Minggu, 06 Desember 2009

A Digital Demokrasi: Manfaat Elektronik bagi Masyarakat Amerika

Makalah ini ditulis dalam rangka menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan bapak Fuad Gani, SS., MA., dalam mata kuliah Masyarakat Informasi.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Magister Management Ilmu Perpustakaan UI.

Kelompok 6 : Ana Afida, Pauzan, Lolytasari, Siti Narani


A DIGITAL DEMOKRASI
Amerika Berubah Menjadi Republik Elektronik,
Sistem Demokrasi Yang Sangat Jauh Meningkatkan
Rakyat Sehari-Hari Berpengaruh Terhadap
Keputusan Negara.

-LAWRENCE K. Grossman-

Warga negara Amerika sekali lagi menghadapi keputusan yang mendasar tentang bagaimana melaksanakan tanggung jawab mereka dalam pemilihan umum. Cara pemungutan suara melalui internet yang telah menjadi bahan perdebatan terhangat dan berkepanjangan. Seperti contohnya pada peristiwa pemilihan umum di AS pada tahun 2000 yang telah menjadi pusat perhatian jutaan warga Amerika. Teknologi inovasi dalam keamanan, identifikasi pengguna, kenyamanan dan sebagainya yang menjadi perdebatan yang berlarut-larut. Topik ini pernah dibahas dalam surat kabar dan majalah nasional pada Juli 2001. Pertumbuhan terhadap akses dan kebutuhan akan berbagai jenis informasi secara luas yang lebih dari separo abad terhadap kondisi publik Amerika yang lebih dari sekedar diskusi yang intensif dari hubungan akan teknologi dan informasi di satu sisi dan pengaruh ganda dari praktek politik. Akhirnya pejabat publik ditingkat daerah, negara bagian dan tingkat nasional harus membuka jalan bagi resolusi perdebatan yang ada karena praktek demokrasi sudah berubah.

Lawrence K. Grossman (penulis) mantan President Public Broad Casting Service and of NBC News, bukan seorang pejabat publik tetapi kata-katanya yang sangat mendalam dalam memasok informasi elektronik untuk publik Amerika. Ia melambangkan peserta besar lainnya dalam formulasi untuk setiap perubahan yang terjadi di lembaga demokratis Amerika, seperti pers yang memasok informasi.

Kemampuan Amerika untuk memiliki akses kesegala macam informasi dan memiliki hak dan kesempatan untuk menggunakannya untuk keuntungan pribadi dan kesenangan merupakan akibat langsung dari pemerintahan di sana yang memungkinkan untuk menjadi info-junkies atau pemerintah dapat membatasi dan mempengaruhi aliran informasi dan konsekuensinya serta bagaimana menggunakannya. Memiliki sistem politik yang membatasi arus informasi dan penggunaannya seperti pada rezim otoriter dan informasi yang kurang dan ekonomi sangat berbeda serta praktek sosial. Pemimpin politik Eropa dan Asia Timur mengakui kenyataan ini. Sekarang mereka bergulat dengan isu-isu seperti bagaimana menghadapi dengan internet dan dengan informasi yang memungkinkan untuk mengalir melalui kertas dan media elektronik lainnya.

Mereka berinisiatif untuk membuat perekonomian mereka bersaing pada basis global sambil memuaskan tuntutan-tuntutan yang berkembang pada kelas menengah yang melek huruf, terdidik dan cukup makmur.

Pada hari-hari setelah pemilihan umum di AS pada bulan November 2000, tidak jelas siapa yang memenangkan suara untuk presiden di negara bagian Florida. Siapa yang menang di negara bagian akan memenangkan pemilihan umum, pemilihan cukup mengumpulkan suara terbanyak untuk dinyatakan sebagai pemenang nasional. Yang terjadi di Florida sistem kartu tidak selalu mencatat dengan jelas maksud-maksud para pemilih, sehingga terbuka kemungkinan interpretasi hasil yang tidak akurat. Konsekuensinya jelas keseluruh dunia yang telah mengikuti cerita selama dua bulan. Isu-isu kesalahan koreksi dan masalah yang dihadapi di Florida menunjukkan bagaimana orang Amerika menanggapi penggunaan teknologi.

Pada dasarnya ada tiga isu. Pertama, Florida dan banyak negara-negara bagian yang lain memungkinkan para pejabat pemilihan lokal untuk menafsirkan hasil pemungutan suara, dengan menggunakan kriteria lokal daripada standar nasional. Kedua, Amerika ingin tahu hasil pemilu dengan cepat yang bisa dilihat pada malam pemilihan atau segera setelah penghitungan kertas suara. Ketiga, pemikiran menggunakan teknologi lama seperti kartu merupakan kemunduran bagi suatu negara yang dalam operasi bisnis dan badan-badan pemerintahan telah membuang metode input data seperti dekade sebelumnya.

Pejabat publik di AS bereaksi dalam dua cara. Pertama, mereka membela penggunaan teknologi tua menjadi penyebab biaya tinggi sehingga menggunakan pendekatan yang lebih baru pada penghitungan suara menggunakan layar atau bahkan internet. Kedua, puluhan gubernur mengawasi dan menetapkan standar untuk penghitungan suara di negara bagian.

Yang harus dipahami adalah sejauh mana penggunaan teknologi dalam pemungutan suara sebelum terjadinya kegagalan dalam pemilihan karena ke depan kegunaan dan semakin luasnya penyebaran sehingga dituntut bagaimana para pejabat publik menggunakan teknologi informasi. Sekarang perhatian tertuju pada topik pemungutan suara elektronik dari peristiwa pemilihan nasional tahun 2000. Pola-pola yang lebih luas didorong oleh pertimbangan fungsi, kemudahan dalam penggunaan, biaya dan keandalan sehingga sejajar dengan bidang kehidupan yang lain dalam menggunakan teknologi informasi seperti bidang pekerjaan, rekreasi dan praktek keagamaan.

Sekitar 32 % dari semua tempat pemungutan suara di seluruh negara masih menggunakan kartu suara, 27 % menggunakan optical scanners, 18 % menggunakan mesin, 9 % menggunakan kecanggihan layar elektronik. Metode lain (misalnya kertas suara) menymbang persentase yang tersisa. Sementara penggunaan internet masih menjadi bahan diskusi tapi belum diimplementasi. Yang jadi hambatan bagi masyarakat adalah masalah teknis dan biaya yang mahal.

Ketika perhatian bangsa tertuju pada topik demokrasi biasanya pada saat pemilihan umum, ketika kampanye politik menarik minat warga Amerika untuk isu-isu kepedulian nasional, melalui liputan media dan akhirnya melalui pemungutan suara merupakan tindakan warganegara dalam berdemokrasi. Pada saat itu peran fundamental demokrasi berperan dalam kehidupan warga Amerika.

Singkatnya pengaruh pemerintah akan terlihat ketika menjawab informasi secara nasional. Dimulai pada tahun 1920-an dan berlanjut sampai sekarang, bentuk-bentuk informasi elektronik dan pengaruh dari informasi mulai mengubah peran kegiatan berpolitik.

Bagaimana Demokrasi akan berevolusi?

Demokrasi Amerika modern adalah dalam bentuk suatu republik demokratik atau demokrasi perwakilan. Suatu demkorasi perwakilan muncul di Amerika Serikat sebab penduduk baru sudah muak dengan pajak tanpa perwakilan dan mereka menginginkan sistem yang lebih fair dimana orang bisa bersuara untuk mengatur negara. Mereka menginginkan demokrasi perwakilan dimana perwakilan yang dipilih yang akan mengatur pemerintahan. Para perwkailan tersebut dipilih dengan pemikiran bahwa mereka akan secara tepat mewakili konstituen mereka, tetapi dalam kejadian di mana thal ini tidak terjadi, pemerintah Amerika Serikat dibagi menjadi 3 cabang untuk mengawasi penyelewengan. Ketiganya adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tidak ada satupun yang memiliki kekuasaan absolut. Ketiga cabang pemerintahan tersebut dimaksudkan sebagai cara untuk menghindari tirani mayoritas.

Tentang Demokrasi

Demokrasi, berasal dari kata Yunani Demos yang berarti Rakyat dan Kratia yang berarti pemerintahan, suatu bentuk pemerintahaan yang mengikut sertakan seluruh anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut soal-soal kenegaraan dan kepentingan bersama, dengan adanya pengakuan terhadap hak rakyat ini, pemerintahan demokrasi disebut pemerintahan dari rakyat untuk rakyat.

Bentuk pemerintahan demokrasi pertama dikembangkan di Yunani Kuno pada abad ke-6 SM. Pemerintahan demokrasi Yunani tumbang di pada masa peralihan pertama Macedonia dan Romawi. Demokrasi modern berkembang sejak abad ke-17 dimulai dengan pecahnya Revolusi Industri yang mengakibatkan Revolusi Perancis dan Revolusi Amerika.

Pada abad ke-18 dan 19, di Inggris, Amerika dan Eropa telah berkembang sistem demokrasi perwakilan liberal, dewan perwakilan dijadikan wakil rakyat untuk mengemukaan pendapatnya, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak, pemilihan dilakukan secara teratur, hak pilih dimiliki oleh setiap warga yang telah dewasa, rakyat diberi kebebasan berbicara dan mendirikan organisasi tandingan karena golongan minoritas dianggap bagian penting dari demokrasi itu sendiri.

Konsep demokrasi selalu banyak mendapat dukungan dimana-mana, ini karena demokrasi mewakili/menggambarkan suatu kondisi keadilan yang ideal selayaknya pemerintahan yang adil pula. Idealisme yang ditawarkan adalah kebebasan/kemerdekaan dan persamaan adalah baik dan bahwa peranan/proses demokrasi selalu mempengaruhi perkembangan kualitas hidup manusia.

Dalam konsep demokrasi, partisipasi rakyat bisa menjadi efektif jika didukung oleh kebebasan politik. Sebagaimana yang ditulis James Madison dalam The Federalist, “Liberty is to faction as air to fire”. Kebebasan yang mempromosikan perbedaan adalah penting tidak hanya sebagai idealisme moral yang tinggi namun juga sebagai metoda untuk menyadari arti demokrasi itu sendiri.[1]

Tentang Demokrasi Perwakilan

Amerika Serikat (AS) rakyat mendapatkan kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam menyampaikan pendapat dan kritik terhadap pemerintah. Pada saat pemerintah AS memutuskan untuk menyerbu Irak jika Irak tidak menyerahkan senjata pemusnah massal yang oleh AS dianggap dimiliki Irak, jutaan rakyat AS berdemonstrasi menentang sikap pemerintahnya. Tetapi pemerintah tetap melanjutkan keinginannya dan Irak pun diserang habis-habisan oleh AS dan diduduki hingga sekarang. Jadi di AS ada kebebasan besar bagi siapa saja untuk mengemukakan pendapat, termasuk melalui demonstrasi besar-besaran yang memprotes politik pemerintah. Tetapi pendapat mereka tidak didengar sama sekali oleh Presiden dan DPR AS. Dari segi ini bisa dikatakan bahwa Pemerintah dan DPR AS telah menjalankan pemerintahan secara tertutup.[2]

Pada dasarnya kegiatan pemerintahan adalah kegiatan menjalankan kekuasaan negara. Dalam negara demokratis, ini berarti suatu pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat. Demokrasi sendiri pengertian dasarnya adalah kekuasaan rakyat atau pemerintahan rakyat. Pengertian dasar inilah yang justru telah diselewengkan di banyak negara yang mengaku demokratis. Seperti dikemukakan oleh Andrew Heywood dalam bukunya Political Ideologies (Macmillan, 1993, hal. 277), Demokrasi dewasa ini adalah demokrasi perwakilan; tanggungjawab untuk memerintah bukan dijalankan oleh semua warganegara yang sudah dewasa, tetapi dipercayakan kepada satu kelompok elit politisi profesional. Partisipasi rakyat dalam pemerintahan dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan memilih wakil-wakilnya dalam badan perwakilan dan memilih pejabat-pejabat eksekutif. Akibatnya ide dasar demokrasi tentang pemerintahan rakyat ditinggalkan, yang dikemukakan adalah peraturan yang mengatur proses pemilihan umum. Demokrasi hanya berarti pemilihan umum bebas dan rahasia untuk menjamin hak pilih warganegara serta kompetisi partai-partai politik untuk menjamin pilihan. Partisipasi warganegara terbatas pada memberikan suara pada hari pemilihan umum. Demokrasi semacam inilah yang disebut demokrasi perwakilan. Pemerintahan yang dijalankan oleh para politisi yang dipilih rakyat melalui pemilihan umum yang bebas dan rahasia, tetapi yang bisa mengabaikan begitu saja keinginan rakyat.

Sejarah Radio di Amerika Serikat

Beberapa tahun setelah Dane, James Maxwell, Heinrich Hertz, Guglimo Marconi menemukan prinsip prinsip sederhana mengenai gelombang elektromagnetik, ahli-ahli di berbagai negara terus mengembangkannya. Tahun 1906, di Amerika Serikat, Dr. Lee de Forest memperkenalkan lampu vakumnya (vacuum tube), yang memungkinkan suara dapat disiarkan (Edwin Emery, et al, Introduction to Mass Communication, halaman 225).

Sedangkan menurut William Albig, David Sarnoff-lah yang mula-mula memperkenalkan radio siaran (broadcasting) pada tahun 1915. Melalui stasiun radio milik Dr. Lee de Forest pula, buletin mengenai Kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat, antara Woddrow Wilson dan Hughes telah disiarkan ke masyarakat, meskipun belum memperoleh sambutan. Atas usahanya ini, Dr. Lee de Forest dijuluki "the father of radio" karena kepeloporannya di bidang radio. Perkembangan dunia radio menjadi terhambat karena pecah Perang Dunia I.

Akibatnya, hampir semua peralatan radio diperlukan untuk kepentingan perang. Bahkan sampai tahun 1919, terdapat larangan bagi siapapun juga untuk mengusahakan radio siaran. Dr. Lee de Forest jugalah yang mula-mula menyiarkan berita radio. Eksperimen serupa dilakukan oleh Dr. Frank Conrad, seorang ahli yang bekerja pada Westing House Company di Pittsburg, Amerika Serikat, tetapi dalam bidang musik.

Perusahaan-perusahaan lain pun mengikuti jejaknya, terutama General Electric dan American Telephone and Telegraph, yang selanjutnya mendirikan Persatuan Radio Corporation of America, dipimpin David Scarnoff. Masyarakat Amerika Serikat telah dapat menikmati radio siaran secara teratur dengan berbagai programnya sejak tahun 1920.

Pemilihan Umum untuk memilih presiden antara Warren G. Harding dan Cox (Harding Cox Presidential Election) disiarkan oleh Stasiun Radio KDKA, yang kemudian dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara meluas dan teratur kepada masyarakat. Sejak saat itu, radio mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tahun 1922, hanya ada 30 stasiun radio, bulan Maret 1923 menjadi 566 buah. Pada tahun 1926, National Broadcasting Company berdiri sebagai radio siaran yang besar dan luas.[3]

Disusul Columbia Broadcasting System (CBS), Mutual Broadcasting System (MBS), yang merupakan jaringan radio siaran (network), gabungan dari badan-badan radio siaran yang kecil. Usaha ini diikuti pula dalam peningkatan teknologinya, yakni dengan diperkenalkannya sistem Frequency Modulation (FM), sebagai penyempurnaan sistem sebelumnya, yakni AM (Amplitude Modulation) oleh Profesor E.H. Amstrong dari Columbia University pada tahun 1933. Penemuan ini sangat menguntungkan, karena :

1. Dapat menghilangkan interferensi atau gangguan yang disebabkan cuaca, bintik-bintik matahari, atau alat-alat listrik

2. Dapat menghilangkan interferensi yang disebabkan dua stasiun yang bekerja pada gelombang yang sama

3. Dapat memperoleh suara sebaik-baiknya bagi telinga manusia yang sensitif

Sebagai negara yang menang perang dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat tidak mengalami gangguan yang berarti di bidang pengembangan radio siaran. Bahkan kini mempunyai badan-badan yang berada di luar negaranya sendiri.

Propaganda Radio di Amerika Serikat

Sehabis Perang Dunia I, Jerman mengadakan kegiatan propaganda melalui radio di Eropa, demikian juga Jepang di kawasan Asia. Hal ini mendorong Amerika untuk mengadakan kegiatan serupa, dengan mendirikan "Office of War Information" (OWI) pada tahun 1942, yang merupakan usaha pertama dalam propaganda internasional. Di bawah OWI pulalah, Voice of America (VOA) lahir dan diudarakan melalui sebelas stasiun gelombang pendek.

Diikuti pendirian kantor-kantor penerangan sebanyak mungkin di semua negara yang dikenal dengan nama United States Information Service (USIS). Di samping itu, didirikan pula United States Information Agency (USIA), melakukan kegiatan dengan mengkoordinasikan penerangan melalui berbagai media. Dalam melakukan kegiatan ini, Amerika tidak memakai istilah propaganda, melainkan "informasi", tetapi hakikatnya adalah propaganda juga.

Seperti dikemukakan oleh L. John Martin dalam bukunya "International Propaganda": The United States is also involved in the international propaganda. Suara Amerika terus melakukan kegiatannya, meskipun perang telah usai, dan bahkan semakin memperluas kegiatannya. Tahun 1969 misalnya, VOA mempergunakan 38 buah lebih pemancarnya di Amerika dan 54 pemancar di luar Amerika, dengan output seluruhnya 15 juta watt, dengan jam siarnya setiap minggu 850 jam, dan disiarkan dalam 37 bahasa.

Sampai tahun 1990, pemancar yang digunakan VOA tercatat 26 buah Domestic Broadcasting Transmitters beroperasi di Delano, California; Greenville, North Carolina; dan Bethany, Ohio. Serta 79 pemancar di luar Amerika (Overseas Broadcasting Transmitters), yang berlokasi di Antigua, Belize, Botswana, England, Germany, Greece, Liberia dan Morocco, Philippines, Quesada, Sri Lanka, dan Thailand.

Siaran langsung setiap minggunya adalah 1200 jam, bandingkan dengan Uni Soviet 1787 jam sebelum menjadi CIS, Cina 1444 jam, VOFC 1149 jam, Jerman 843 jam, serta Inggris Raya 757 jam. Ditambah dengan VOA Radio Marti, yang khusus ditujukan ke Kuba dalam bahasa Spanyol, dengan siaran langsung 168 jam setiap minggunya, dengan studionya di Washington, D.C. sebanyak dua buah, dan sebuah domestic transmitter yang berlokasi di Marathon, Florida. Sekarang, VOA menyiarkan lebih dari 1200 jam seminggu melalui 109 pemancar berkekuatan 26 juta watt, dan menjangkau kira-kira 130 juta pendengar di lima benua. Selain itu, VOA mengirim berbagai mata acara dalam 39 bahasa sebanyak 1400 jam setiap minggu melalui satelit, langsung ke stasiun-stasiun radio di seluruh dunia, untuk disiarkan pada waktu bersamaan atau kemudian.

VOA juga mengirimkan bahan-bahan siaran melalui telepon, dan dalam kaset ke stasiun-stasiun radio di berbagai negara, termasuk Indonesia untuk disiarkan kembali. Selain itu, VOA sebelum usai perang dingin, juga melakukan propagandanya melalui Radio Free Europe - Radio Liberty, dan Radio in the America sectors, dengan siaran khususnya yang ditujukan pada para pendengarnya di kawasan negara-negara yang menganut sistem komunis.

Radio Free Europe / Radio Liberty, Inc., yang bekedudukan di Munich, Jerman Barat (sekarang Jerman) dan melalui pemancarnya di Spanyol dan Portugal menujukan propagandanya ke negara Afganistan, Bulgaria, Cekoslowakia, Hungaria, Polandia, Rumania, dan USSR menggunakan bahasa Rusia dan bahasa-bahasa kelompok etnis yang ada di kawasan tersebut, antara lain bahasa Ukraina, Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Georgia, Tatar Bashkir, Kazak, dan sebagainya. Setelah Radio Liberty tak lagi mengudara, kini mengalihkan perhatiannya ke kawasan Asia, mengudarakan misinya dengan nama Radio Free Asia (baca Dirgantara 7 (3) Mei-Juni 1997, halaman 31).

Lebih Jauh dengan Suara Amerika

Kepentingan jangka panjang Amerika Serikat dipenuhi dengan jalan berkomunikasi secara langsung melalui radio dengan penduduk dunia. Untuk melaksanakan tugasnya dengan efektif, Suara Amerika selaku Dinas Siaran Radio, Badan Penerangan Amerika Serikat harus dapat memikat dan dihormati oleh para pendengarnya. Untuk keperluan ini, azas Suara Amerika pada tanggal 12 Juli 1976 ditandatangani menjadi Undang-undang oleh Presiden Gerald Ford.

Azas-azas tersebut adalah :

1. Suara Amerika merupakan sumber berita yang dapat diandalkan dan terpercaya, berita-beritanya akurat, obyektif, dan lengkap

2. Suara Amerika mewakili Amerika Serikat, bukan satu golongan masyarakat, dan lembaga-lembaga penting Amerika secara berimbang dan lengkap

3. Suara Amerika akan mengemukakan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat secara efektif dan lengkap, serta menyajikan suatu diskusi dan pandangan secara berbobot mengenai kebijakan tersebut

Selaku radio pemerintah, Suara Amerika dipercaya memperkenalkan sejarah kehidupan bangsa Amerika ke seluruh dunia. Suara Amerika untuk pertama kali berada di udara selama berkecamuk Perang Dunia II, tepatnya 24 Februari 1942, dan berfungsi sebagai sarana penerangan bagi dunia. Siaran pertama yang diudarakan adalah dalam bahasa Jerman. Pada waktu itu, Suara Amerika berjanji kepada para pendengarnya di seluruh dunia, dengan mengatakan, "Berita yang akan kami siarkan mungkin lebih baik, dan mungkin pula kurang menyenangkan, tetapi Suara Amerika akan selalu memberitakan kebenaran." Tetapi setelah itu, radio tersebut melalui berbagai bahasa mendatangi para pendengarnya di seluruh dunia untuk memperkenalkan bangsa Amerika pada dunia, tentang cara hidup dan kerja, tata pemerintahan, peranan Amerika Serikat di dunia dalam memelihara perdamaian, dan memajukan tingkat hidup bangsa-bangsa di planet ini.

Penyebaran Informasi

Pembahasan tentang bagaimana demokrasi akan berevolusi, mencoba mendeskripsikan peran teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam masyarakat parlementer Amerika Serikat dan mencari keseimbangan yang tepat diantara penggunaan ICT dengan beragamnya ekonomi, politik dan lingkungan sosial merupakan hal penting dalam rangka memperoleh manfaat optimal ICT untuk masyarakat. Di mana mulai tahun 1950-1960an, para kandidat sudah mulai memanfaatkan ICT berupa talkshow di radio, TV dan sarana manual seperti koran, pamflet, selebaran, buku, artikel dan poster. Selain itu memakai web untuk menyampaikan ke publik dan email digunakan sebagai alat informasi dan komunikasi. Ini menandakan bahwa ICT telah memberikan dampak pada cara masyarakat Amerika berinteraksi dan membangun komunikasi lewat jalan baru dalam memperoleh, menyimpan dan menyebarluaskan informasi kembali ke masyarakat.

Tahun-tahun selanjutnya, kekuatan informasi dan kemampuan infrastruktur informasi telah membawa pengaruh besar terhadap masyarakat Amerika. Masyarakat Amerika tengah menuju masyarakat informasi dimana menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu masyarakat di mana kualitas hidup dan juga prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi, tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Dalam masyarakat seperti ini, standar hidup pendidikan dan pemasaran barang-barang sangat dipengaruhi oleh akumulasi peningkatan informasi dan pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya intensitas produksi informasi dan pelayanan, komunikasi yang luas melalui media dan banyak diantaranya dilakukan secara elektronis. (Martin, 1995)

Masyarakat ini menekankan pentingnya ICT serta akses di bawah pengaruh ekonomi, politik dan lingkungan sosial. ICT telah mengubah cara hidup masyarakat dunia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa sadar telah membawa dunia memasuki era globalisasi lebih cepat dari yang dibayangkan semula. Amerika Serikat menjunjung kebebasan berserikat dan berkumpul bagi semua warga dalam proses demokrasi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu terobosan yang dapat memudahkan perolehan informasi.

Dalam dunia informasi, perpustakaan merupakan tambang sumber segala informasi. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus seiring dengan pesatnya kemajuan ICT dan kebutuhan informasi penggunanya. Perpustakaan yang maju juga merupakan salah satu syarat memasuki masyarakat informasi. Semua informasi tersimpan di perpustakaan, masyarakat dapat menggunakan perpustakaan untuk berkonsultasi mengenai apapun.

Perpustakaan memiliki tugas utama dan fungsi. Tugas utama perpustakaan yakni memberikan pelayanan terbaik dalam penyediaan dan pelayanan informasi. Untuk melaksanakan tugasnya itu ada 4 fungsi perpustakaan yakni yang pertama adalah mengumpulkan, menyusun, melestarikan dan menyediakan bahan pustaka dan sumber informasi lain yang relevan untuk menunjang tugas. Fungsi kedua adalah menganalisis, mendaftar dan menginformasikan pustaka yang ada kepada semua pengguna. Fungsi ketiga adlaah mengikuti perkembangan sistem kepustakaan sesuai perkembangan IPTEK. Dan yang keempat adalah ikut mendorong meningkatnya kebiasaan dan kemampuan membaca serta menulis di kalangan para penggunanya.[4]

Pelayanan jasa informasi di perpustakaan, informasi dapat didistribusikan dengan mudah, cepat dan tepat. Waktu dan letak geografi tidak lagi menjadi masalah dalam distribusi infomasi. Informasi dapat disampaikan kepada mereka yang membutuhkan dengan kemajuan teknologi yang ada.

The Special Role of the Internet

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa; demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Selanjutnya, media massa mempunyai tugas dan kewajiban – selain menjadi sarana dan prasarana komunikasi – untuk mengakomodasi segala jenis isi dunia dan peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya) – dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan – tanpa ada batasan kurun waktu. William L. Rivers dan kawan-kawannya (Rivers 2003:ix) mengatakan bahwa pada dasarnya, kondisi di dunia nyata mempengaruhi media massa, dan ternyata keberadaan media massa juga dapat mempengaruhi kondisi nyata dunia. Dengan kata lain, dunia mempunyai peranan dan kekuatan untuk mempengaruhi media massa; dan sebaliknya, media massa juga mempunyai peranan dan kekuatan yang begitu besar terhadap dan bagi dunia ini, terlebih dalam segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia dengan segala aspek yang melingkupinya. Oleh karenanya, dalam komunikasi melalui media massa, media massa dan manusia mempunyai hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan karena masing-masing saling mempunyai kepentingan, masing-masing saling memerlukan. Media massa membutuhkan berita dan informasi untuk publikasinya baik untuk kepentingan media itu sendiri maupun untuk kepentingan orang atau institusi lainnya; di lain pihak, manusia membutuhkan adanya pemberitaan, publikasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Negara adikuasa, Amerika Serikat, juga tidak bisa melepaskan dirinya dari kaitannya dengan media massa karena hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan atau saling memerlukan. Di satu sisi media massa membutuhkan, memerlukan berita dan informasi tentang Amerika Serikat berikut yang berkait secara langsung maupun tidak langsung agar fungsi dan peranan media massa bisa berjalan sesuai dengan yang seharusnya; di sisi lainnya, negara Amerika Serikat memerlukan atau membutuhkan media massa agar dapat mempublikasikan atau memberitakannya baik untuk keperluan sekedar publikasi informasi dan berita maupun untuk tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan khusus dalam bidang politik, ekonomi, sosial, atau lainnya. Menurut catatan William L. Rivers dan kawan-kawan (Rivers 2003:158), pemerintah Amerika Serikat menganggap bahwa pemberitaan melalui media massa itu sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari besarnya anggaran atau besarnya beaya yang disediakan pemerintah federal Amerika Serikat untuk publikasi atau pemberitaan kegiatan-kegiatan hubungan masyarakat dan informasi publik sebesar $400 juta per tahun. Bahkan eksekutif mengeluarkan dana yang lebih besar untuk beaya pemberitaan, publikasi, peliputan khusus, dan lain sebagainya. Hal ini memberikan indikasi betapa besar peranan dan kekuatan media massa bagi pemerintah Amerika Serikat.

Demikian halnya dengan dunia politik di Amerika Serikat, eksistensi politik Amerika Serikat dan yang berkait juga tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan media massa baik yang ada di Amerika maupun yang ada di luar Amerika. Publikasi lewat media massa baik cetak maupun elektronik tentang hal-hal yang berkait dengan kepentingan-kepentingan politik dalam maupun luar negeri Amerika Serikat baik secara langsung maupun tidak langsung sangat dibutuhkan dan diperlukan oleh para praktisi maupun akademisi bidang politik Amerika Serikat. Demikian juga halnya dengan media massa, untuk kepentingan komunikasi pada umumnya, dan kepentingan media massa pada khususnya ataupun untuk kepentingan lainnya, pihak media massa sangat memerlukan informasi dan segala hal tentang politik Amerika Serikat yang bisa dijadikan ‘komoditas’ bagi media massa. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana hubungan saling ketergantungan dan saling membutuhkan antara media massa dan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Para praktisi, partisan, pemerhati politik Amerika baik yang berada di Amerika Serikat maupun yang berada di luar Amerika Serikat akan sangat menggantungkan, membutuhkan media massa baik sebagai sarana komunikasi dengan memberikan informasi maupun sebagai sarana persuasi untuk kepentingan kampanye dengan cara menyampaikan visi dan misinya untuk memikat rakyat agar memilih calon presiden sebagaimana yang diharapkan oleh tim kampanye. Demikian juga pihak media massa akan sangat menggantungkan dan membutuhkan berita, informasi yang berkait secara langsung maupun tidak langsung dengan kampanye kepresidenan tersebut sebagai sumber berita utama atau bahan utama bagi pemberitaan atau jenis publikasi lainnya. Dari contoh tersebut, dapatlah disampaikan suatu pemikiran akan adanya keterkaitan antara media massa dan berbagai pihak dalam pelaksanaan kampanye kepresidenan Amerika Serikat.

Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan suatu analisis berkaitan dengan kekuatan media massa dalam kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Media massa baik cetak maupun elektronik – yang dalam konteks ini meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, dan websites – bukan hanya mempunyai peranan melainkan juga mempunyai kekuatan dalam pelaksanaan kampanye tersebut. Analisis ini juga didukung oleh sistem media massa yang berlaku di Amerika Serikat dan juga pengakuan konsitusional adanya kebebasan menyampaikan pendapat. Analisis ini didasarkan pada observasi pustaka, baik cetak melalui buku, jurnal, majalah maupun elektronik melalui situs-situs di internet (websites). Tulisan-tulisan yang berkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan topik tersebut di atas akan menjadi sumber utama penulisan ini.

Kekuatan Media Massa dalam Kampanye Kepresidenan di AS

Dalam perspektif sistem media massa dan kebebasan menyatakan pendapat yang berlaku di Amerika Serikat, adalah sangat mungkin bahwa media massa di Amerika Serikat bukan hanya mempunyai peranan melainkan juga mempunyai kekuatan dalam kampanye kepresidenan di Amerika Serikat. Sistem media massa Amerika Serikat yang sangat terbuka – dalam arti tanpa pengawasan secara konstitusional dari pemerintah – dan adanya jaminan kebebasan menyatakan pendapat dari konstitusi memberikan keleluasaan bagi warga Amerika Serikat untuk melakukan publikasi melalui media massa. Hal ini tentu saja juga memberikan kesempatan yang sangat luas bagi para politisi dalam rangka pelaksanaan kampanye kepresidenan. Sistem media yang demikian itu memberikan peluang bagi masing-masing tim pelaksana kampanye kepresidenan untuk menggunakan media massa sebagai sarana informasi dan persuasi seefektif dan seefisien mungkin. Hal ini juga didukung oleh konstitusi yang memberikan kebebasan berpendapat bagi setiap warga negara. Dua hal tersebut sangat mendukung kinerja masing-masing tim pelaksana kampanye kepresidenan dalam usaha untuk merebut perhatian para pemilih agar memilih calon presiden yang mereka ajukan.

Media massa merupakan sarana persuasi yang efektif dan efisien bagi mereka karena bisa menjangkau banyak pemilih yang menjadi target mereka dengan waktu yang cepat dan beaya yang relatif murah. Adalah tidak mungkin, khususnya dari sisi waktu, bagi tim sukses kampanye kepresidenan Amerika Serikat untuk mendatangi target pemilih mereka secara langsung atau ‘door to door’. Penggunaan media massa adalah cara yang sangat memungkinkan untuk ‘bertemu langsung’ dengan target pemilih melalui representasi media massa baik cetak maupun elektronik bagi para tim pelaksana kampanye kepresidenan. Mereka bisa menggunakan berbagai cara yang bisa dipublikasikan melalui media cetak maupun elektronik, bahkan mereka juga bisa berkomunikasi secara langsung melalui program ‘live show’ televisi maupun siaran radio; juga mereka bisa mengumpulkan pendapat, saran, komentar ataupun kritik, mengadakan ‘polling’ atau jajak pendapat melalui media massa cetak maupun elektronik. Berbagai macam cara bisa mereka ciptakandan mereka untuk berkomunikasi dalam usaha memikat calon pemilih.

Kebanyakan warga Amerika yang mempunyai hak pilih mendapatkan informasi tentang pemilihan bukan dari kontak langsung dengan para calonnya atau dengan para praktisi politik (politisi) ataupun tim pelaksana kampanye, melainkan melalui media massa cetak maupun siaran atau juga elektronik, misalnya, surat kabar, majalah, websites, radio, dan khususnya televisi. Enam puluh persen dari mereka mengatakan bahwa televisi merupakan sumber utama informasi bagi mereka berkaitan dengan pemilihan presiden (Clack 2000:36). Bagi para politisi, media massa tersebut dipakai dan diberdayakan demi suksesnya pelaksanaan kampanye kepresidenan dan demi keberhasilan kandidat presiden mendapatkan suara pemilih sebanyak mungkin sehingga kandidat tersebut bisa menjadi presiden.

Steven H. Chaffee dan Michael J. Petrick (1975:135) menyatakan bahwa ‘the mass political persuader’ mencoba menggunakan media untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi kandidat presidennya. Meyakinkan warga negara untuk memilih kandidatnya merupakan tujuan yang cukup jelas. Selanjutnya dikatakan bahwa “persuading persons to donate money, to help collect donations from others, or to help in canvassing are also important objectives of the political persuasion game”. Dari pendapat tersebut, menjadi jelaslah bahwa media massa sungguh mempunyai peranan dan kekuatan bagi keberhasilan pelaksanaan kampanye kepresidenan, bukan hanya dari sisi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin suara pemilih melainkan juga untuk mengumpulkan dana bagi pelaksanaan kampanye. Lebih lanjut mereka mengatakan (Chaffee 1975:141) sebagai berikut,

Because the mass media are so pervasive in America, they provide channels for reaching nearly all prospective voters repeatedly and in a relatively short period of time. The fact alone explains why campaign strategists turned to the growing mass media system as a partial substitute for the more exhausting and less efficient schedule of personal appearances by candidates. Although personal appearances have not disappeared from the campaign scene, one of the primary functions is to provoke media news coverage which can then be relayed throughout the state or country. The great spread of mass communication, then, is an obvious but important benefit to those who orchestrate campaigns.

Dari sudut pandang warga negara atau para pemilih di Amerika Serikat, mereka menggunakan media massa untuk mendapatkan informasi dan hal-hal yang berkait baik dengan pelaksanaan kampanye kepresidenan maupun dengan pelaksanaan pemilihan presiden itu sendiri. Disampaikan pula bahwa (Chaffee 1975:142),

American voters can, if they so choose, use the media to help them cope intelligently with an election campaign.Citizens use the media to help determine the important campaign issues.Once an issue is cast, citizens can use the media to familiarize themselves with it more thoroughly and to learn and evaluate the positions that candidates take toward it.

Hal tersebut di atas juga didukung oleh Darlisa Crawford (2004:1) yang menyatakan bahwa media massa moderen saat ini telah menjangkau ratusan ribu orang di Amerika Serikat dan seluruh dunia melalui televisi, radio, surat kabar, majalah, buku, film, dan internet. Selanjutnya berkait dengan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat, Crawford menyatakan sebagai berikut,

The American news media inform audiences about the candidates, their positions on the issues, opinion polls, political debates and conventions, and political advertisements. The new media also provide a watchdog mechanism for the public, work as a liaison between the public and its leaders, and influence candidate images and reputations.

Menurut Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:306), media massa dalam bentuk cetak dan siaran mempunyai lima fungsi khusus dalam sistem politik, yaitu, “reporting the news, interpreting the news, socializing citizens about politics, influencing citizens’ attitudes and behaviors, and setting the agenda for government action”. Kelima fungsi tersebut sekaligus menjadi kekuatan media massa dalam kaitannya dengan politik, khususnya dalam hal ini dengan pelaksanaan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat.

Kekuatan Media Massa Cetak

Media massa cetak yang dalam konteks ini dibatasi dalam bentuk surat kabar, majalah, dan buku merupakan sarana komunikasi dan persuasi bagi para praktisi politik, para partisan politik, dan para pemerhati politik. Sebagai sarana komunikasi, media massa cetak tersebut dimanfaatkan untuk mensosialisasikan visi dan misi dari kandidat presiden, memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin berkait dengan program-program jangka panjang dan pendek sebagai perwujudan pelaksanaan visi dan misi para kandidat, memberikan liputan dalam kolom reguler maupun kolom khusus berkait dengan kampanye mereka, menyampaikan biografi dan karya-karya para kandidat berikut rencana kerja mereka. Informasi-informasi tersebut dikemas sedemikian rupa dalam aneka bentuk publikasi – liputan berita, liputan khusus, features, analisis, iklan, dan lain-lainnya – sehingga menjadi berguna dan menarik bagi para calon pemilih. Kemasan publikasi dalam media massa cetak seperti ini – baik dalam surat kabar harian maupun dalam majalah mingguan atau dwi-mingguan ataupun bulanan – dimaksudkan sebagai sarana persuasi agar para calon pemilih tertarik, terpikat kepada calon presiden yang disosialisasikan dan dipopularitaskan dalam kampanye tersebut.

Media massa cetak tersebut bisa menarik karena sifatnya yang lama dalam pengertian bahwa informasi yang dipublikasikan tersebut bisa disimpan tanpa harus melakukan ‘recording’ sebagaimana dalam media massa siaran; dan kemudian informasi tersebut bisa mudah didapatkan kembali sewaktu-waktu diperlukan. Dengan demikian media massa cetak bukan merupakan media komunikasi, informasi, dan persuasi yang lewat begitu saja sebagaimana yang terjadi dalam media massa siaran baik radio maupun televisi. Di sinilah letak kekuatan media massa cetak.

Selain karena hal tersebut di atas, informasi media massa cetak juga mempunyai kekuatan bagi kalangan tertentu, khususnya bagi golongan berpendidikan. Informasi ataupun data dalam bentuk cetak sangat digemari oleh kalangan sebagaimana tersebut di atas. Mereka membutuhkan informasi dan data dalam bentuk cetakan karena jenis ini pada umumnya merupakan hasil suatu observasi dan analisis yang cukup mendalam dan representatif yang bisa menjadi acuan bagi mereka baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan lainnya. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:337) yang menyatakan bahwa “Although more people today depend on television than on newspaper for news, those with more education rely more on newspapers. Newspapers usually do a more thorough job of informing the public about politics.”

Pendapat senada juga disampaikan oleh William L. Rivers dan kawan-kawan (2003:307) bahwa secara umum, berdasarkan kesimpulan dari berbagai studi, orang berpendidikan tinggi lebih menyukai media cetak atau media bacaan dibandingkan dengan media siaran; sedangkan mereka yang berpendidikan menengah lebih menyukai televisi dan radio.

Kekuatan Media Siaran

Media massa siaran dalam konteks ini meliputi radio dan televisi. Dalam masyarakat politik di Amerika Serikat, radio bukan merupakan media massa siaran yang dianggap sangat efektif dan efisien untuk kepentingan kampanye mengingat bahwa popularitas radio bagi masyarakat Amerika Serikat semakin menurun bersamaan dengan munculnya media massa siaran televisi. Oleh karena itu, para praktisi politik, para partisan politik, pemerhati politik kurang memberikan prioritas terhadap penggunaan media massa siaran radio sebagai media komunikasi, informasi, dan persuasi dalam pelaksanaan kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat, meskipun sebenarnya radio merupakan media yang praktis karena bisa didengarkan di mana saja dan kapan saja, bisa didengarkan sambil melakukan aktivitas lainnya. Mereka lebih memilih media massa siaran televisi karena televisi bisa memberikan tampilan lebih menarik dibandingkan kegiatan kampanye yang disiarkan melalui radio. Hal ini bukan berarti bahwa mereka tidak menggunakan radio; mereka tetap menggunakan radio, hanya porsinya tidak sebanyak yang mereka lakukan melalui media massa siaran televisi, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Dewasa ini televisi memang merupakan media massa yang paling komunikatif dan paling digemari oleh kedua belah pihak (para politisi dan para pemilik hak pilih) karena televisi mempunyai sifat yang berbeda dari media massa lainnya, yaitu bahwa televisi merupakan perpaduan audio-visual sehingga dengan demikian televisi memberikan kesan sebagai penyampai isi atau pesan seolah-olah secara langsung antara komunikator (pembawa acara atau pengisi acara) dengan komunikan (pemirsa). Informasi yang disampaikan melalui televisi mudah dimengerti karena secara bersamaan bisa didengar dan dilihat. Bahkan televisi bisa berperan sebagai alat komunikasi dua arah, khususnya dalam acara-acara ‘live show’.

Frank Allen Philpot dari Universitas Stanford (Rivers 2003:226) menyatakan bahwa liputan televisi lebih disukai para politisi karena liputan itu nampak lebih nyata dan akrab daripada foto atau kutipan pembicaraan mereka yang dipublikasikan lewat surat kabar, apalagi televisi bisa melakukan siaran langsung sehingga lebih dipercaya karena tidak dapat diedit seperti halnya media massa cetak. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Darlisa Crawford (2004:1) yang menyatakan bahwa dalam kampanye presiden tahun 2004, televisi menjadi sumber informasi utama bagi para pemilih. Lebih lanjut dikatakan bahwa di antara media massa yang ada, televisi merupakan ‘the most important provider of election media coverage’. Menurut CNN, menjelang tahun 2000, 98 % seluruh rumah tangga di Amerika Serikat paling tidak mempunyai satu set pesawat televisi. Televisi telah menjadi ‘the dominant source of political news for the American public’. Selanjutnya, menurut George Clark dan kawan-kawan dalam United States Elections 2000 (2000:41), televisi di Amerika Serikat telah menyebar luas dan memperbaiki wacana politik orang Amerika. Televisi merupakan medium demokrasi yang sesungguhnya. Semua orang menikmatinya; “literacy and wealth are no barrier”.

Bentuk-bentuk siaran televisi yang muncul dalam rangka menunjang pelaksanaan kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat adalah kampanye lewat iklan politik, siaran atau liputan berita biasa (reguler) maupun berita khusus berkaitan dengan kampanye, siaran debat terbuka calon presiden, diskusi dan dialog terbuka dengan calon presiden maupun tim kampanye mereka yang bisa melibatkan para pemirsa televisi. Siaran-siaran itu bisa diselenggarakan baik secara langsung maupun tidak langsung; dan biasanya untuk memikat pemirsa lebih banyak dan agar lebih efektif dan efisien, siaran diusahakan dalam jam tayangan ‘prime time’ antara jam 20.00 – 22.00, khususnya untuk siaran-siaran yang melibatkan partisipasi pemirsa secara langsung.

Bentuk penayangan iklan politik dipilih sebagai salah satu bentuk siaran televisi dalam rangka mensukseskan pelaksanaan kampanye pemilihan presiden. Kathleen Hall Jamieson, Dean of the Annenberg School for Communication at the University of Pennsylvania dan Director of the Annenberg Public Policy Center (Crawford 2004:2) berpendapat bahwa iklan politik sekarang merupakan ‘the major means by which candidates for the presidency communicate their messages to voters’. Selanjutnya, Kenneth Janda dan kawan-kawan (1987:331) menyatakan bahwa “political advertising in the form of posters, buttons, and slogans has a long history in American election campaigns.” Dari penayangan jenis ini pemirsa bisa mendapatkan informasi berkait dengan visi-misi dan program kerja yang dijanjikan; selain itu, pemirsa juga disodori penayangan figure kandidat presiden yang sengaja ditonjolkan supaya mempunyai ‘nilai jual’, artinya supaya bisa memikat calon pemilih. Para kandidat presiden dijadikan ikon-ikon baru (bisa juga disebut sebagai aktor-aktor baru) yang sengaja ditonjolkan dalam penayangan tersebut. Semua bentuk aneka penayangan iklan politik, pada prinsipnya, merupakan suatu alat yang dipakai untuk mempengaruhi publik, khususnya pemilik hak pilih, supaya memilih kandidat presiden yang ditayangkan atau memperkuat dan memperteguh pendirian calon pemilih yang sudah menentukan pilihan mereka. Oleh karena itu, diperlukan cara-cara penayangan yang sedemikian rupa sehingga mampu memberi kesan positip bagi pemirsa dan selanjutnya mampu mengoptimalkan ikatan emosional para calon pemilih baik yang belum menentukan pilihan maupun yang sudah menentukan pilihan.

Menurut Yusuf Maulana (2004:5), pengelolaan kesan merupakan bagian terpenting dalam komunikasi politik. Visualisasi tubuh dan artikulasi verbal dari para kandidat maupun tim sukses atau para aktor dan narrator dalam penayangan tersebut merupakan bagian dari fungsi bahasa yang harus diperhatikan sehingga dengan demikian penayangan itu merupakan hasil dari pengolahan citra melalui bahasa, yang menurut istilah Ben Anderson gejala ini disebut ‘penopengan’ yang mereduksi, bahkan mendistorsi pesan yang seharusnya tampil sebagaimana adanya. Dalam kampanye, tentunya, kesan atau citra yang ingin diperoleh adalah yang positip-persuasif yang kemudian mampu mendapatkan perhatian dari para pemirsa, yang akhirnya mampu mengubah persepsi atau memperteguh persepsi untuk memilih kandidat presiden yang dikehendaki dalam penayangan tersebut.

Bentuk penayangan berikutnya adalah liputan kampanye dalam acara berita reguler maupun dalam berita khusus yang disediakan oleh stasiun televisi dalam rangka kampanye. Cara penayangan ini juga menjadi media bagi para kandidat dan tim suksesnya untuk memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin kepada para pemirsa sehingga mampu memberikan wacana yang representatif dan komprehensif, yang pada akhirnya diharapkan bisa mempunyai daya pengaruh yang kuat bagi para calon pemilih untuk menentukan pilihan mereka. Demikian juga dengan bentuk penayangan melalui acara diskusi dan debat terbuka baik yang dirancang oleh stasiun televisi maupun yang dirancang oleh panitia pemilihan presiden. Semuanya itu dikemas dalam rangka memberikan informasi selengkap dan semenarik mungkin kepada para pemirsa, khususnya kepada target mereka, yaitu mereka yang mempunyai hak pilih. Acara diskusi dan debat terbuka baik yang disiarkan secara langsung maupun melalui siaran tunda mempunyai kekuatan dan daya tarik tersendiri karena melalui acara ini pemirsa bisa mendapatkan gambaran langsung tentang kualitas kandidat presiden yang ada; di pihak lain, masing-masing kandidat dan timnya bisa memaksimalkan cara persuasinya dalam berbagai bentuk tampilan untuk memikat calon pemilihnya.

Kekuatan Media Internet

Selain media massa tersebut, kini para praktisi maupun partisan politik juga menggunakan media internet dalam websites sebagai sarana komunikasi, informasi, dan persuasi berkaitan dengan pemilihan yang berlangsung di Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat dari makin banyaknya situs-situs di internet (websites) yang menyediakan informasi dalam arti luas (tulisan, audio-visual) berkaitan dengan pemilihan presiden Amerika Serikat 2004. Situs-situs tersebut memberikan informasi lengkap dan persuasif karena situs-situs tersebut merupakan tampilan gabungan dari media cetak dan media audio-visual. Situs-situs bisa menampilkan seperti apa yang dipublikasikan oleh media massa cetak sekaligus juga bisa menampilkan sebagaimana yang disiarkankan oleh radio dan televisi. George Clack dan kawan-kawan (2000:42) menyatakan bahwa internet mengubah cara komunikasi politik dan sekaligus mengubah wacana publik di Amerika Serikat dengan cara yang halus. Internet telah mengubah dengan cepat jurnalisme Amerika dalam arti bahwa para reporter telah mampu dengan cepat mengakses ‘government documents and databases, public and private libraries, and archives of newspapers and other publications’. Menurut Bambang Cipto (2003:105), dewasa ini internet telah menjadi media yang cukup besar pengaruhnya terhadap perubahan politik dalam masyarakat Amerika. Hampir semua hal yang berkait dengan politik dan pemerintahan Amerika bisa diakses lewat websites mereka masing-masing. Setiap warga Amerika dapat menyampaikan keluhan, tuntutan, dan harapan mereka secara langsung kepada pemerintah maupun pejabat pemerintah tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Lebih lanjut George Clack dan kawan-kawan menambahkan (2000:42),

As access to the internet grows, and it becomes easier to use, the internet will rise as a major means of political communication. Over the next 10 years, as a new political generation comes on-line, the internet will probably surpass television as the main mode of communication. And with the internet will come an even greater ability for the public to talk back.

Kutipan ini menunjukkan bahwa di masa mendatang internet akan menjadi salah satu media massa yang sangat berpengaruh atau bahkan bisa menjadi media massa yang unggul, khususnya dalam dunia politik dan pemerintahan, yang dalam hal ini, di Amerika Serikat.

Perubahan cara komunikasi politik ini juga dimanfaatkan oleh para praktisi politik, khususnya para tim pelaksana kampanye kepresidenan dengan menggunakan internet sebagai sarana komunikasi dan persuasi demi keberhasilan kerja mereka. Mereka menggunakan websites untuk berkampanye dengan memberikan informasi lengkap dan persuasif dalam tampilan aneka macam yang bisa dilengkapi dengan fasilitas audio-visual. Bahkan mereka menciptakan komunikasi dua arah lewat websites tersebut.

Berkait dengan kampanye kepresidenan 2004 ini, telah ada lebih dari ratusan situs di internet (websites) digunakan oleh para praktisi politik, para partisan politik, para pemerhati politik untuk melakukan usaha komunikasi, informasi, dan persuasi dalam proses mencapai keberhasilan kampanye bagi para kandidat presiden Amerika. Situs-situs itu dibuat baik oleh pihak pemerintah Amerika Serikat maupun oleh pihak para kandidat presiden dan tim pelaksana kampanye mereka sedemikian rupa sehingga menarik bagi para calon pemilih dan memudahkan mereka untuk mengakses. Hal ini dimaksudkan agar terjadi komunikasi dua arah yang tentunya akan sangat membantu kedua belah pihak untuk memperoleh hal yang mereka perlukan. Dari pihak masing-masing kandidat, mereka mempunyai kesempatan yang tanpa batas untuk menampilkan diri masing-masing berikut program-programnya agar dapat menarik perhatian dan mempengaruhi calon pemilih. Dari sisi calon pemilih, mereka memperoleh kesempatan untuk mendapatkan infomasi lengkap dari masing-masing kandidat sehingga mampu memperluas wacana mereka berkait dengan para kandidat dan program yang dimiliki, sehingga dengan demikian para pemilih dapat menjatuhkan pilihannya sesuai dengan yang mereka kehendaki, yang mereka harapkan. Mereka menentukan pilihan mereka atas dasar informasi yang mereka peroleh dari media massa tersebut.

Dari paparan analisis tersebut di atas, dapatlah disimpulkan bahwa media massa baik cetak, media massa siaran (elektronik) maupun media massa internet mempunyai peranan dan kekuatan yang sangat besar dalam kaitannya dengan usaha mencapai keberhasilan pelaksanaan kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat. Pihak para kandidat presiden dan tim sukses mereka bisa memaksimalkan komunikasi mereka dengan calon pemilih melalui media massa: surat kabar, majalah, radio, televisi, dan internet. Pihak calon pemilih memperoleh kesempatan maksimal untuk mendapatkan informasi para kandidat yang akan dipakai dalam menentukan pilihan mereka. Selain hal tersebut, kekuatan media massa dalam pelaksanaan kampanye kepresidenan di Amerika Serikat juga terletak pada berbagai macam variasi tampilan dalam aneka bentuk dan cara sehingga mampu mengakomodasi beraneka macam selera dari kedua belah pihak: para kandidat dan tim mereka dengan para calon pemilih. Keberanekaragaman tampilan dalam media massa itu bukan hanya mampu merepresentasikan aneka selera kedua belah pihak melainkan juga melengkapi pelaksanaan kampanye secara langsung yang diadakan, yang pada akhirnya mampu menjangkau semua lapisan masyarakat, khususnya calon pemilih presiden di Amerika Serikat.

Jadi Apa Yang Kita Lakukan?

Mengingat semua realitas, apakah orang Amerika kebal dari inovasi apapun dalam kebijakan informasi nasional? Apakah perjalanan tanpa henti hanya inovasi teknologi terus tanpa dipengaruhi, atau terganggu, oleh polieymakers atau kehendak
yang elcctonitc. Dengan kata lain, apakah kita punya pilihan? Apakah ada masalah bahwa akan memungkinkan orang amerika untuk memanfaatkan teknologi informasi bahkan lebih dari yang mereka lakukan masa ini atau. minimal, lebih efektif? Jawaban untuk pertanyaan ini umumnya ya, ada lebih banyak yang harus dilakukan dan ada pilihan. Ada isu-isu signifikan,penting untuk diselesaikan , dan mereka pergi ke luar hanya menanggapi munculnya Internet. Dan bangunan dasar batu, fasilitator penggunaan informasi amerika, telah berkombinasi,keyakinan politik nasionalnya dan bentuk pemerintahan yang ada untuk melaksanakan ini, dari sudut pandang praktis harus berpaling kepada orang-orang politik, masyarakat diperlukan untuk mengimplementasikan perubahan untuk mengatasi banyak masalah mendasar yang berkaitan dengan informasi.

Ahli dalam penyediaan dan penggunaan informasi yang telah berpikir tentang masalah ini ,apa yang harus dilakukan berikutnya. Lawrence K. Grossman, misalnya, menulis sebuah buku utuh pada subjek, The Electronic Republic.Ia mengakui bahwa warga negara akan memainkan peran yang lebih besar, lebih langsung, peran dalam kegiatan orang amerika daripada di masa lalu, yang disebabkan oleh dua tren jangka panjang. Dimasukkannya lebih banyak orang berhak untuk memilih dan, tentu saja, munculnya teknologi informasi yang memiliki informasi dan melibatkan orang-orang yang mewakili di tempat kerja. Ia melihat banyak tren terbaru dari perkembangan ini:ekstensi inisiatif suara perluasan , pembukaan pengadilan, munculnya ketidakpuasan publik, memperluas kekuatan opini publik, dan memperluas pengaruh media dengan segala bias dan dicampur. Orang menjadi lebih terlibat, televisi memberikan banyak kegiatan politik, kualitas yang menghibur.

Grossman khawatir tentang beberapa perkembangan. Pertama, konsentrasi media di tangan beberapa korporasi besar, karena menimbulkan potensi bias dalam penyajian informasi. Dia juga gugup tentang protessionalization politisi, yang mungkin membuat mereka kurang responsif terhadap keinginan publik. Jajak pendapat menunjukkan Amerika menemukan televisi, khususnya, bersalah sensationalizing kejahatan, untuk instanee, atau mengubah krisis yang berbahaya, seperti Perang Teluk, menjadi hiburan. "Solusi-Nya adalah sama diusulkan oleh Thomas Jefferson," yang mendesak langkah-langkah yang harus diambil untuk meningkatkan kualitas musyawarah warga di ruang publik.

Panggilan Gosman di Amerika untuk menjaga kebebasan berbicara dengan menerapkan Amandemen Pertama untuk semua media yang sama, dan tidak ada kendala untuk menempatkan tanpa batasan hal apa saja. Pemerintah harus terus mendorong keanekaragaman kepemilikan media dan kontrol Dia menggambarkan dengan pendapat bahwa harus ada akses yang universal terhadap semua bentuk informasi elektronik, bahkan mengatakan bahwa hal ini harus bebas jika perlu. Untuk memastikan laporan yang akurat, ia menyarankan agar undang-undang pencemaran nama baik direformasi, menuntut media untuk liputan yang tidak akurat,dan meningkatkan volume laporan yang substantif untuk meningkatkan kualitas informasi yang disajikan kepada orang amerika, seperti yang dilakukan oleh CNN dan G-SPAN. Orang amerika juga menginginka bahwa demi penyelenggaraan pemilu yang ideal hendaknya melakukan tata ara yang semestinya.

Sebuah tim profesor komunikasi juga menganjurkan reformasi sistem politik dan bagaimana informasi tentang masalah-masalah nasional mengalir melalui masyarakat. W. Russell Neuman, Lee McKnight, dan Richard Jay Salomo gema, kekhawatiran yang sama diungkapkan oleh Grossman. Namun, mereka melihat penciptaan dan penggunaan jaringan nasional yang tersedia untuk semua sebagai isu sentral. "Kami menyarankan proaktif kebijakan nasional untuk membuat komunikasi dan penyediaan informasi kejahatan kompetitif," yang mereka percaya kemudian berarti bahwa " peraturan kepemilikan penyiaran dan tingkat kereta peraturan umum di bidang telekomunikasi tidak lagi diperlukan."16 Mereka menyebut untuk teknis arsitektur terbuka, yang berarti siapa pun dan bentuk apapun teknologi dapat steker ke pekerjaan yang bersih, terbuka, universal, dan dengan akses yang fleksibel bagi semua. Singkatnya, mereka menganjurkan bahwa pejabat pemerintah memainkan peran historis dalam penciptaan informasi fosteringkan infrastruktur "Keyakinan kami adalah bahwa kebijakan publik akan memainkan peran dalam evolusi sosial dan ekonomi untuk abad berikutnya." 17 'Jadi melampaui peran yang ditetapkan untuk FCC pada tahun 1934, dan didefinisikan kembali dalam 1W6 undang-undang Komunikasi.

Saran ini memiliki arsitektur yang terbuka, sementara itu konsisten dengan nilai-nilai dan praktek nasional, dan tidak mengatasi masalah regulator federal yang mengatur masing-masing jenis teknologi telekomunikasi yang hampir secara independen satu sama lain pada saat perkembangan teknologi digital menyebabkan semua bentuk komunikasi menyatu, masuk akal, tapi terlalu sempit. Dikatakan bahwa sebagai isu sentral saat ini kebijakan publik terhadap informasi: integrasi efektif teknologi digital ke dalam kehidupan politik Amerika dengan cara-cara yang konsisten dengan keinginan bangsa. Sejarah bangsa dan politisi menunjukkan keyakinan arsitektur terbuka, akses universal, sebuah sebagai ¬ pirasi untuk rincian dan informasi yang akurat.

Carl Shapiro dan Hal Varian, dua ekonom yang sangat berpengaruh, sebagai ahli di Internet, telah diam-diam membuat sejumlah rekomendasi untuk pembuat kebijakan federal tentang bagaimana merespons isu yang lebih besar dari pemerintah Amerika. Mereka mengakui bahwa pemerintah Amerika selalu memiliki kebijakan informasi. Kami melihat bahwa realitas menunjukkan dengan penciptaan konstitusi, sistem postal, cara yang diatur pemerintah dalam hal telepon, kemudian radio dan TV, dan bagaimana wajah Internet dan berbagai konvergen teknologi, dari telepon nirkabel, dari TV untuk suara. Shapiro dan Varian berpendapat bahwa ada tiga peran dasar pemerintah telah dan harus berperan: sebagai pencipta dan disseminators informasi, sebagai regulator dan pengguna informasi, dan sebagai pencipta dan implcmentors kelembagaan dan prasarana hukum (misalnya, membuat aturan privasi dan menegakkan kebijakan antitrust). Mengandalkan analisis ekonomi, mereka telah menunjukkan bahwa pemerintah penciptaan pengetahuan yang paling baik ketika dana penelitian dasar, seperti yang terjadi dengan penciptaan komputer dan kemudian Internet. Jadi mereka ingin lebih dari itu. Mereka pikir itu baik-baik saja bagi pemerintah untuk memulihkan biaya informasi." Mengenai akses universal mereka berpendapat kasus untuk pencocokan hibah ke berbagai lembaga dalam masyarakat untuk mengembangkan infrastruktur informasi. Mereka mengutip pandangan Andrew Carnegie, yang mendanai construksi dari banyak perpustakaan umum di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.

Shapiro dan Varian berperan utama untuk pemerintah dalam melindungi hak cipta, paten, dan merek dagang, meskipun mereka tidak selalu puas dengan kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh pejabat publik di wilayah itu. Fleksibel mempertahankan hak milik kekayaan intelektual dan privasi adalah sebuah peran berharga yang ekonomis.

Dalam bidang persaingan, mereka sangat mendukung inisiatif federal untuk mendorong persaingan untuk memberikan barang dan jasa yang baru, lebih efektif, dan biaya yang efisien. Ini berarti mereka khawatir mengenai kemampuan pemerintah untuk mengatur industri informasi. Mereka melihat masalah-masalah yang telah mempengaruhi FCC, misalnya, dalam bidang kabel telepon dan regulasi, mereka merekomendasikan bahwa pemerintah mempromosikan perdagangan internasional dalam teknologi informasi. Ini juga merupakan masalah yang telah menimbulkan perdebatan, seperti yang kita lihat sekarang adalah mengenai masalah akses ke pornografi melalui Internet.

Sehubungan dengan Internet, konvergensi dari tekhnology menimbulkan beberapa masalah dari sudut pandang politik nasional dan kebijakan. Kenyataannya teknologi digital memungkinkan untuk berkumpul berbagai bentuk digital informasi berbasis platform yang tidak dapat dihentikan oleh pemerintah karena masalah tren. Tidak seperti di dekade sebelumnya, di mana sebagian besar inovasi mungkin terjadi dalam satu negara, perkembangan teknologi saat ini berasal dari berbagai negara, misalnya, Eropa dengan peralatan nirkabel atau informasi dari Asia Timur. Jadi tentu saja kunjungan ke situs Web FCC akan membuat terang-terangan jelas, karena isinya katalog-potong menurut jenis teknologi, (membiarkan kebijakan peningkatan hak dan akses yang memungkinkan).

Yang mendasari penggunaan informasi dalam setiap era telah ada pendidikan dan keaksaraan. Melek memungkinkan untuk membaca, dan walaupun banyak data di Amerika Serikat yang dalam bentuk suara dan gambar, sebagian besar dari apa yang kami gunakan dalam memberitahukan pekerjaan dan agama kami adalah tekstual. Amerika pada semua tingkatan harus terus fokus pada pemeliharaan keaksaraan. Terkait erat dengan keaksaraan dan peran informasi adalah pendidikan. Banyak orang memiliki komentar tentang nilai dan kebutuhan pendidikan, dan jelas ini adalah bangsa yang telah membuat investasi besar di sekolah-sekolah, akademi, dan universitas . Mahasiswa, dosen, adalah konsumen informasi, sehingga kami dapat berharap bahwa andalan mereka pada informasi dan dukungan mereka dalam pembentukan teknologi akan tetap pada tingkat yang sangat tinggi untuk masa yang akan datang. Memahami bagaimana menerapkan teknologi informasi, seperti Internet, akan terus taktis. Membuat hubungan antara teknologi informasi, seperti internet.Peralatan informasi inovatif, seperti berbagai perangkat genggam, yang datang dari Asia Timur, sementara Eropa Barat sekarang memimpin dunia dalam pengembangan dan penggunaan komunikasi nirkabel.

Pertanyaan pejabat publik mulai menghadapi busur luas dan terperinci: Apa yang harus menjadi kebijakan AS terhadap Cina, yang kadang-kadang diperbolehkan dengan musik dan industri film yang kembali memproduksi dan menjual materi hak cipta AS tanpa ijin dari penulis?

1. Apakah manfaat perang dagang? Bagaimana dengan perang militer?

2. Dalam teknologi pemerintah AS seharusnya menginvestasikan dana R & D?

3. Apakah pembaharuan Presiden George W. Hush dalam Star Wars sistem pertahanan peluru kendali cukup spin off penggunaan teknologi baru di sektor sipil bahwa inisiatif harus diinvestasikan lebih lanjut, melampaui alasan-alasan militer?

4. Ketika pemerintah Amerika melanjutkan misi bersejarah pembentukan adopsi bentuk-bentuk demokratis di seluruh dunia, apakah itu mempromosikan demokrasi yang representative dan direktif?

5. Pada saat praktek demokrasi AS yang perlahan-lahan mencampuran keduanya, apakah itu memunculkan pengalaman yang mempengaruhi kebijakan inisiatif bangsa luar negeri tertentu? Efek apa yang salah satu bentuk demokrasi miliki atas yang lain dalam satu bangsa lain, versus another?

6. Jika negara semakin disejajarkan oleh budaya dan agama dalam era post cold war, apa efek informasi teknologi pada kedua hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan kebijakan luar negeri mereka?

Pejabat publik sudah menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini; tidak ada masalah ini akan diabaikan semenjak dua dekade pertama pada abad ke-21.

Jika kita menyelami isu seperti keamanan fisik dan perdagangan dunia, itu berarti bahwa kita kembali ke nilai-nilai yang dibuat Info-Amerika tentang apa yang menjadi. Amerika Serikat dapat menggambarkan bahwa pada dasarnya nilai kebebasan berekspresi, kebebasan untuk mengeksploitasi informasi untuk nilai ekonomi, sebuah peran fasilitatif pemerintah dalam mendorong dan mempromosikan penciptaan informasi infrastruktur, b Amerika selalu memiliki keyakinan yang mendasar dalam nilai teknologi. Meskipun banyak kasus di mana teknologi telah menciptakan masalah, seperti polusi atau serangan terhadap privasi, kenyataannya adalah, Amerika kembali goyah dalam keyakinan mereka dalam teknologi. Mereka akan mencapai ke sana dalam segala bentuknya, termasuk informasi, untuk meningkatkan semua aspek kehidupan mereka. Manfaat memiliki keterbatasan melebihi kegemaran mereka untuk menggunakan teknologi. Untuk alasan itu, kita dapat berharap bahwa akan ada inovasi-inovasi baru baik dalam teknologi informasi dan bagaimana digunakan dalam tahun-tahun yang akan datang. Teknologi tetap menjadi ciri utama Amerika, suatu sikap yang mendukung informasi.

Karena ciri utama dari peran teknologi pada masyarakat amerika, penghargaan terhadap bagaimana orang Amerika mungkin menggunakannya di masa depan ditentukan oleh apa yang terjadi dengan alat-alat informasi. Sejarah teknologi informasi penuh dengan ujian, dan kita akan melalui fase seperti sekarang. Banyak dari dasar-dasar ilmu teknologi informasi undergirding masih baru, jadi kita hidup dalam masa di mana pengetahuan ini sedang diterapkan-dieksploitasi.

Daftar Pustaka

Chaffee, Steven H., Michael J. Petrick. 1975. Using the Mass Media, Communication Problems in American Society, New York: McGraw-Hill, Inc.

Cipto, Bambang, Politik dan Pemerintahan Amerika, Yogyakarta: Lingkaran, 2003

Clack, George (ed). 2000. United States Elections 2000, U.S. Department State, Office of International Information Programs

Crawford, Darlisa. 2004. Television Primary Information Source for Most 2004 Voters, http://usinfo.state.gov/dhr/Archive/2004/May/21-752499.html

DiClerico, Robert E., Allan S. Hammock (ed), Points of View, Readings in American Government and Politics, Fifth Edition, New York: McGraw-Hill, Inc.,1992

Dirgantara Online. Sejarah Radio di Amerika Setikat. http://dirgantara.idxc.org/dirga7/0704e.shtml, diakses tanggal 30 Nopember 2009

Election Focus 2004. 2004. Issue 1 no 11, May 21, 2004, Bureau of International Information Programs, The Department of State, Washington DC

Hall, Jane. 2000. Gore Media Coverage – Playing Hardball, http://archives.cjr.org/00/3/hall.asp,

Hart, Roderick P., Mary Triece. 2004. U.S. Presidency and Television, http://www.Museum.tv/archives/etv/U/htmlU/uspresiden/uspresiden.htm.

Hiebert, Ray Eldon, Donald F. Ungurait, Thomas W. Bohn. 1991. MASS MEDIA VI, An Introduction to Modern Communication, New York: Longman

Janda, Kennet, Jeffrey M. Berry, Jerry Goldman. 1987. The Challenge of Democracy, Government in America, Boston: Houghton Mifflin Company.

Jarvis, Sharon, Presidential Nominating Conventions and Television, http://www.museum.tv/archives/etv/P/htmlP/presidential/presidential.htm. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Jiwangga.com. Kebebasan dan Deokrasi. 2009. http://jiwangga.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25:kemerdekaan-dan-demokrasi-&catid=1:ideas&Itemid=3. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Kaid, Lynda Lee, Political Processes and Television, http://www.museum.tv/Archives/etv/P/htmlP/politicalpro/politicalpro.htm. Diakses tanggal 30 Nopember 2009

Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta: Rineka Cipta.

Martin, William. 1995. The Global Information Society. England: ASLIB Gower

Maulana, Yusuf. 2004. Kredibilitas Iklan Politik di Televisi, Kompas, Sabtu, 26 Juni 2004, hal. 5

Murti, Bambang Hari. 2000. “Peran Media Massa dalam Politik Luar Negeri Amerika Serikat”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol VI Januari-Juli 2000, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia

Party, Robert. 2000. Al Gore v. the Media, http://www.consortiumnews.com/2000/ 020100a.html

Pemerintahan Terbuka Vs Pemerintahan Tertutup. 2004.

http://www.yayasanhak.minihub.org/direito/txt/2003/24/04_direito.html. Diakses tanggal 1 Desember 2009

Pidato Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2006. http://pustakawan.pnri.go.id/uploads/karya/konseppeningkatandayasaingpadapelayananjasainformasidiperpustakaan.doc. Diakses tanggal 1 Desember 2009

Pontoh, Coen Husain. 2006. Demokrasi Amerika. http://coenpontoh.wordpress.com/2006/05/26/demokrasi-amerika-2/, diakses tanggal 30 Nopember 2009

Rivers, William L, Jay W. Jensen, Theodore Peterson. 2003. Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi Kedua, Jakarta: Kencana.

Solomon, Norman. 2004. Presidential Campaigns and Media Charades, http://www.Commondreams.org/views04/0618-05.htm

Suwardi, Harsono. 2000. “Media Massa dan Pemerintah di Amerika Serikat”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol VI, Januari-Juli 2000, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia

Swerdlow, Joel L. (ed). 1987. Presidential Debates 1988 and Beyond, Congressional Quarterly Inc.

Wayne, Stephen J., 1984. The Road to the White House, The Politics of Presidential Elections, New York: St. Martin’s Press

Zeffrey. 1997. “Sistem Media di Amerika dan Hubungan di antara unsur-unsurnya”, dalam Jurnal Studi Amerika, Vol III, Jan-Des 1997, Jakarta: Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia



[1] http://jiwangga.com/index.php?option=com_content&view=article&id=25:kemerdekaan-dan-demokrasi-&catid=1:ideas&Itemid=3

[2] http://www.yayasanhak.minihub.org/direito/txt/2003/24/04_direito.html

[3] http://dirgantara.idxc.org/dirga7/0704e.shtml

Tidak ada komentar: