perguruan Tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi swasta terbaik dalam penerapan pengelolaan informasi dan memiliki manajemen dan sistem perpustakaan yang baik dan layak dijadikan proses percontohan (benchmark) dalam sistem layanan perpustakaan.


Laporan kunjungan ini dibagi 2, yang pertama adalah Laporan Kunjungan Perpustakaan Universitas Pelita Harapan “The Johannes Oentoro Library” dan yang kedua adalah Tarumanegara Knowledge Center. Pembagian ini dimaksudkan mempermudah pembagian tugas dalam kelompok.




B. Maksud, Tujuan dan Manfaat
1. Maksud Kegiatan


Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu pelaksanaan Program Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan (R & D) dan pengabdian kepada masyarakat.




2. Tujuan dan Manfaat Kegiatan


a) Penerapan mata kuliah Layanan Sumber Daya Informasi yang diasuh oleh Ibu Utami Budi Rahayu Hariyadi, M.LIB, M.Si


b) Sebagai wahana rekreasi yang bersifat informatif bagi mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia.


c) Mahasiswa diharapkan termotivasi untuk memperbaiki dan membenahi sistem perpustakaan pada institusi mereka bekerja




C. Bentuk Kegiatan


1. Dialog berbentuk tanya jawab berkenaan tentang manajemen perpustakaan dan sistem layanan perpustakaan yang telah diterapkan.


2. Melakukan observasi sekaligus pengambilan gambar disekitar perpustakaan yang dikunjungi.



D.
Waktu dan Lokasi


Selasa tanggal 27 April 2010


1. Lokasi pertama di UPH jam 09.00 – 12.00


Alamat: Menara UPH, Lippo Karawaci, Jl. MH Thamrin Boelevard 00-00, Tangerang 15811, Banten.


Telepon: (021) 5460901-07 (hunting).


Faks.: (021) 5460910


Website: www.uph.ac.id




2. Lokasi kedua di UNTAR jam 13.00 – 16.00


Alamat : Gedung Utama UNTAR Lantai 6-9
Jln. Letjen S. Parman No.1, Grogol, Jakarta Barat 11440
Telp. (021) 56958760;


Fax. (021) 5604001






E. Peserta


Jumlah peserta kunjungan 25 orang, dengan nama-nama sebagai berikut:


Dosen Pembimbing:


1. Utami Budi Rahayu Hariyadi, M.LIB, M.Si


2. Siti Sumarningsih, M.Lib


Mahasiswa :


1. Ana Afida, NPM. 0906587136


2. Dewi Fitriyani, NPM. 0906587155


3. Dyah Safitri, NPM. 0906587142


4. Fadhiatul Hamdani, NPM. 0906587161


5. Hairul August Cahyono, NPM. 0906587400


6. Joko Sugeng Priyanti, NPM. 0906587193


7. Lilik Istiqoriah, NPM. 0906587211


8. Lili Sudria Weni, NPM. 0906587413


9. Lolytasari, NPM.0906587224


10. Misronih, NPM. 0906587243


11. Mufid, NPM. 0906587432


12. Muhammad Farid Wadji, NPM. 0906587230


13. Muhammad Isra Hajri, NPM. 0906587256


14. Muntashir, NPM. 0906587294


15. Nurmalina, NPM. 0906587306


16. Nurul Hayati, NPM. 0906587312


17. Pauzan, NPM. 0906587325


18. Rivalna Rivai, NPM. 0906587344


19. Rohai Inah Indrakasih, NPM. 0906587445


20. Siti Narani, NPM. 0906587350


21. Sokhibul Anshor, NPM. 0906587363


22. Yasser Arafat, NPM. 090658736


23. Yusri fahmi, NPM. 0906587382




F. Anggaran


Dana ditanggung oleh seluruh peserta



G. Persiapan Kunjungan


· Membuat panitia kunjungan beserta job dicription nya


1. Lolytasari, Ketua Rombongan


· Bertanggungjawab atas suksesnya pelaksanaan kunjungan


2. Yasser Arafat, Wakil Ketua Rombongan


· Bertanggungjawab atas terlaksananya kunjungan


3. Dyah Safitri, Bendahara


· Bertanggungjawab dalam pengumpulan dan pengeluaran uang


4. Ana Afida, Lilik Istiqoriah, Rohainah, Seksi Konsumsi


· Bertanggungjawab atas tersedianya konsumsi untuk seluruh peserta kunjungan


5. Yusri Fami dan Mufid, Seksi Transportasi


· Bertanggungjawab atas tersedianya bis kuning sebagai sarana transportasi

6. Hairul Cahyono, Seksi Dokumentasi dan Akomodasi


· Bertanggungjawab atas dokumentasi di lokasi kunjungan


7. Muhammad Farid, Seksi Keamanan


· Bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan peserta


8. Dewi Fitriyani, Dyah Safitri, Seksi Pembelanjaan


· Bertanggungjawab atas pembelanjaan souvenir dan lain-lain




H. Penutup


Kepada semua pihak yang terlibat dalam kunjungan ini kami ucapkan terimakasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat.




Depok, 18 Mei 2010


Ketua Rombongan

Etiskah pencantuman Nama user?


Diantara sekian banyak job petugas perpustakaan adalah mencek pengembalian buku..
apakah buku yang dipinjam oleh user sudah dikembalikan atau belum..
dan banyak cara pustakawan untuk mengantisipasi agar buku yang dipinjam kembali ke perpustakaan..
apakah itu melalui teguran lisan, bila berjumpa dengan orangnya ataukah dengan cara memblokir kartu tersebut agar denda tidak terlalu banyak..
kasian juga kan kalau denda terlalu banyak.. dan banyak cara yang lainnya..

salah satu cara adalah menampilkan nama user di papan pengumuman..

ada salah satu perpustakaan sekolah yang melakukan cara ini..
yakni menampilkan nama user di papan pengumuman..

tujuannya mungkin baik.. untuk menegur user bila melewati perpustakaan..
atau mungkin bila ada yang kenal dengan user maka akan memberitahu kepada user tersebut..
bahwa namanya dalam masalah dengan perpustakaan.. "belum mengembalikan buku"

yang jadi permasalahan adalah patutkah perpustakaan sekolah, yang notabene penggunanya sebagian besar adalah anak2..
mencantumkan nama si anak yang telat mengembalikan buku di papan pengumuman?
dimana nama si anak tersebut dapat dibaca oleh sekian banyaknya anak2 murid disekolah tersebut..

tidakkah pustakawan sekolah tersebut memikirkan dampak dari pencantuman nama tersebut di papan pengumuman?
apakah anak tersebut akan segera mengembalikan buku yang pinjam?
atau sebaliknya malah anak tersebut akan ketakutan ke perpustakaan karena buku yang dipinjam ternyata belum dikembalikan?
atau juga mungkin anak tersebut akan merasa menjadi orang bersalah di hadapan teman2nya karena ada kesalahan dengan perpustakaan?


Kita pustakawan profesional, seharusnya memikirkan hal ini..
jangan terlalu memikirkan buku yang hilang..
buku yang hilang, mudah saja di ganti..
tentu dengan berbagai cara..

tapi jiwa anak yang takut kembali ke perpustakaan..
itu yang menjadi persoalan terbesar bagi pustakawan..

Rabu, 02 Juni 2010

Analasis Layanan Referensi Di Perpustakaan FKM-UI


Analasis Layanan Referensi
Di Perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia


A. Dasar PemikiranMenurut Bopp (1991), ada 3 jenis layanan referensi dasar (pokok) yang pada teorinya digolongkan secara terpisah, tetapi pada prakteknya terkadang dilakukan secara bersama-sama. Ketiga jenis layanan referensi tersebut adalah layanan informasi yang dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna sesuai kebutuhan informasi mereka mulai dari informasi yang sangat sederhana sampai dengan informasi yang sangat kompleks, melayani kebutuhan informasi pengguna dengan cara melakukan kerjasama, silang layan dan lain sebagainya.
Yang kedua adalah pembelajaran (instructional) yaitu memberikan petunjuk dan pengajaran kepada pengguna untuk dapat menemukan letak informasi (locate information) yang dibutuhkan secara mandiri atau membantu pengguna untuk memilih dan menggunakan alat-alat bantu (reference tools) yang ada seperti menggunakan koleksi referensi, menggunakan catalog, menggunakan database online, internet dan lain sebagainya. Jenis layanan yang ketiga adalah bimbingan (guidance)
Dalam memahami teori Bopp tentang layanan referensi yang disebutkan di atas, peneliti yang terdiri dari 5 orang: Ana Afida, Lili Sudria Weni, Lolytasari dan Siti Narani, mengadakan penelitian di Perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia disingkat Perpustakaan FKM-UI yang difokuskan pada unit Layanan Referensi. Bagaimanakah penerapan layanan referensi di Perpustakaan FKM-UI? Apakah layanan referensi yang dilayankan oleh Perpustakaan FKM-UI sudah memenuhi standard dan dirasakan manfaatnya oleh pengguna perpustakaan? Untuk menjawab 2 pertanyaan di atas, peneliti mengaitkan teori dan melaksanakan survey pada hari Selasa jam 10.00 tanggal 4 Mei 2010.

B. Pengertian Layanan Referensi
Donald Davinson, dalam bukunya: Reference Service (1980:11). Layanan Referensi dan informasi adalah aktifitas yang dilakukan oleh para pustakawan dan staf dari perpustakaan-perpustakaan referensi, dengan menggunakan buku-buku dan bahan-bahan pustaka lainnya yang mereka miliki untuk tujuan berbeda dari bahan-bahan yang disediakan untuk bacaan di rumah atau pemakaian di luar perpustakaan.
William A. Katz dalam bukunya Introduction to Reference Work, Vol.II (1997:4). William membedakan antara reference work dengan reference service. Reference Work berarti kegiatan menjawab pertanyaan-pertanyaan referensi dari pengguna secara efisien dan cepat, sedangkan reference service juga mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan di belakang layar seperti akuisisi, supervisi dan administrasi, penyusunan sarana bibliografi/indeks, serta mengajarkan bagaimana menggunakan perpustakaan secara baik dan benar.

C. Sekilas Layanan Referensi Perpustakaan FKM UISistem layanan yang diberikan oleh Perpustakaan FKM UI adalah layanan terbuka (open acces), para pengguna perpustakaan bebas mencari sendiri informasi yang terekam dalam suatu dokumen berupa buku atau non buku (book material atau pun non book material).
Jam Buka Layanan
Senin – Jum’at : 08.00 a.m. – 08.00 p.m.
Sabtu : 09.00 a.m. – 17.00 p.m.
Minggu dan Libur Nasional : Tutup

Lokasi Layanan ReferensiPusat Informasi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, Gedung G lantai 5
Telepon/Fax : 021-7864672, SMS : 021-99836517
email : phic.fphui@yahoo.com
blog : libfkmui.wordpress.com

D. Susunan Organisasi Perpustakaan
• Endang Handayani (Kepala Perpustakaan)
• Fikri Wijaya (Koordinator Proses Teknologi)
• Arief Setiawan (Koordinator Sirkulasi)
• Ratna Dewi Muntiarti (Sekretaris Perpustakaan)
• Suratman (Staf Layanan Pengguna)
• Supoyo (Staf Layanan Pengguna)
• Suroso (Pengolah Entri Data)
• Sukisno (Staf Teknisi Perpustakaan)
• Riduan Nasoha (Staf Layanan Pengguna)

E. Visi Misi FakultasVisi
a. Menjadi pusat pendidikan tinggi dalam ilmu kesehatan masyarakat
b. Menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi
c. Menciptakan atmosfir akademik secara efektif dan efisien, berdasarkan relevansi dan kebutuhan pengguna melalui peningkatan kualitas penelitian dan pendidikan
d. Ikut berperan serta dalam pembangunan kesehatan masyarakat baik ditingkat nasional maupun regional.
Misia. Institusionalisasi FKM-UI sebagai bagian dari pembangunan nasional di bidang kesehatan masyarakat dengan focus pada prevensi dan promosi kesehatan melalui pendidikan, pendidikan, penelitian serta pencapaian professional
b. Memelihara peran aktif dalam pembangunan dan inovasi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan
c. Institusionalisasi FKM-UI sebagai pusat nasional bagi pembangunan iptek kesehatan masyarakat dengan penekanan pada kemampuan memecahkan masalah dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam menghadapi globalisasi

F. Pengguna Perpustakaan FKM-UISemua civitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, baik dosen, karyawan maupun mahasiswa dan juga pengunjung umum.

G. Tata Tertib Perpustakaan FKM-UI1. Mengisi buku tamu sebelum memasuki ruang baca/koleksi
2. Menitipkan tas/map besar/jaket ditempat penitipan1 buah, yaitu di lantai 2
3. Pintu masuk dan keluar pengunjung hanya ada 1 buah, yaitu dilantai 2
4. Mengambil koleksi sendiri, bila memerlukan bantuan mencari koleksi yang tidak ditemukan dapat dibantu staf yang bertugas
5. Dilarang membuat gaduh dan atau berdiskusi diruang perpustakaan
6. Dilarang merokok, makan dan minum di ruang perpustakaan
7. Dilarang meninggalkan kertas/plastic bekas atau barang apapun dimeja
8. Tidak merusak, merobek buku/majalah dan koleksi laiinya milik perpustakaan
9. Tidak mencorat coret koleksi perpustakaan, meja baca atau sarana lain milik perpustakaan
10. Tidak menempelkan pengumuman yang tidak berkaitan dengan perpustakaan diruang atau fasilitas perpustakaan
11. Tidak meninggalkan dompet atau barang berharga lainnya tanpa pengawasan diruang baca. Kehilangan barang milik pribadi bukan tanggungjawab perpustakaan
12. Tidak melakukan pembicaraan melalui telepon selular yang dapat menggannggu pengunjung lain
13. Tidak melakukan diskusi/mengobrol dengan rekan sesame mahasiswa yang sedang bertugas
14. Tidak meminjamkan kartu anggota kepada orang lain
15. Semua koleksi perpustakaan yang akan dibawa keluar, harus dilaporkan ke bagian sirkulasi termasuk koleksi yang sudah melalui proses transaksi

H. Peraturan di Layanan Referensi1. Pengguna dipersilahkan mencari sendiri koleksi UI-ana diruang “annex
2. Setelah mengambil maksimal 4 karya UI-ana, diharap mencatat dimeja sirkulasi lantai 5 dengan memperlihatkan kartu anggota/kartu baca (untuk tamu)
3. Setelah selesai catatkan kembali ke meja sirkulasi dan tinggalkan koleksi di meja sirkulasi
4. Kartu anggota/kartu baca akan dikembalikan setelah koleksi dikembalikan
5. Khusus untuk koleksi karya UI-ana dan keleksi Referens tidak dipinjamkan keluar perpustakaan
6. Koleksi referens dapat dicopy, sedangkan koleksi UI-ana sementara ini tidak diperkenankan untuk dicopy.

I. Tugas Layanan Referensi
Layanan referensi di Perpustakaan FKM-UI, secara teori dan praktek berjalan dengan baik, misalkan diantaranya:
1. Supervisi, yaitu menciptakan tata kerja layanan yang rapi dan memudahkan bagi pengguna, termasuk pengaturan staf, koleksi, tata letak, peralatan serta jenis layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
2. Informasi, yaitu memberikan informasi yang sesuai dengan permintaan pengguna, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna.
3. Bimbingan, yaitu memberikan bimbingan dalam menemukan bahan pustaka yang tepat sesuai keinginan pengguna, misalnya memberikan bimbingan dalam penggunaan katalog atau OPAC, pemakaian buku-buku referensi dan sebagainya.
4. Pengarahan atau instruksi, yaitu memberikan pengarahan dan bantuan pada pengguna mengenai cara menggunakan perpustakaan maupun koleksi referensi.
5. Penilaian atau evaluasi, yaitu menilai koleksi dan layanan referensi agar dapat memberikan layanan yang maksimal kepada pengguna perpustakaan.

J. Jenis Sumber-sumber Referens
Ada beberapa jenis sumber referensi yang dilayankan untuk pengguna di Perpustakaan FKM UI, yakni sebagai berikut:
a. Kamus ada 2 macam: (1) Kamus umum terdiri dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Inggris-Indonesia dan (2) Kamus Khusus seperti Dorland
b. Ensiklopedi
c. Direktori
d. Buku Pegangan (handbook)
e. Buku panduan
f. Journals : printed
g. Newspapers
h. CD & CD ROM
i. UI-ana : terbitan Universitas Indonesia (tesis, disertasi, laporan penelitian prosiding, laporan magang, dll).
j. E-books and E-articles
k. Video cassettes

K. Promosi Layanan ReferensiPerpustakaan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam mempromosikan layanan referensinya melalui :
a. Layanan virtual
Layanan ini bisa di akses http://www.libfkmui.wordpress.com.
Perpustakaan FKM UI telah menerapkan teknologi informasi dalam layanan referensi, dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari blog yang disediakan. Seperti kamus elektronik, direktori elektronik, journal elektronik, hasil penelitian dalam bentuk digital, dan lain sebagainya.
b. Layanan rujukan email dan telepon
Layanan ini sebagai sebuah media penyampaian informasi yang paling cepat bagi perpustakaan. Layanan baru sebatas untuk dosen FKM UI.

L. Analisa Layanan Perpustakaan FKM-UI1. Melihat visi dan misi FKM-UI, sebaiknya perpustakaan menyediakan pustakawan referensi professional dalam menjawab promosi kesehatan yang akan dilaksanakan oleh FKM-UI
2. Secara keseluruhan pelayanan referensi yang diterapkan di Perpustakaan FKM-UI sudah berjalan dengan baik, tetapi petugas tidak memahami arti dari layanan referensi yang sesungguhnya. Ini dapat dimengerti dengan beberapa alasan : (1) petugas layanan referensi bukan berlatar belakang ilmu perpustakaan, (2) sering terjadinya rolling petugas di Perpustakaan FKM-UI sehingga siapapun dapat menjadi petugas layanan referensi, sehingga Perpustakaan FKM-UI tidak memiliki petugas khusus layanan referensi.
3. Secara teori, Perpustakaan FKM-UI sebenarnya menerapkan teori Reference Service, William A. Katz. Dimana William membedakan antara reference work dengan reference service. Reference Work. Reference Work dilaksanakan oleh bapak Suratman dan Riduan Nasoha sebagai petugas Layanan Referensi yang melayani dan menjawab pertanyaan pengguna. Sedangkan Reference Service dilaksanakan oleh ibu Ratna Dewi Muntiarti, Sekretaris Perpustakaan, alumni D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, yang bekerja dibelakang layar seperti mengerjakan web dan administrasi perpustakaan dan lain sebagainya untuk memudahkan pengguna berkomunikasi dengan perpustakaan. Tetapi petugas perpustakaan tidak memahami itu sebagai layanan referensi. Petugas hanya memahami bagaimana melayani pengguna perpustakaan secara prima.
4. Belum adanya koleksi tandon di Perpustakaan FKM-UI, sehingga terkadang koleksi referensi boleh dipinjam dan dibawa pulang bila koleksi referensi tersebut lebih dari 2 eksemplar.
5. Petugas yang berlatar belakang Ilmu Perpustakaan di Perpustakaan FKM-UI hanya 2 orang dan Perpustakaan FKM-UI belum memiliki pustakawan dalam arti fungsional PNS.
6. Mengenai isu sentralisasi, petugas menginginkan Perpustakaan FKM-UI tetap ada, dan hal ini juga didorong oleh kemauan dari mahasiswa FKM UI.


Daftar Pustaka

Bopp, Richard E. and Smith, Linda C (Eds.) 1991. Reference and Information Services. Englewood, Colorado: Libraries Unlimited.

Gambar atau Foto diambil saat survey dan observasi pada tanggal 4 Mei 2010 di Perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Kartz, William A. Introduction to reference work. Vol. I. 1997. McGraw Hill, New York.

Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat FKM UI. Diakses tanggal 4 Mei 2010. http://www.libfkmui.wordpress.com

Senin, 31 Mei 2010

Manajemen Tata Persuratan

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Organisasi dan tata laksana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor : 414 Tahun 2002 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Keputusan Menteri Agama RI tersebut merupakan pelaksanaan lebih lanjut atas Keputusan Presiden Nomor 031 Tahun 2002 tentang Perubahan Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor: 414 Tahun 2002 telah ditetapkan Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah perguruan tinggi di lingkungan Departemen Agama yang dipimpin oleh Rektor yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Menteri Agama. UIN Sunan Kalijaga secara fungsional dibina oleh Menteri Agama c.q. Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam, dan pembinaan bidang ilmu umum secara teknis akademis dilaksanakan oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Tugas yang diemban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau professional dalam bidang ilmu agama Islam yang terpadu dengan ilmu pengetahuan umum, dan sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi dan /atau seni yang terpadu dengan nilai-nilai keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan. Dalam melaksanakan tugas, UIN menyelenggarakan fungsi: (1) Perumusan visi, misi dan kebijakan teknis; (2) Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang ilmu pengetahuan agama Islam, ilmu pengetahuan umum, teknologi dan seni; (3) Pembinaan sivitas akademika dan kerjasama dengan perguruan tinggi dan atau lembaga-lembaga lain; (4) Penyelenggaraan administrasi dan manajemen UIN.
Dengan adanya kegiatan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai suatu organisasi akan menghasilkan arsip sebagai produk kegiatan. Arsip (records) sebagai salah satu sumber informasi terekam (recorded information) memiliki multi fungsi yang sangat penting untuk menunjang proses kegiatan administrasi negara dan manajemen, arsip akan terus tumbuh dan berkembang secara akumulatif, sesuai dengan semakin kompleksnya fungsi dan tugas organisasi. Salah satu komponen penting arsip didalam pengertian penelitian ini dibatasi pada tata persuratan dan pengurusan surat. Surat dapat diartikan sumber informasi yang penting sehingga dapat dijadikan bukti otentik.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampaknya masih belum mampu mengantisipasi banjir kertas atau flood of paper. Indikasi tersebut dapat dilihat pada berbagai ruangan kantor yang penuh dengan tumpukan arsip, arsip sulit ditemukan kembali apabila diperlukan segera, tersitanya ruang kerja dan ruang perlengkapan karena dipergunakan untuk menyimpan arsip. Pada kenyataannya tidak semua arsip yang disimpan tersebut masih bernilai guna primer (administrative, legal, fiscal value) maupun sekunder (informational dan evidential value).
Persoalan ini seharusnya tidak terjadi apabila instansi mampu mengelola arsip dinamis (aktif dan inaktif) secara benar menurut kaidah manajemen kearsipan. Manajemen kearsipan (records management) pada tahap proses didefinisikan sebagai suatu kegiatan pengelolaan seluruh daur hidup arsip (life cycle of records) dari proses penciptaan (creation), penggunaan (use), pemeliharaan (maintenance) sampai dengan arsip tersebut disusutkan (disposition) (Rick, 1993)
Melihat fenomena di atas dibutuhkan terciptanya pedoman tata persuratan yang mampu mendukung tugas-tugas pimpinan. Dalam tata kearsipan terdapat tahapan hidup Arsip yaitu tahap penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan serta tahap penyusutan. Tahap penciptaan meliputi beberapa sub yaitu desain formulir, manajemen formulir, tata persuratan, manajemen formulir tata persuratan, manajemen pelaporan, system informasi manajemen dan lain sebagainya.
Tahap penggunaan dan pemeliharaan meliputi filing system, penemuan kembali, pengurusan surat, program Arsip vital dan pengelolaan pusat Arsip; sedangkan tahap penyusutan meluiputi, identifikasi dan deskripsi Arsip, Jadwal Retensi Arsip, Penilaian Arsip, Pemindahan Arsip, Pemusnahan Arsip dan penyerahan Arsip.
Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan pengelolaan kearsipan di Universitas Indonesia yang telah memiliki University Archive sebagai model pengelola arsip perguruan tinggi.

B. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah:
Bagaimana pengelolaan Manajemen Sistem Tata Persuratan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah peneliti kemukakan di atas, maka diantara tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisa pola keseragaman dalam penyelenggaraan kegiatan surat menyurat di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Menganalisa pengelolaan Manajemen Tata Persuratan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

D. Manfaat Penelitian
1. Dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan Manajemen Arsip Dinamis khususnya Manajemen Tata Persuratan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Memperkaya khasanah pengetahuan untuk pengembangan ilmu khususnya bidang Record Manajemen.


BAB II
Tinjauan Literatur


Penelitian ilmiah adalah suatu bentuk penelitian dengan cara berpikir dan bertindak secara sistematis. Oleh karena itu kajiannya perlu didukung oleh suatu landasan teori atau dasar rujukan dalam menganalisis permasalahan serta memberikan kejelasan arah dalam melakukan penelitian dan untuk mempermudah langkah-langkah penelitian selanjutnya, maka akan diuraikan tentang kerangka teori yang berkaitan dengan aspek-aspek dalam penulisan ini.

1. Tata Persuratan

a. Pengertian Surat

Surat merupakan sarana komunikasi dalam bentuk tulisan, apapun medianya. Tata persuratan merupakan tahap penciptaan dalam daur hidup Arsip. Kegiatan tata persuratan menyangkut materi yang lingkupnya esensial dalam komunikasi kedinasan yang meliputi penentuan jenis surat, sifat, format surat yang menampung bentuk redaksional serta penggunaan sarana pengamanan surat, serta kewenangan penandatanganan.

b. Jenis Surat
Menurut Finoza (1995: 105), menyebutkan bahwa jenis surat juga bisa dikelompokkan dalam surat biasa dan surat statuta. Pengertian surat statuta adalah sekelompok surat yang dibuat berdasarkan statuta atau undang-undang dan semua peraturan serta ketentuan lain yang dapat menjadi pedoman, dasar hukum, atau landasan pijak bagi pembuatan surat tertentu. Surat-surat yang dihasilkan memiliki kekuatan hukum, sehingga surat tersebut diakui dan dilindungi.

c. Kendala dan Solusi dalam Tata Persuratan

Melakukan tata persuratan sehingga menghasilkan surat yang baik sebenarnya tidak sulit. Asalkan sumber hambatan tersebut dapat diketahui, penyusun surat bisa mengatasinya. Pada dasarnya, kesulitan yang dihadapi dalam pembuatan surat berasal dari 2 sumber, ialah :
(1) Dari dalam individu
(2) Dari luar individu, yaitu kelompok dalam unit atau sistem
Kendala yang bersumber dari individu bisa diatasi dengan memberikan pelatihan kepada individu tersebut. Sejauh ia bersedia belajar memperbaiki kesalahannya, penyusunan surat akan menjadi mudah. Selain itu, melalui kebiasaan yang terus-menerus dilakukan akan membantu proses belajar itu sendiri.
Yang sulit diatasi adalah kendala yang berasal dari dalam organisasi. Bagian/unit yang terdiri dari sekelompok individu yang masing-masing memiliki perilaku yang berbeda-beda, yang dipengaruhi banyak faktor, seperti latar belakang budaya, keluarga, pendidikan, pengalaman. Hubungan yang kurang baik di antara pekerja dan perilaku egois dalam suatu sistem, akan mengganggu kelancaran kegiatan tata persuratan. Kekacauan yang ditimbulkan adalah :

(1) Tidak ada keseragaman dalam format surat

Ketidakseragaman dalam format surat akan menghambat jalannya pekerjaan kantor. Pekerja menjadi tidak percaya diri karena tidak bisa memutuskan format yang mana yang harus dipergunakan. Sebuah perguruan tinggi memiliki sistem yang kompleks. Organisasi tersebut mencakup banyak bagian, yaitu terdiri dari fakultas-fakultas, biro, dan jurusan-jurusan di fakultas. Sementara itu, otonomi yang diberikan kepada masing-masing fakultas, membentuk kondisi yang mandiri dalam setiap pekerjaan kantor. Tidak terkecuali kemandirian dalam tata persuratan. Dengan demikian, dapat dibayangkan bahwa setiap jurusan, unit terkecil di fakultas, memiliki format yang berbeda-beda, di bawah kop surat yang seragam.

(2) Tingginya frekuensi perubahan tata persuratan

Tidak hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di banyak institusi, apabila terjadi pergantian dekan baru, maka terjadi pula perubahan regulasi di segala bidang, termasuk tata persuratan. Perubahan bisa terjadi pada pemakaian kosa kata dan kalimat, peraturan tanda baca, peraturan legalitas seperti pembubuhan tandatangan dan cap. Akibat peraturan yang berubah-ubah dalam penyusunan surat, pendistribusian surat menjadi kurang lancar. Suatu kegiatan menjadi tertunda hanya karena sebuah surat.
Berdasarkan permasalahan di atas, solusi yang bisa dilakukan oleh penyusun surat adalah :
(1) menguasai permasalahan
(2) menguasai bahasa tertulis
(3) memiliki pengetahuan tentang surat-menyurat
Selain itu, masalah ketidakseragaman bisa diatasi dengan membuat kebijakan korespondensi yang tersentralisasi. Hanya satu orang atau unit yang berhak mengeluarkan peraturan-peraturan dalam tata persuratan. Karena berkaitan dengan masalah kearsipan, maka sebaiknya orang atau unit yang dimaksud tersebut diambil dari unit Arsip. Unit tersebut berkewajiban merancang kebijakan tata persuratan yang berlaku untuk seluruh unit, mengkoordinasi dan mengevaluasinya secara periodik. Disarankan pula untuk membuat buku manual atau panduan dalam menulis surat, mulai dari format, isi surat, hingga penandatangan surat. (Laksmi: 2005)

d. Daur Hidup Arsip Dinamis

Konsep daur hidup arsip dinamis dalam tataran dasar pada bidang manajemen arsis dinamis (records management), meliputi proses penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta pemusnahan. Kalau ditambah dengan manajemen arsip statis, akan menjadi identifikasi dan penilaian, akuisisi, deskripsi, serta penggunaan dan akses

2. Pengurusan Surat

Pengurusan surat merupakan salah satu elemen dan fungsi arti program manajemen kearsipan. Pengelolaan surat yang dilaksanakan secara efisien merupakan hal yang penting di dalam mendistribusikan informasi dari satu unit kerja ke unit kerja lain di dalam organisasi dan distribusi informasi antar organisasi. Dengan melaksanakan pengelolaan surat secara efektif akan mempercepat proses pelaksanaan kerja. Proses pengelolaan surat meliputi: (1) penerimaan, (2) pengarahan atau penilaian, (3) pencatatan, (4) pendistribusian, (5) pengendalian, (6) pengolahan dan (7) pengiriman surat dinas. Surat yang telah selesai diolah atau selesai tindak lanjutnya disimpan (storage) pada tempat penyimpanan dengan suatu sistem tertentu.

3. Sistem Penyimpanan dan Pemberkasan

Surat yang telah mendapat disposisi dapat dikatakan telah menjadi arsip. Arsip dapat disimpan dengan penataan terhadap arsip yang sudah ditata. Kegiatan penataan berkas ini merupakan kegiatan yang bersifat mengatur, menyusun dan menata semua jenis arsip dalam bentuk tatanan yang sistematis agar dapat diketemukan kembali dengan cepat, tepat, akurat dan lengkap.
Didalarn menyimpan arsip yang harus diperhatikan masalah asas pengorganisasian arsip. Arsip dinamis (aktif) dapat disimpan dan dikelola secara sentralisasi pada satu unit khusus di dalam organisasi yang biasa dikenal sebagi central file. Sistem penyimpanan arsip secara sentral ini makin efisien dan efektif bila diterapkan pada organisasi yang relatif kecil, rentang tugasnya pendek, tidak terlalu komplek, beban kerja tidak terlalu besar dan tempat lokasi yang tidak terpencar - pencar.
Dengan menerapkan asas sentralisasi maka sistem penyimpanan yang digunakan akan menjadi standar. Seluruh arsip akan dapat disimpan dan diketemukan kembali dengan aturan dan prosedur yang sarna. Untuk organisasi yang relatif besar, asas penyimpinan yang tepat untuk diterapkan adalah desentralisasi. Dalam asas ini semua unit pengolah diberikan otoritas untuk menyimpan dan mengelola arsip aktifnya masing-masing. Asas ini dapat diterapkan apabila organisasi mempunyai rentang tugas yang panjang, beban kerja yang besar dan lokasinya berpencar dan berjauhan.
Disamping dua asas ini, organisasi juga dapat menerapkan asas gabungan yang merupakan kombinasi asas sentralisasi clan desentarlisasi. Prinsip asas ini adalah bahwa setiap unit pengolah diberikan otoritas untuk melakukan penyimpanan dan pengelolaan arsip dengan kontrol atau pengendalian sistem secara terpusat oleh satu unit khusus di dalam organisasi. Untuk melakukan penyimpanan arsip - arsip aktif ini ada beberapa Classification system yang dapat diterapkan (Lundgren and Lundgren, 1989: 83). Beberapa pakar kearsipan menyebut terminology sistem klasifikasi sebagai filing system (sistem pemberkasan) dan filing methods (metode pemberkasan) (Lih : Robek, 1987 : 157 dan Penn, 1989 : 122).
Pemilihan sistem pemberkasan yang akan digunakan sangat bergantung pada kegunaan masing-masing arsip bagi pengguna dan jenis arsip itu sendiri. Sehingga dapat terjadi beberapa arsip yang berbeda diberkaskan dengan sistem yang berbeda pula. Di dalam menentukan sistem pemberkasan yang akan diterapkan perlu dipertimbangkan beberapa hal diantaranya adalah bentuk arsip, sifat serta bidang - bidang kegiatan organisasi dan karakteristik organisasi bersangkutan.
Perlu juga diperhatikan bahwa sistem pemberkasan yang akan diterapkan harus menggambarkan secara jelas bentuk berkas arsipnya, sehingga di dalam penemuan kembalinya dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Beberapa sistem pemberkasan diantaranya adalah Numeric, Alphabetcal dan Alphanumeric (Penn, 1989 : 123-124) atau menurut Lundgren dan Lundgren membedakan atas Alphabetic Classification, Numeric Classification dan Subject Clasification (1989 :83-87).

4. Penemuan Kembali

Suatu arsip dapat menjadi sumber informasi apabila arsip tersebut dapat ditemukan kembali fisik dan isi informasinya. Hal ini sesuai dengan konsep dan pengertian yang dikemukakan oleh Lundgren dan Lundgren bahwa unsur arsip agar dapat dikatakan sebagai arsip adalah sifatnya yang dapat diketemukan kembali.
Faktor dalam temu kembali informasi adalah sistem pemberkasan yang diterapkan, sarananya seperti indeks dan tunjuk silang (cross reference) dan juga unsur kecepatan dan ketepatan yang menjadi dasar sistem prosesnya.

5. Penyusutan

Arsip yang telah semakin menurun frekwensi penggunaannya oleh organisasi atau menurut istilah Betty R. Ricks digunakan kurang dari 10 kali dalam satu tahun dikatakan sebagai arsip inaktif. Sarna seperti arsip dinarnis aktif, arsip dinarnis in aktif ini juga harus dikelola di dalam suatu sistem (manajemen). Arsip aktif dapat dimusnahkan di unit pengolah atau central file. Ini berarti bahwa tidak seluruh arsip aktif harus disimpan menjadi arsip inaktif. Pengelolaan arsip inaktif meliputi: Pengelolaan Pusat Arsip (Record Center), Sistem Penyimpanan (Storage Sistem), Sistem Pemeliharaan (Maintenance Sistem) dan Penyusutan Arsip (Records Center)

6. Pusat Arsip (Record Center)

Arsip inaktif, tersimpan di Record Center atau Pusat Arsip. Di Pusat Arsip pengelolaan arsip inaktif dilakukan seperti pengolahan, penyimpanan, penyusutan, pemeliharan dan jasa layanan referensi (reference services). Untuk menjadikan Gedung Pusat Arsip perlu dilakukan perencanaan matang, dengan mempertimbangkan aspek ekonomis, efisiensi dan keamanan (security).
Agar Pusat Arsip ini dapat berfungsi secara maksimal dan dapat melindungi arsip, maka dibutuhkan suatu standar gedung penyimpanan arsip (Record Center Building Standardization). Standarisasi gedung penyimpanan arsip minimal menyangkut lokasi, konstruksi, perlengkapan dan areal gedung. Di dalam gedung Pusat Arsip sebaiknya terdapat ruang penampungan, ruang fumigasi, ruang pengolahan, ruang penyimpanan, ruang pemusnahan, ruang perawatan dan ruang peminjaman arsip.


7. Sistem Penyimpanan

Sistem penyimpanan arsip inaktif pada prinsipnya cara penataannya sarna dengan masa aktifnya. Oleh karena arsip inaktif disimpan relative lebih lama dibandingkan pada masa aktifnya, maka dibutuhkan pera1atan penyimpanan dan ruang dengan suhu yang berbeda. Penemuan kembali arsip dapat dilakukan melalui kartu indeks. lndeks urnumnya memuat keterangan mengenai berkas arsip yang disimpan seperti kode klasifikasi, indeks berkas, tanggal pemindahan, unit kerja, dan nomor boks penyimpanan.

8. Sistem Pemeliharaan

Upaya untuk memelihara arsip terutama ditujukan untuk melindungi, mengatasi dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan fisik terutama informasi arsip, disamping menjamin kelangsungan hidup arsip dari kemusnahan. Pemeliharaan arsip inaktif harus memperhatikan dua factor, yang pertama adalah memelihara, menjaga dan mengamankan terhadap perusak kertas secara langsung. Kedua, faktor ekstern dari lingkungan dimana arsip tersimpan, yang dapat merusak arsip secara tidak langsung.

9. Jadwal Retensi Arsip

Arsip inaktif tidak akan selamanya disimpan di Pusat Arsip (Record Center), tetapi sesuai dengan Jadwal Retensi Arsip (JRA), arsip inaktif yang tidak bernilai guna tinggi, akan dimusnahkan. Sementara arsip yang bernilai guna tinggi, memiliki nilai guna primer dan sekunder, akan diserahkan ke Arsip Universitas sebagai arsip statis.
Pemusnahan dan penyerahan arsip harus melalui prosedur dan ketentuan peraturan perundang - undangan yang berlaku. Kegiatan - kegiatan yang dilakukan dalam proses penyusutan arsip meliputi : penilaian terhadap arsip yang sudah melampaui jangka simpannya, penyisihan dan seleksi arsip - arsip mana yang dapat dimusnahkan dan yang akan disimpan, pendaftaran arsip dalam daftar pertelaan, pemusnahan dan penyerahan arsip.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian


Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggambarkan pola Majemen Tata Persuratan yang telah diterapkan di Universitas Indonesia dan Pengelolaan Manajemen Tata Persuratan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana penelitian tidak menggunakan data-data berupa angka melainkan berupa narasi.

B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian studi kasus. Studi kasus merupakan metode yang sesuai bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan ‘mengapa’ atau ‘bagaimana’, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiswa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bila focus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. (Yin, 2006, hal.1). Oleh karena itu, metode studi kasus digunakan karena peneliti ingin mengetahui bagaimana pola Manajemen Tata Persuratan Universitas Indonesia yang akan dijadikan banchmark di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

C. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian dalam penelitian ini adalah Pengelolaan Manajemen Tata Persuratan yang telah diterapkan di Universitas Indonesia dan Pengelolaan Manajemen Tata Persuratan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

D. Sumber Data
Yin (2006) menyatakan bahwa metode penelitian studi kasus dapat didasarkan atas 6 sumber bukti (data) yang berlainan, yaitu : dokumen, rekaman arsip, wawancara, pengamatan langusng, observasi partisipan dan perangkat-perangkat fisik. Masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Dokumentasi

Dokumentasi adalah informasi documenter yang relevan untuk topic studi kasus, meliputi :
a. Surat, memorandum dan pengumpulan resmi;
b. Agenda, kesimpulan-kesimpulan pertemuan dan laporan-laporan peristiwa tertulis lainnya;
c. Dokumen-dokumen administrative, proposal, laporan kemajuan dan dokumen-dokuemn internal lainnya;
d. Penelitian-penelitian atau evaluasi-evaluasi resmi pada tempat yang sama;
e. Kliping-kliping baru dan artikel-artikel lain yang muncul di media massa.
Dokumen-dokumen tersebut bermanfaat untuk mendukung dan menambah bukti dari sumber-sumber lain.

2. Rekaman arsip

Rekaman arsip seringkali berbentuk komputerisasi, meliputi:
a. Rekaman layanan, seperti jumlah klien yang dilayani dalam suatu periode waktu tertentu;
b. Rekaman keorganisasian, seperti bagan dan anggaran organisasi pada periode waktu tertentu;
c. Peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat;
d. Daftar nama dan komoditi lain yang relevan;
e. Data survey, seperti rekaman atau sensus yang terkumpul sebelumnya di sekitar tempat penelitian dan
f. Rekaman-rekaman pribadi, seperti buku harian, kalender dan daftar nomor telepon;
Rekaman-rekaman arsip ini dapat digunakan bersama-sama dengan sumber-sumber informasi yang lain.

E. Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara
Wawancara merupakan sumber bukti yang essensial bagi studi kasus, karena studi kasus umumnya berkenaan dengan informasi yang dapat memuat keterangan-keterangan penting dan baik. Wawancara ini berbentuk terstruktur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya (Sulistyo-Basuki, 2006: 171). Para informan juga dapat memberikan bukti fisik arsip elektronik dengan demikian peneliti dapat mengidentifikasi sumber bukti relevan lainnya.
2. Observasi langsung
Dalam observasi langsung peneliti dapat mengukur peristiswa atau prilaku terentu dalam periode waktu tertentu di lapangan. Saat observasi peneliti juga dapat mengambil foto-foto pada lapangan studi kasus. Foto-foto tersebut akan membantu memuat karakteristik-karakteristik arsip elektronik.
3. Observasi partisipan
Observasi partisipan adalah suatu bentuk observasi khusu dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiswa yang akan diteliti.
4. Perangkat fisik
Perangkat fisik yaitu peralatan teknologi alat atau instrument pekerjaan seni atau beberapa bukti fisik lainnya.

F. Analisis

Penelitian ini bertujuan untuk mencari model arsip elektronik yang akan diterapkan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Oleh karena itu, analisis pada penelitian ini adalah Pengambilan model kearsipan elektronik memilih sistem kearsipan di Gajah Mada University Archives (Arsip Universitas Gajah Mada) yang telah menerapkan dan mengeluarkan panduan manajemen sistem kearsipan elektronik. Stake holder UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Depkoinfo yang akan menjadi informan dalam penelitian ini. Dan petugas kearsipan di Unit Arsip UGM. Informan adalah anggota dari kelompok yang diteliti yang akan mengantarkan peneliti ke pusat permasalahan yang ingin diketahui atau diselidiki. (Salim, 2006, hal. 131). Cara pemilihan informan biasa disebut dengan teknik pengambilan sampel atau teknik sampling. Moeleong (2007) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif teknik pengambilan sampelnya purposive sampling di mana dalam penentuan sampelnya (informan) didasarkan atas tujuan-tujuan atau criteria tertentu. Sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang memenuhi criteria sebagai berikut: (Sugiono, 2005: Ahmadi, 2005)
1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi. Mereka memahami kultur setempat dan menyaksikan kejadian-kejadian penting di sana, sehingga sesuatu itu bukan sekedar mengetahui tetapi juga dihayati
2. Mereka tergolong masih terlibat pada kegiatan yang sedang diteliti.
3. Mereka mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi
4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya” sendiri
5. Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan informan
Berdasarkan criteria pemilihan informan di atas, peneliti juga menetapkan criteria-kriteria pemilihan informan untuk penelitian ini, antara lain :
1. Informan terlibat langsung dalam melaksanakan kegiatan arsip elektronik
2. Informan yang dipilih sedikitnya telah bertugas dikearsipan elektronik minimal 1 tahun di UGM. Hal ini disebabkan minimal telah melayani pengguna arsip elektronik selama 1 tahun
3. Informan bersedia meluangkan waktu untuk memberikan informasi demi kelancaran proses penelitian
4. Informan bersedia memberikan informasi sesuai dengan keadaan sebenarnya tanpa mengubah informasi tersebut.
5. Informan dan peneliti belum saling mengenal dan tidak memiliki hubungan kekerabatan
Kriteria informan tersebut digunakan oleh peneliti untuk memilih atau menyeleksi layak atau tidaknya dijadikan informan dalam penelitian ini. Sehingga data atau informasi yang diperoleh oleh peneliti terkumpul dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuan penelitian.

BIBLIOGRAFI

a) Buku


Finoza, Lamuddin. 1995. Aneka surat statuta, laporan, dan notula. Seri Korespondensi Indonesia 2. Jakarta: Mawar Gempita.

Judith Ellis (ed), Keeping Archives. Port Melbourne: D.W. Thorpe, 1993

Kennedy, Jay & Cherryl Schauder. 1998. Records Management: A Guide to Corporate Record Keeping. South Melbourne: Longman.

Ricks, Betty R. (et al). 1992. Information and Image Management: A Records System Approach. Ohio: South Western Publishing.

Sugiono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta

Sulistyo-Basuki. 2003. Manajemen Pengelolaan Arsip Dinamis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sulistyo-Basuki. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Universitas Indonesia. 2009. Pedoman Teknis Penulisan Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Indonesia . Depok : Universitas Indonesia


b) Jurnal/Hasil Penelitian
Etty Setyawati. 2009. Manajemen Korespodensi di Perguruan Tinggi Studi Kasus di Universitas Indonesia. Tesis, Program Pasca Sarjana Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Laksmi. 2005. Tata Persuratan di Perguruan Tinggi. Depok: Universitas Indonesia


c) Peraturan Perundang-Undangan/ Panduan

ANRI. Keputusan kepala arsip nasional republik Indonesia Nomor 04 tahun 2000 Tentang Pedoman penggunaan kertas untuk arsip bernilaiguna tinggi Kepala arsip nasional republik Indonesia

Departemen Agama. 2002. Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 414 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Departemen Agama. 2007. Petunjuk Pelaksanaan Kearsipan Departemen Agama RI

Departemen Agama. 2003. Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 477 Tahun 2003 tentang Statuta Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Lembaga Administrasi Negara. 2007. Modul 3 Tata Kearsipan Diklat Teknis Administrasi Umum (General Administration)

Menteri Agama Republik Indonesia. Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2006 Tentang Tata Persuratan Dinas di Lingkungan Departemen Agama

Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 1979 Tentang Penyusutan Arsip.

Undang-Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik

Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan


d) Internet

Burhanudin dr. Peranan dan fungsi tata persuratan Dan kearsipan dalam mendukung Tugas-tugas pimpinan. Diakses tanggal 10 Mei 2010. Http://www.arsipjogjaprov.info/archieve/artikel/bur.fungsikearsipan.pdf

Departemen Agama. Pola Klasifikasi Departemen Agama. Diakses tanggal 23 Mei 2010. http://www.scribd.com/doc/20356185/Klasifikasi-Kode-Surat

Effendhie, Machmoed. Records Management (Manajemen Arsip Dinamis). 2005. Diakses tanggal 5 April 2010. http://kearsipan.fib.ugm.ac.id/rm.htm

Febri, Agung. Peran Teknologi Informasi (TI) Dalam Pemberdayaan Kegiatan Kearsipan. 2007. Diakses tanggal 5 April 2010. http://agungfebri.blogspot.com/2007/10/peran-teknologi-informasi-ti-dalam.html

Liv Mykland. 1992. Protection and identity: The Archivist’s Identity and Professionalism (Montreal:ICA, XIIth.), hal.2. (dalam http://kearsipan.fib.ugm.ac.id/maknaarsip.htm. Diakses tanggal 17 Mei 2010)

Rusidi. Prosedur dan Teknik Penyusutan Arsip. Diakses tanggal 5 April 2010. http://www.arsipjogjaprov.info/archieve/artikel/rus.teknikpenyusutanarsip.pdf

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kerasipan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2007. Pedoman Akademik 2007-2008. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2008. Sejarah Singkat Universitas. Diakses tanggal 22 Mei 2010. http://www.uinjkt.ac.id/index.php/tentang-uin.html